Cahaya yang Tertunda

Ririn Nuraeni
Chapter #38

Chapter 38 - Pulang di bawah langit gelap

Begitu keluar dari pintu kaca rumah sakit, hawa panas Jakarta langsung menyergap wajah mereka.

Asap kendaraan tipis melayang di udara. Klakson bersahut-sahutan. Matahari siang berdiri tepat di atas kepala, membuat aspal di depan rumah sakit terlihat berkilat.

Ka Taopik berjalan sedikit di depan.

“Pak… halte busway nya di sana,” katanya sambil menunjuk ke seberang jalan.

Di seberang, terlihat jalur khusus bus dengan pembatas beton panjang. Di tengahnya berdiri bangunan halte berwarna abu-abu dengan atap kaca pintu masuknya berupa tangga naik dan ramp landai.

Ayla mengangguk.

Mereka menyeberang lewat zebra cross bersama beberapa orang lain,ada perawat berseragam, ibu-ibu membawa tas plastik, juga dua pegawai kantoran yang kemejanya sudah tampak basah oleh keringat.

Begitu sampai di depan halte, Ka Taopik berhenti sebentar.

“Nanti nggak beli tiket kaya kereta, Pak,” jelasnya.

“Pakai kartu tap di pintu masuk. Kakang punya.”

Bapak mengangguk. “Oh… gitu.”

Ayla memperhatikan.

Di pintu masuk halte, ada mesin kecil dengan layar dan sensor tap. Beberapa orang menempelkan kartu plastik bunyi bip terdengar tiap kali berhasil. Lalu pintu kaca otomatis terbuka.

Ka Taopik mengeluarkan kartu dari dompetnya.

“Pakai kartu ini bisa buat bertiga. Tinggal tap tiga kali.”

Ia menempelkan kartu.

Bip.

Lampu hijau menyala.

Lagi.

Bip.

Sekali lagi.

Bip.

“Yuk.”

Mereka masuk ke dalam halte.

Di dalam, udara sedikit lebih sejuk karena kipas besar menempel di langit-langit. Beberapa penumpang berdiri di dekat marka kuning, menunggu bus datang. Ada papan digital di atas yang menampilkan rute dan perkiraan waktu kedatangan.

Ayla membaca cepat.

Koridor… arah barat… 3 menit.

Tak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara mesin besar mendekat.

Bus panjang berwarna biru-merah khas TransJakarta meluncur di jalur khusus, lalu berhenti tepat di depan peron.

Pintu geser terbuka dengan bunyi mendesis.

Beberapa penumpang turun dulu.

Baru setelah itu orang-orang naik.

Ka Taopik memberi isyarat.

“Yuk, Pak… Ay…”

Mereka masuk bersama arus.

Di dalam bus, hawa AC terasa menyenangkan setelah panas di luar, tapi suasananya cukup padat. Beberapa orang berdiri berpegangan pada tiang besi. Ada yang sibuk menatap ponsel, ada yang memejamkan mata.

Ayla menoleh cepat.

Dua kursi kosong berdampingan di sisi jendela.

Ia menarik lengan Bapak pelan.

“Pak… sini.”

Bapak duduk lebih dulu, disusul Ayla di sampingnya.

Ka Taopik tidak kebagian tempat duduk.

Ia berdiri di dekat mereka, satu tangan memegang pegangan atas, tubuhnya sedikit condong mengikuti gerak bus.

“Gapapa, Kakang berdiri aja,” katanya ringan.

Bus melaju.

Di luar jendela, deretan mobil pribadi tampak merayap pelan di jalur biasa, jauh lebih macet dibanding jalur busway yang relatif lancar.

Ayla menatap keluar.

Gedung perkantoran tinggi berganti toko-toko kecil. Pohon-pohon di pinggir jalan terlihat layu oleh terik.

Jakarta siang itu benar-benar panas.

Meski di dalam bus sejuk, Ayla masih bisa merasakan hangat matahari menembus kaca.

Ia melirik Bapak.

Bapak bersandar sedikit di kursi, matanya setengah terpejam, mungkin lelah.

Ka Taopik menoleh ke mereka.

“Nanti turun di halte dekat pasar kecil… dari situ naik angkot ke kontrakan Teh Tia.”

“Oh iya ka” jawab Ayla pelan.

Beberapa halte dilewati.

Setiap kali berhenti, pintu terbuka orang naik dan turun lalu bus kembali melaju.

Sekitar lima belas menit kemudian, Ka Taopik berdiri lebih tegak.

“Nah… ini udah mau nyampe.”

Bus melambat.

Di papan atas muncul nama halte berikutnya.

Begitu berhenti, Ka Taopik menunjuk.

“Turun sini, Pak.”

Ayla dan Bapak berdiri.

Mereka keluar bersama penumpang lain, kembali menginjak lantai halte yang panas oleh pantulan matahari dari atap kaca.

Bus menutup pintu dan meluncur pergi.

Di luar halte, suara kota kembali menyergap mesin motor, klakson, pedagang kaki lima yang memanggil pembeli.

Mereka turun lewat tangga halte ke trotoar.

Ka Taopik melirik sekitar.

Di pinggir jalan terlihat deretan angkot warna hijau tua berhenti sebentar-sebentar, sopirnya berteriak menawarkan tujuan.

Di kaca depannya tertulis rute dengan cat putih.

Ka Taopik mengangkat tangan.

“Bang!”

Angkot itu berhenti.

Sopir menoleh dari balik setir.

“Mau ke arah dalam nggak, Bang?”

“Masuk gang arah kontrakan ?” tanya Ka Taopik.

Sopir mengangguk. “Iya, naik.”

Mereka masuk.

Bapak naik dulu, lalu Ayla.

Bangku panjang di dalam angkot dilapisi kulit sintetis yang sudah agak retak-retak. Kipas kecil menempel di sudut depan, berputar pelan, hampir tak terasa.

Ka Taopik duduk di dekat pintu.

Angkot kembali melaju, menyelip di antara motor dan mobil.

Udara panas langsung terasa lagi jauh berbeda dengan AC busway tadi.

Ayla menyeka keringat di pelipisnya pelan.

Jalanan mulai mengecil.

Dari jalan besar, mereka masuk ke area yang lebih padat ruko-ruko, bengkel motor, warung makan, dan kios pulsa berdiri rapat.

Motor parkir di pinggir jalan.

Anak-anak berlarian di gang kecil.

Beberapa menit kemudian, Ka Taopik mencondongkan badan ke depan.

“Bang… nanti turun depan gang ketapang ya.”

“Oke.”

Angkot melambat.

Begitu sampai di depan sebuah gang sempit dengan pohon ketapang besar di sisinya, Ka Taopik mengetuk besi pembatas.

“Stop, Bang.”

Angkot berhenti.

Mereka turun.

Ka Taopik membayar ongkos, lalu menutup pintu geser.

Angkot itu langsung tancap gas lagi.

Ka Taopik menoleh ke Ayla dan Bapak.

“Alhamdulillah bentar lagi nyampe pak, ay”

Ayla mengangguk.

Ia menatap ke dalam gang sempit itu deretan rumah petak berdempetan, jemuran menggantung di depan pintu, suara televisi bercampur obrolan warga.

Ia menarik napas pelan.

Sebentar lagi…Mereka bakal sampai.

Dan setelah itu, bersiap untuk pulang ke kampung.

Ayla menggenggam ponselnya di tangan.

Di kepalanya, rencana-rencana mulai berputar.

Tentang perjalanan sore nanti.

Tentang sawah,Tentang panen, Dan tentang dirinya sendiri. 

Mereka berjalan menyusuri gang sempit itu beberapa puluh meter.

Ka Taopik berhenti di depan sebuah rumah petak.

“nyampe juga.”

Ia mengeluarkan kunci dari saku celana, lalu menyelipkannya ke lubang kunci.

Klek.

Pintu terbuka.

Ka Taopik mendorongnya pelan.

“Masuk, Pak… Ay…”

Bapak melangkah duluan.

Disusul Ayla.

Ka Taopik masuk paling akhir dan menutup pintu kembali.

Di dalam terasa sedikit lebih sejuk dibanding luar, meski tetap pengap khas siang hari. Ruangan kecil itu rapi. 

Ka Taopik menaruh sandalnya.

Lihat selengkapnya