Cahaya yang Tertunda

Ririn Nuraeni
Chapter #37

Chapter 37 - Tanggung jawab yang Terbagi

Ponsel Ayla masih bergetar di tangannya ketika ibu menoleh dari kursi depan.

“HP kamu bunyi, Ay,” kata ibu heran. “Siapa yang nelpon kok nggak diangkat?”

Ayla menelan ludah. Ia melirik layar sekali lagi sebelum menjawab pelan, nyaris berbisik.

“Pak Rahmat, Bu…”

Ibu langsung menoleh lebih penuh. Alisnya terangkat.

“Pak Rahmat?”

Ayla mengangguk kecil.

Ibu menghela napas tipis. “Sini… biar ibu aja yang angkat.”

Ayla ragu sepersekian detik, lalu menyerahkan ponsel itu. Jantungnya masih berdebar ketika ibu menekan tombol hijau.

> (“Assalamu’alaikum…”)

Suara di seberang langsung terdengar.

> (“Assalamu’alaikum, Ayla… ini Pak Rahmat.”)

Ibu mengernyit tipis, lalu menjawab tenang.

> (“Wa’alaikumsalam, Pak… iya.”)

Di seberang terdengar jeda singkat.

> (“Eh… Bu Sarti ya?” ) kata Pak Rahmat, seolah mengenali suara ibu.

> (“Iya, Pak.”)

> (“Oh… kebetulan, Bu. Ini saya mau bilang… padi punya ibu yang dua petak itu sudah mateng. Kapan mau dipanen?”)

Ibu menoleh sekilas ke Ayla, lalu kembali menatap ke depan.

> (“Oh iya, Pak… nanti pulang dari sini,” ) jawabnya.

> (“Kalau bisa jangan kelamaan, Bu. Udah kematangan itu… kan saya juga butuh.”)

Kalimat itu membuat dada ibu sedikit mengencang.

Ia terdiam sepersekian detik.

Dalam hati, ibu bergumam.

Mungkin maksud Pak Rahmat… soal jatah 70 kilo itu. Tiap panen kalau utang belum lunas…

Lamunannya buyar ketika suara di seberang terdengar lagi.

> (“Halo… halo, Bu Sarti… kedengeran nggak?”)

> (“Iya, Pak. Kedengeran.”)

Pak Rahmat melanjutkan.

> (“Iya, Bu… secepatnya ya. Takut keburu kematangan itu padinya.”)

> (“Iya, Pak,” ) jawab ibu singkat.

> (“Yaudah… saya tutup dulu ya, Bu Sarti.

> ("Assalamu’alaikum.”)

> (“Wa’alaikumsalam, Pak Rahmat.”)

Telepon terputus.

Ibu menurunkan ponsel perlahan.

Ayla menatap wajah ibu dengan cemas.

“Bu… gimana?”

Ibu menyerahkan kembali ponsel itu.

“Padi di kampung udah mateng,” katanya pelan. “Disuruh cepet dipanen.”

Ayla mengangguk, meski pikirannya langsung melayang ke hal yang sama.

Tentang utang.

Tentang hasil panen yang selalu lebih dulu terbagi.

Tentang tujuh puluh kilo yang tak pernah absen tiap musim.

Bapak menoleh sedikit.

“Pak Rahmat?” tanyanya.

“Iya,” jawab ibu. “Ngabarin soal sawah.”

Bapak terdiam sejenak.

Ka Taopik yang duduk di samping bapak ikut menoleh.

“Udah waktunya panen ya, Bu?”

“ iya pik, katanya padinya udah mateng”

Ibu memandang keluar jendela.

Mobil GrabCar melaju stabil membelah jalanan pagi Jakarta. Dari kursi depan, abang pengemudi fokus menyetir, sesekali melirik spion.

Gedung-gedung tinggi melintas cepat, baliho besar berdiri di pinggir jalan, motor berseliweran di sela-sela mobil.

Tapi pikiran ibu melayang jauh.

Ke hamparan sawah di kampung.

Ke batang padi yang menguning.

Dan ke hitungan-hitungan lama yang selalu datang tiap musim panen.

Ayla menggenggam ponselnya lebih erat.

Dadanya terasa sedikit sesak.

Mobil terus melaju menuju rumah sakit.

Di luar, Jakarta pagi semakin ramai.

Di dalam, pikiran mereka semua berjalan ke arah yang sama

ke kampung,

ke panen,

dan ke beban lama yang belum benar-benar selesai.

Satu jam kemudian, mobil berhenti di depan rumah sakit.

“Alhamdulillah… sampai,” kata ibu lirih.

Mereka pun langsung turun. Ka Taopik mengeluarkan ponsel, membayar ongkos perjalanan, lalu mengucap terima kasih pada abang pengemudi.

Mobil GrabCar itu segera melaju pergi, menyatu kembali dengan arus kendaraan di depan rumah sakit.

Ibu menggenggam tasnya lebih erat.

“Ayo…”

Mereka masuk ke dalam gedung, melewati pintu kaca besar, lalu menuju lift.

Ka Taopik menekan tombol lantai dua.

Lift bergerak naik perlahan, diiringi dengung mesin yang pelan.

Tak ada yang banyak bicara.

Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Begitu pintu lift terbuka, lorong rumah sakit yang terang menyambut mereka.

Langkah mereka terhenti ketika melihat satu sosok berdiri tak jauh dari sana.

“Teh Tia,” panggil Teh Neng lebih dulu.

Teh Tia menoleh cepat.

“Neng… kamu ke sini juga?”

“Iya, Teh. Mau lihat kondisi Ka Riyan.”

Ibu langsung mendekat.

“Gimana sekarang, Teh?”

“Alhamdulillah, Bu… Pak,” jawab Teh Tia sambil menoleh ke ibu dan bapak. “Aa Riyan udah dipindahin ke ruang rawat biasa.”

Napas ibu terdengar lebih lega.

“Alhamdulillah…”

“Berarti udah bisa dilongok dong?” tanya Ka Taopik.

Teh Tia mengangguk kecil.

“Udah, Pik… tapi teteh izin dulu ya ke perawat.”

Ia melirik ke arah meja perawat di ujung lorong.

“Bentar.”

Teh Tia melangkah pergi, meninggalkan mereka berdiri di dekat dinding lorong.

Ayla memandang sekeliling.

Deretan pintu kamar berwarna putih berjajar rapi. Bau khas antiseptik tercium tipis di udara.

Ia menghela napas pelan.

Sebentar lagi…

Mereka bakal lihat Kak Riyan.

Dan entah kenapa, dada Ayla kembali terasa sedikit penuh.

Antara lega

dan cemas yang belum sepenuhnya hilang.

Teh Tia berjalan cepat ke meja perawat. Ia berbicara sebentar, lalu mengangguk-angguk beberapa kali sebelum kembali menghampiri mereka.

“Boleh,” katanya. “Tapi gantian ya. Jangan rame-rame dulu.”

Ibu langsung mengangguk.

“Iya, Teh.”

Ka Taopik menoleh ke bapak.

“Pak… pelan-pelan.”

Bapak mengangguk.

“Iya…”

Mereka pun berjalan menyusuri lorong hingga berhenti di depan sebuah pintu dengan papan nama kecil di sampingnya.

Teh Tia mengetuk pelan.

Tok… tok…

Tak lama kemudian, pintu dibuka dari dalam oleh seorang perawat.

“Silakan,” katanya ramah.

Teh Tia masuk lebih dulu.

Disusul ibu dan bapak.

Ka Taopik dan Teh Neng menyusul di belakang, sementara Ayla melangkah paling akhir.

Ruangan itu tidak terlalu besar.

Satu ranjang berada di tengah, dengan tirai putih di sisi kanan kiri. Monitor kecil di samping tempat tidur berbunyi pelan, garis hijau bergerak stabil di layar.

Di atas ranjang…

Kak Riyan terbaring.

Wajahnya pucat, tapi jauh lebih baik dibanding malam sebelumnya. Selang infus masih terpasang di punggung tangannya.

Matanya terbuka.

Begitu melihat mereka masuk, alisnya terangkat pelan.

“Pak… Bu…”

Ibu langsung mendekat.

“Riyan…”

Suaranya sedikit bergetar.

Bapak berdiri di sisi lain ranjang.

“Kamu gimana, Yan?”

Kak Riyan mencoba tersenyum.

“Udah mendingan, Pak…”

Teh Tia berdiri di samping kepala ranjang.

“Dokter bilang kondisinya stabil. Tinggal pemulihan.”

Ibu mengusap dada pelan.

“Alhamdulillah…”

Ayla berdiri di dekat pintu.

Ia menatap Kak Riyan beberapa detik.

Ada rasa lega mengalir perlahan di dadanya.

Ka Taopik mencondongkan badan sedikit.

“Cepet sembuh ka,biar bisa kumpul bareng lagi.”

Kak Riyan terkekeh pelan.

“Iya… iya…”

Teh Neng ikut tersenyum.

Kak Riyan melirik mereka satu-satu.

“Makasih ya… udah pada datang.”

Ibu meraih tangan Kak Riyan perlahan.

“Kamu istirahat yang bener. Jangan mikir aneh-aneh.”

“Iya, Bu…”

Perawat yang tadi membuka pintu berdiri di dekat tirai.

“Maaf, Bu… Pak… jangan lama-lama ya. Pasien masih harus banyak istirahat.”

Ibu langsung mengangguk.

“Iya, mbak maaf.”

Mereka mundur sedikit, memberi ruang.

Ayla masih berdiri diam.

Tatapan Kak Riyan tanpa sengaja bertemu dengannya.

Sesaat.

Ada sesuatu yang bergetar di dada Ayla.

Ia tersenyum kecil.

“Kak… semoga cepet sembuh.”

Kak Riyan menatapnya.

Lalu mengangguk pelan.

Lihat selengkapnya