Cahaya yang Tertunda

Ririn Nuraeni
Chapter #36

Chapter 36 - Harapan di Tengah Lelah

Ayla menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menoleh ke ibu yang masih duduk di sajadah.

“Bu…” panggilnya pelan.

Ibu menoleh. “Kenapa, Ay?”

Ayla mendekat sambil menunjukkan layar ponsel. “Teh Tia barusan ngechat… katanya bapak bilang matanya sakit lagi.”

Wajah ibu langsung berubah khawatir. Alisnya berkerut, tangannya refleks memijat pelipis sendiri.

“Ya Allah…” gumamnya. “Bapak seharian ini nggak minum obat ya… ibu juga lupa ngingetin.”

Ayla ikut cemas. “Emang obat Bapak yang dari klinik masih ada Bu?”

“Ada, Ay. Biasanya dibawa di tas ibu.” Ibu menunjuk tas yang tergeletak di kursi. “Coba kamu lihat Ay.”

Ayla langsung berdiri dan mengambil tas itu. Ia membukanya, mengobrak-abrik perlahan: dompet, mukena, botol minum kosong, plastik obat dari apotek tadi.

Beberapa detik kemudian

“Ini, Bu!” serunya kecil sambil mengangkat satu botol kecil obat tetes mata dan dua strip obat minum. “Ada.”

Ibu menghela napas lega. “Alhamdulillah… iya itu obat bapak.”

Belum sempat mereka memikirkan langkah selanjutnya, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan kontrakan.

Tak lama, suara salam menggema dari luar.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka hampir bersamaan.

Ayla melangkah membuka pintu.

Di depan berdiri Ka Taopik, masih mengenakan jaket kerja, helm di tangan.

“Oh, Kak Taopik,” sapa Ayla.

“Iya, Ay,” balasnya sambil tersenyum tipis. “Baru nyampe.”

Ibu langsung berdiri menghampiri.

“Pik… kebetulan kamu datang,” kata ibu cepat. “Ibu boleh minta tolong nggak?”

Ka Taopik mengangguk. “Kenapa, Bu?”

“Tolong anterin obat bapak ke rumah sakit ya. Tia ngasih tahu katanya mata bapak sakit lagi. Seharian ini bapak nggak minum obat, terus matanya juga belum ditetesin.”

Ka Taopik langsung mengangguk mantap. “Siap, Bu. Kakang anterin sekarang.”

Ia baru saja meraih helm

Tiba-tiba ponselnya berdering.

Nama Teh Tia muncul di layar.

Ka Taopik mengangkat.

> (“Assalamu’alaikum, Teh.”)

> (“Wa’alaikumsalam, Pik,”) suara Teh Tia terdengar agak tergesa.

> (“Pik lagi di mana? Udah pulang kerja belum?”)

> (“Udah, Teh. Ini lagi di kontrakan teteh… tapi mau ke rumah sakit nganterin obat bapak.”)

Di seberang sana terdengar napas Teh Tia agak berat.

> (“Obatnya nggak usah dianterin, Pik,”) katanya. > (“Jemput bapak aja ke sini.”)

Ka Taopik mengernyit.

> ( “Jemput bapak?”)

> (“Iya,” lanjut Teh Tia. “Teteh nggak bisa nganterin soalnya harus nungguin kakakmu. Mata bapak sakit, biar bapak istirahat aja di kontrakan.”)

Ka Taopik mengangguk meski Teh Tia tak bisa melihatnya.

> (“Oh… gitu ya, Teh. Yaudah, sekarang OTW ke sana.”)

> (“Iya, Pik. Makasih ya.”)

> (“Iya, Teh.”)

Telepon pun terputus.

Ka Taopik menurunkan ponselnya lalu menatap ibu dan Ayla.

“Teh Tia bilang bapak dijemput aja ke sini, Bu,” katanya. “Biar istirahat. Kakang langsung ke rumah sakit sekarang.”

Ibu mengangguk pelan, masih terlihat cemas. “Iya… tolong ya, Pik.”

“Iya, Bu.”

Ia berpamitan cepat, lalu melangkah keluar. Suara motor kembali menyala dan menjauh di lorong sempit depan kontrakan.

Ayla berdiri di ambang pintu beberapa detik, menatap ke arah jalan.

Di dalam dadanya, rasa tenang yang sempat datang selepas magrib kembali bergeser.

Digantikan oleh satu perasaan yang sama seperti sejak siang tadi

cemas.

Ibu duduk kembali di kursi sambil menarik napas panjang.

“Semoga bapak nggak kenapa-kenapa…” gumamnya lirih.

Ayla mendekat dan duduk di samping ibu.

“Aamiin, Bu…”

Di luar, langit Jakarta mulai gelap. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu.

Ovi yang sejak tadi duduk di lantai,tiba-tiba mendekat ke ibu.

“Nek…” panggilnya pelan. “Kakek kenapa kok matanya bisa sakit?”

Diva ikut nimbrung dari belakangnya.

“Iya, Nek…”

Ibu mengelus kepala Ovi dan Diva bergantian.

“Kakek itu sebelum ke Jakarta memang lagi sakit mata. Udah diperiksa dokter, cuma obatnya lupa diminum sama kakek… jadinya sekarang sakit lagi.”

Ovi langsung meringis. “Ya ampun… kasihan banget kakek. Semoga kakek cepet sembuh ya, Nek.”

“Aamiin,” jawab ibu lirih.

“Aamiin,” sambung Ayla.

Suasana sempat hening beberapa detik, dipenuhi doa-doa kecil yang terucap sederhana tapi tulus.

Tak lama kemudian, Ovi berdiri dan menghampiri Ayla yang duduk di dekat meja kecil.

“Bi…” katanya ragu-ragu. “Bi ngerti pelajaran bahasa Inggris nggak? Aku ada PR bahasa Inggris.”

Ayla menoleh sambil tersenyum tipis. “Bibi nggak terlalu ngerti, Vi… tapi mana coba lihat.”

Ovi langsung menyodorkan buku tulis dan buku paketnya.

Ayla membuka halaman yang ditunjuk.

“Oh… ini tentang simple present tense,” gumamnya sambil membaca soal-soalnya. “Biasanya dipakai buat ngomongin kebiasaan sehari-hari atau fakta.”

Ovi mengerutkan dahi. “Yang kayak… I eat rice every day gitu, Bi?”

“Iya, pinter,” jawab Ayla sambil tersenyum lebih lebar. “Nah, misalnya: I go to school every morning. Artinya aku pergi ke sekolah setiap pagi.”

Ia lalu menunjuk salah satu soal.

“Ini kan disuruh lengkapi kalimat pakai kata kerja yang benar. Lihat subjeknya dulu. Kalau he, she, atau nama orang, kata kerjanya biasanya ditambah -s atau -es.”

Ayla mengambil pensil.

“Contoh ya…

She ___ (play) in the yard every afternoon.

Jadi jawabannya: plays. Karena subjeknya she.”

Ovi mengangguk-angguk. “Ohhh…”

Ayla melanjutkan, menunjuk soal berikutnya.

“Kalau they atau we, nggak pakai s.

They ___ (study) English at school.

Jawabannya: study.”

“Terus kalau pakai kata tanya?” tanya Ovi penasaran.

“Nah, kalau pakai do atau does di depan, kata kerjanya balik ke bentuk asli.”

Ayla menulis contoh di pinggir buku.

“Does he like milk?

Bukan likes, tapi like.”

Ovi menatap tulisan Ayla dengan mata berbinar.

“Bibi kok ngerti sih…”

Ayla terkekeh kecil. “Ya… dulu Bibi juga belajar kayak gini.”

Diva ikut mendekat, mengintip buku Ovi.

“Bi… aku nanti kalau gede bisa jago Inggris juga nggak?”

“Bisa dong,” jawab Ayla lembut sambil mengusap kepala Diva. “Asal rajin belajar.”

Ovi kembali menunduk ke bukunya, mulai mengerjakan soal sambil sesekali melirik catatan yang dibuat Ayla.

Di sudut ruangan, ibu memperhatikan mereka dengan senyum tipis. Melihat Ayla menjelaskan pelajaran dengan sabar, seolah kegelisahan tadi sedikit tersamarkan oleh pemandangan hangat itu.

Di tengah kekhawatiran tentang bapak, Kak Riyan, dan semua hal yang belum pasti…

malam di kontrakan itu tetap menyimpan potongan kecil ketenangan.

Lampu-lampu putih koridor rumah sakit menyala terang, memantul di lantai keramik yang dingin. Malam membuat suasana di depan ruang ICU terasa lebih sunyi dibanding siang hari, meski langkah perawat masih sesekali terdengar melintas.

Ka Taopik datang dengan langkah cepat, helm di tangan, jaket kerjanya belum dilepas. Pandangannya langsung menemukan sosok Teh Tia yang duduk di kursi besi ruang tunggu.

Di sebelahnya… bapak.

Tubuh bapak sedikit condong ke depan. Tangannya sesekali mengusap pelipis, matanya tampak merah dan berkedip-kedip.

“Teh…” panggil Ka Taopik.

“Pak…”

Teh Tia menoleh cepat. “Pik.”

Bapak ikut mengangkat wajah. “Taopik…”

Ka Taopik mendekat lalu jongkok sedikit di depan bapak.

“Pak… matanya kenapa?”

Bapak menghela napas panjang.

“Perih… Pik,sakit banget”

Teh Tia langsung bicara, nadanya terdengar menahan emosi.

“Dari tadi teteh udah nawarin bapak buat periksa mata lagi di sini, Pik. Tapi bapak nolak terus.”

Bapak menggeser pandangan.

“Bapak nggak enak… takut ngerepotin.”

Ka Taopik mengernyit.

“Loh Pak… periksa dulu aja di sini. Abis periksa kita langsung pulang.Biar Bapak bisa istirahat di kontrakan”

Bapak menggeleng pelan.

“Nggak usah… bapak mau pulang aja.”

Teh Tia menarik napas panjang.

“Padahal kan nggak ada yang repot, Pak…”

Bapak menggeleng kepala " Gausah teh bapak gakpapa nanti juga membaik "

Ka Taopik berdiri perlahan.

“Yaudah Pak… kalau bapak maunya pulang, kita pulang sekarang. Tapi nanti sampai kontrakan langsung pakai obat tetes mata sama obatnya di minum ya.”

Bapak mengangguk kecil.

“Iya… Pik”

Teh Tia memandang bapak dengan wajah masih cemas.

Lihat selengkapnya