Ayla mendengar suara teriakan Tania dari arah dapur.
“BIBIIII!”
Jantung Ayla langsung berdegup kencang. Ia bangkit cepat dan berlari ke dapur.
“Tania kenapa?!” tanya Ayla cemas.
Tania berdiri di dekat meja dapur, wajahnya basah oleh air mata. Di atas meja, wadah kue lapis sudah berantakan. Seekor kucing belang meloncat turun dari kursi, lalu kabur lewat jendela kecil yang terbuka.
“Kue lapis buatan Mamah… dimakan kucing…” ucap Tania terbata-bata sambil menangis.
Ayla terdiam sepersekian detik.
“Ya ampun… kirain ada apa,” gumamnya pelan, napasnya mulai teratur kembali.
Ia lalu mendekati Tania dan berjongkok sejajar dengannya.
“Udah, Nia… nggak apa-apa. Nanti kita bikin lagi aja ya,” kata Ayla lembut sambil mengusap punggung Tania.
“Beneran, Bi?” tanya Tania dengan mata sembab.
“Iya dong. Bibi bantuin. Kita bikin yang lebih enak lagi.”
Tania mengangguk pelan. Tangisnya mereda sedikit demi sedikit.
Ayla tersenyum kecil. Hal-hal sederhana seperti ini ternyata bisa membuat panik juga.
Ia lalu membereskan sisa kue yang berantakan, menutup jendela dapur, dan mencuci tangan.
“Nanti sore kita bikin ya, sekarang temenin Bibi dulu,” kata Ayla.
“Iya, Bi,” jawab Tania lebih tenang.
Suasana rumah kembali hening, hanya terdengar suara air mengalir dari kamar mandi .
Di pesawahan Matahari makin tinggi. Panasnya terasa menyengat kulit.
Bapak masih mengayunkan arit dengan sabar. Teh Yuli tak jauh dari sana, merontokkan padi dengan gerakan teratur.
“Pak…” panggil Teh Yuli pelan.
“Iya, Yul?”
“Kalau panen kali ini lumayan hasilnya, rencananya mau dipakai buat apa dulu, Pak?”
Gerakan tangan Bapak melambat. Ia menarik napas pelan sebelum menjawab.
“Sebagian… buat ngasih penghasilan ke Pak Rahmat dulu, Yul,” ucapnya pelan.
Teh Yuli menoleh.
“Utang Bapak sama Ibu ke Pak Rahmat belum lunas.”
Nada suara Bapak terdengar berat. Ia menunduk sebentar, memotong padi dengan lebih pelan dari sebelumnya.
“Terus nanti ke Bu Weni juga… entah berapa kilo yang bisa dikasih. Sama buat bayar bekas beli pupuk bulan lalu.”
Ia terdiam sesaat.
“Kalau ada sisa… baru disimpan.”
Teh Yuli tak langsung menjawab. Tangannya tetap merontokkan padi, tapi wajahnya berubah lebih serius.
Ia tahu betul bagaimana sulitnya hidup di kampung.
Di kampung kecil itu, mendapatkan pinjaman bukan perkara mudah. Apalagi kalau nominalnya besar.
Dulu, saat Bapak dan Ibu butuh uang untuk kebutuhan mendesak, mereka terpaksa menawarkan tambahan penghasilan kepada orang-orang yang mau meminjamkan. Bukan hanya mengembalikan pokok pinjaman, tapi juga menambah hasil dari panen sebagai bentuk “terima kasih” agar mereka bersedia membantu.
Tanpa jaminan.
Tanpa bank.
Hanya modal percaya… dan reputasi baik.
Namun tetap saja, rasanya berat.
“Pak…” ucap Teh Yuli pelan. “InsyaAllah cukup ya, Pak.”
Bapak tersenyum tipis, meski matanya tampak sayu.
“InsyaAllah, Yul. Yang penting kita usaha dulu.”
Angin siang berembus pelan, menggoyangkan padi yang tersisa.
Peluh menetes di pelipis mereka.
Musim panen memang membawa hasil.
Tapi juga mengingatkan pada tanggung jawab yang harus ditunaikan.
Langit mulai berubah jingga.
Tumpukan padi sudah tersusun rapi di atas terpal.
“Alhamdulillah… udah selesai,” kata Bapak lirih. “Tinggal dijemur dulu padinya biar kering.”
Teh Yuli berdiri sambil mengusap tangannya yang penuh serpihan jerami.
“Makasih ya, Yul… udah bantuin Bapak.”
“Iya, Pak,” jawabnya lembut. “Ini berapa lama keringnya, Pak?”
“Kalau cuaca panas banget, tiga hari juga udah kering, Yul. Tapi kalau mendung hujan terus, bisa-bisa seminggu lebih baru kering.”
Teh Yuli menatap langit yang masih cerah.
“Semoga panas terus atuh ya, Pak… biar cepat beres.”
“Aamiin.”
Bapak lalu berkata pelan, “Yaudah, kamu pulang duluan aja. Biar Bapak yang beresin semuanya.”
“Biar Yuli bantuin aja, Pak.”
“Udah nggak apa-apa. Kamu udah bantuin dari pagi.”
Akhirnya Teh Yuli mengangguk.
“Yaudah, Yuli pulang duluan, Pak.”
“Iya, Yul.”
Teh Yuli berjalan menyusuri pematang menuju rumah.
Sementara Bapak tetap berdiri di tengah sawah.
Sendirian.
Ia memandangi padi yang terhampar.
Di benaknya terbayang wajah Pak Rahmat.
Bu Weni.
Tagihan pupuk.
Dan kebutuhan rumah.
Ia menarik napas panjang.
“Ya Allah… semoga cukup,” gumamnya pelan.
Matahari perlahan turun.
Hari itu panen selesai.
Tapi perjuangan…
belum.
Sore turun perlahan di perkampungan kecil itu.
Langit berubah jingga keemasan. Awan-awan tipis seperti disaput warna orange lembut. Suara anak-anak terdengar riang bermain petak umpet di lapangan kecil dekat mushola. Beberapa ibu duduk di teras rumah sambil membersihkan sayur, berbincang ringan tentang hari yang baru saja dilewati.
Dari arah sawah, beberapa petani mulai berjalan pulang. Caping tergantung di punggung, cangkul dipikul santai. Bau jerami kering bercampur tanah basah masih terbawa angin sore.
Ayam-ayam berlarian kembali ke kandang.
Suasana kampung terasa damai.
Di Rumah Ayla
Ayla sedang menyapu bagian depan rumah ketika terdengar suara memanggil dari luar pagar.
“Ayla… Ayla…”
Ia menoleh cepat.
Ternyata Teh Yuli sudah pulang dari sawah. Wajahnya terlihat lelah, kerudungnya sedikit kusut oleh keringat dan debu jerami.
“Ay, tolong ambilin handuk. Teteh mau bersih-bersih,” katanya sambil tersenyum tipis.
“Iya, Teh. Sebentar.”
Ayla masuk ke dalam rumah, membuka lemari kecil di kamar, lalu mengambil handuk bersih.
Ia kembali ke depan.
“Ini, Teh… handuknya.”
Teh Yuli mengambilnya.
“Makasih ya, Ay.”
Tak lama, Teh Yuli langsung menuju kamar mandi di belakang untuk membersihkan diri.
Rumah kembali hening.
Tiba-tiba…
Terdengar dering ponsel dari dalam kamar Ayla.
Ayla bergegas masuk.
Ponselnya bergetar di atas kasur tipis.
Terlihat nama yang tertera: Ka Taopik.
Ayla langsung mengangkat.
> (Assalamu’alaikum, Ka.)
> (Wa’alaikumsalam, Ayla. Ini Ibu mau bicara.)
Ayla duduk di tepi kasur, sedikit tegang.
Tak lama terdengar suara lembut Ibu di seberang sana.
> (Assalamu’alaikum, Ayla. Ini Ibu.)
> (Iya, Bu… wa’alaikumsalam.)
> (Kamu nyampe jam berapa? Bapak gimana keadaannya sekarang? Ibu khawatir.)
Ayla menjawab tenang.
> (Kemarin malam udah sampai rumah, Bu. Bapak udah mendingan katanya. Tadi pagi malah langsung berangkat panen… dibantuin Teh Yuli.)
> (Teh Yuli ada di rumah? Bukannya lagi di rumah orang tuanya?)
Ayla lalu menjelaskan pelan dan runtut.
> (Teh Yuli udah pulang, Bu, pas kita lagi di Jakarta. Tapi waktu sampai rumahnya, tanah di sekitar rumah retak gara-gara musim hujan terus-terusan. Jadi khawatir longsor.)
> (ya allah…) gumam Ibu pelan.
> (Awalnya Teh Yuli mau bilang ke Ibu. Tapi rumah sepi. Ibu lagi di Jakarta. Terus ketemu Bi Tutih. Kata Bi Tutih, mending Teh Yuli sama Tania tinggal dulu di rumah kita sampai musim hujan reda.)
Beberapa detik hening.