Cahaya yang Tertunda

Ririn Nuraeni
Chapter #39

Chapter 39 - Panen,Bisik, dan Sebuah cerita

Sosok yang berdiri di ambang pintu itu melangkah maju ke bawah cahaya lampu teras.

“Bapak… Ayla… kalian udah pulang?”

Ayla menyipitkan mata sebentar, lalu tersenyum lega.

“Teh Yuli…”

Istri Ka Raka itu berdiri dengan kerudung sederhana dan sweater tipis, wajahnya tampak sedikit terkejut sekaligus senang. Lampu rumah menyala hangat di belakangnya, menerangi halaman yang tadi gelap.

Bapak ikut tersenyum.

“Yuli?”

Belum sempat percakapan lanjut, langkah kecil terdengar dari dalam.

Tania berlari kecil ke arah pintu.

“Kakek! Bibi! Udah pulang?” serunya ceria.

Ia langsung menyalami Bapak lebih dulu, mencium tangannya dengan takzim, lalu beralih ke Ayla.

Ayla membalas salaman itu dengan senyum lelah tapi hangat.

“Iya, Nia… baru sampai.”

Teh Yuli mendekat sedikit.

“Ibu udah ngasih tau Bapak belum kalau Yuli disuruh nginep di sini?”

Bapak menggeleng pelan, masih terlihat agak heran.

“Belum, Yul… makanya Bapak tadi sempat kaget. Kirain siapa, hehe,” katanya ringan.

Teh Yuli tersenyum tipis, lalu menjelaskan dengan nada lebih serius.

“Waktu pulang dari rumah orang tua Yuli, rumah Yuli tanahnya retak, Pak… akibat hujan terus-terusan. Yuli jadi khawatir.”

Ia menarik napas sebentar.

“Yuli ke sini mau bicara sama Ibu, tapi rumah udah sepi. Ketemu sama Bi Tutih. Kata Bi Tutih, mending Yuli sama Tania tinggal di sini dulu sementara, sampai musim hujan agak reda. Takutnya longsor, katanya. Nanti Bi Tutih yang bilangin ke Ibu lewat HP.”

Bapak mengangguk pelan, wajahnya berubah lebih serius.

“Iya… iya… kalau tanah udah retak itu bahaya.”

Teh Yuli melanjutkan.

“Terus Yuli juga dapet kabar… katanya Bapak, Ibu, sama Ayla ke Jakarta ya? Nemenin Ka Riyan operasi pasang ring jantung?”

Ayla dan Bapak saling pandang sebentar.

Bapak menjawab lebih dulu.

“Iya, Yul.”

“Sekarang keadaannya gimana, Pak?” tanya Teh Yuli cepat.

“Ibu juga kok nggak pulang bareng?”

Ayla maju sedikit, menjawab dengan lembut.

“Kalau kondisi Ka Riyan, Alhamdulillah sekarang udah mendingan, Teh,” lanjut Ayla. “Udah dipindahin ke ruang rawat biasa. Ibu belum bisa pulang dulu… Ibu mau nungguin Ka Riyan sampai benar-benar pulih katanya.”

Wajah Teh Yuli tampak lega.

“Alhamdulillah kalau gitu…”

Angin malam berembus pelan, membuat daun-daun di sekitar rumah bergesekan halus.

Teh Yuli lalu tersenyum dan mempersilakan.

“Yaudah, Pak… Ay… ayo masuk. Udah malam.”

“Iya, Teh,” jawab Bapak sambil tersenyum.

Mereka melangkah masuk ke dalam rumah.

Ruangan terasa hangat oleh lampu kuning dan aroma kayu yang lembap setelah lama ditinggal. Beberapa barang sudah tertata rapi rupanya Teh Yuli dan Tania sudah membereskan sebagian rumah.

Tania berdiri di dekat Ayla.

“Bibi capek ya?” bisiknya polos.

Ayla tersenyum kecil.

“Lumayan, Nia… tapi senang udah sampai.”

Bapak duduk di kursi ruang tengah, menarik napas panjang.

“Alhamdulillah… rumah sendiri tetap paling enak.”

Di luar, suara jangkrik masih bersahutan.

Malam kampung terasa tenang.

Namun di hati mereka masing-masing, banyak hal masih berputar.

Tentang panen yang menunggu.

Tentang rumah Teh Yuli yang tanahnya retak.

Tentang Ibu yang masih setia menjaga Ka Riyan di rumah sakit.

Dan tentang hari esok…

yang akan segera datang bersama embun pagi di atas sawah mereka.

Setelah berganti baju, Ayla membuka pintu kamar pelan-pelan.

Ruang tengah remang oleh lampu kecil yang masih menyala. Di kursi kayu dekat meja, Bapak terlihat tertidur dengan kepala sedikit menunduk.

Ayla mendekat.

“Pak… Pak…” panggilnya pelan sambil menyentuh bahu Bapak.

Bapak terbangun, berkedip beberapa kali.

“Hm… iya, Ay…”

“Bapak tidurnya di kamar, jangan di kursi, Pak.”

Bapak tersenyum kecil, wajahnya masih lelah.

“Iya, Ay… Bapak ketiduran.”

Ia langsung berdiri pelan, mengusap wajahnya, lalu berjalan menuju kamar tanpa banyak bicara.

Tak lama kemudian, Teh Yuli datang menghampiri Ayla dari arah dapur.

“Ay, mau makan dulu nggak? Teteh udah masakin sayur tahu campur toge.”

Ayla tersenyum tipis.

“Iya, Teh… makasih ya. Nanti makan. Sekarang mau sholat Isya dulu, belum sholat soalnya udah kemaleman.”

“Yaudah. Abis sholat sebelum tidur makan dulu ya.”

“Siap, Teh.” Ayla lalu bertanya pelan, “Eh, Tania mana? Udah tidur ya?”

“Iya, udah tidur dari tadi,” jawab Teh Yuli.

“Oh iya, Teh… yaudah, Ayla wudhu dulu ya.”

Ayla berjalan ke kamar mandi kecil di belakang dapur. Lantai papan kayunya berderit setiap kali diinjak.

Kriiit… kriiit…

Suara itu terdengar jelas di malam yang sunyi.

Setelah berwudhu, Ayla kembali ke kamar. Ia menggelar sajadah, lalu melaksanakan sholat Isya dengan tenang.

Gerakan demi gerakan terasa menenangkan setelah perjalanan panjang.

Usai berdoa, ia merapikan sajadah, lalu merebahkan tubuhnya di kasur tipis.

Tak terasa…

matanya terpejam.

Ia tertidur.

Sekitar pukul 04.45.

Suara adzan Subuh berkumandang dari masjid kampung.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Ayla terbangun perlahan. Ia meraih ponselnya dan melihat jam.

04.45.

Ia duduk, menarik napas dalam.

Dingin subuh kampung terasa menusuk sampai ke sela-sela jendela kayu.

Ayla bangun, berwudhu, lalu melaksanakan sholat Subuh.

Selesai sholat, ia duduk sebentar, lalu meraih obat TB paru tablet yang memang harus diminumnya rutin setiap pagi.

Ia menelan obat itu dengan segelas air.

“Alhamdulillah…” gumamnya pelan.

Pagi mulai datang.

Langit berubah keabu-abuan. Ayam berkokok dari berbagai arah. Udara terasa segar dengan embun tipis di halaman.

Di ruang tengah, Teh Yuli melihat Bapak sudah bersiap-siap. Bapak mengenakan caping dan membawa sabit kecil.

“Pak, mau ke mana?” tanya Teh Yuli.

“Mau ke sawah, Yul. Itu padi udah matang, udah siap dipanen.”

Teh Yuli tampak ragu.

“Tapi kan Bapak baru pulang tadi malam. Emang nggak capek?”

Bapak tersenyum tenang.

“InsyaAllah Bapak kuat, Yul.”

Teh Yuli mengangguk.

“Yaudah… Yuli bantuin panen padi ya, Pak.”

Ia lalu menghampiri Tania yang masih duduk di ruang tengah.

Lihat selengkapnya