"Aylaaa…”
Langkah Ayla terhenti di dekat pohon mangga besar. Ia menoleh.
Ternyata Bu Weni yang memanggilnya.
“Eh, Bu Weni… ada apa, Bu?” tanya Ayla sopan.
Bu Weni tampak sedikit ragu. Tangannya meremas ujung kerudungnya.
“Ini, Ay… ibu kamu udah pulang belum?”
“Belum, Bu. Tapi kata Ibu kemarin, kalau Ka Riyan sudah boleh pulang, hari ini atau besok Ibu juga pulang.”
“Oh… iya, Ay. Yaudah kalau gitu, Ibu duluan ya.”
“Iya, Bu,” jawab Ayla pelan.
Bu Weni tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan Ayla.
Ayla berdiri beberapa detik. Hatinya bertanya-tanya, tapi ia memilih tak banyak berpikir. Ia kembali berjalan menuju sawah.
Hari semakin siang.
Matahari mulai terasa menyengat. Udara yang tadi sejuk kini berubah panas.
Di pinggir sawah, Teh Yuli dan Tania duduk sambil mengipas-ngipas badan menggunakan caping atau topi anyaman bambu berbentuk kerucut yang biasa dipakai petani saat bekerja di sawah.
“Ay!” panggil Teh Yuli saat melihat Ayla datang.
“Teh, gabahnya udah dibalik?” tanya Ayla.
“Udah, Ay. Tinggal nanti sekali lagi.”
Ayla mengangguk lalu ikut duduk di samping mereka. Ia mengambil caping dan ikut mengipas wajahnya.
Peluh menetes di pelipis.
Angin siang berembus pelan.
Hamparan gabah berkilau kekuningan di bawah sinar matahari.
Sementara itu, di rumah kecil mereka…
Bapak duduk di teras papan depan. Di hadapannya ada secangkir kopi hangat yang masih mengepul tipis.
Sesekali ia mengucek mata.
Batuk kecil terdengar dari tenggorokannya.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah.
“Assalamu’alaikum…”
Bapak menoleh.
“Wa’alaikumsalam…” jawabnya sambil berdiri perlahan.
Ia membuka pintu.
Dan seketika wajahnya terkejut sekaligus bahagia.
“Ibu?”
Di depan pintu, Ibu berdiri dengan tas di tangan. Wajahnya tampak lelah tapi tersenyum hangat.
“Iya, Pak…”
“Kok udah pulang? Riyan gimana kondisinya? Siapa yang nungguin?”
Ibu masuk pelan ke dalam rumah.
“Alhamdulillah, Pak… kemarin malam Riyan sudah diizinkan pulang sama dokter. Kondisinya sudah membaik.”
Bapak menarik napas lega.
“Alhamdulillah…”
“Ibu khawatir sama Bapak… sama Ayla. Harus panen padi juga. Jadi Ibu bilang ke Riyan sama Tia. Alhamdulillah mereka ngerti.”
Bapak mengangguk pelan.
“Alhamdulillah kalau Riyan sudah pulang, Bu. Bapak juga senang dengarnya.”
“Ayo, Bu… masuk.”
“Iya, Pak.”
Ibu duduk di kursi kayu ruang tamu. Ia memandang sekeliling rumah yang sederhana itu.
Bapak duduk di depannya.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Tanpa banyak kata.
Tapi penuh rasa syukur.
Ibu bertanya ke Bapak, "Ayla di mana, Pak?”
“Lagi jemur padi sama Yuli di sawah,” jawab Bapak pelan.
“Oh iya…” Ibu mengangguk, wajahnya masih menyimpan lelah, tapi hatinya terasa ringan.
Berganti suasana di sawah.
Ayla dan Teh Yuli terus membolak-balik gabah menggunakan garu kayu panjang yang biasa dipakai untuk meratakan dan membalik jemuran padi. Setiap kali garu ditarik, butiran gabah bergeser, menimbulkan suara gemerisik halus.
Tania duduk di pinggir sawah beralaskan karung beras. Ia memeluk lututnya sambil memandangi Ibu dan bibinya dari kejauhan, sesekali memainkan ujung karung dengan jemarinya.
Teh Yuli berhenti. Ia menghela napas panjang lalu mengambil botol minum yang dibawanya dari rumah.
“Yah… habis,” gumamnya pelan setelah menggoyangkan botol itu.
Ayla menoleh.
“Yaudah, Teh. Aku ambil dulu air ke rumah ya. Nanti balik lagi.”
Teh Yuli mengangguk. “Hati-hati, Ay.”
Ayla pun berjalan menyusuri pematang sawah. Angin siang bertiup pelan menerpa wajahnya yang basah oleh keringat.
Sesampainya di rumah, tanpa mengucap salam dan tanpa mengetuk pintu, Ayla langsung membuka pintu.
Ia tertegun.
“Ibu?”
Di ruang tengah, Ibu sudah duduk bersama Bapak.
“Ibu udah pulang? Ka Riyan udah mendingan, Bu?” tanya Ayla cepat, matanya berbinar.
“Iya, Ay. Ibu baru aja sampai. Alhamdulillah, Ka Riyan sudah mendingan. Malah sekarang sudah pulang, sudah nggak dirawat di rumah sakit lagi.”
“Alhamdulillah…” Ayla tersenyum lega.
“Teh Yuli mana?” tanya Bapak.
“Masih di sawah, Pak. Ini juga aku pulang mau ambil air,” jawab Ayla sambil menunjukkan botol minumnya yang kosong.
“Oh gitu. Yaudah, bilangin sama Teh Yuli kalau capek pulang aja. Biar nanti Ibu yang lanjut jemur padi.”
Ayla mengerutkan kening. “Tapi kan Ibu baru pulang…”
“Nggak apa-apa, Ay,” jawab Ibu lembut.
“Yaudah nanti Ayla bilangin ya, Bu.”
“Iya”
Ayla langsung menuju dapur. Ia mengambil air dari teko besar dan mengisi penuh botol minumnya. Setelah itu, ia pamit.
“Ayla ke sawah lagi ya, Bu. Pak.”
“Iya, hati-hati,” kata Bapak.
“Jangan lari-lari di sawah” tambah Ibu mengingatkan.
“Iyaaa…” jawab Ayla sambil tersenyum.
Beberapa menit kemudian, Ayla sudah kembali di sawah.
“Teh!” panggilnya.
Teh Yuli menoleh.
Ayla menyerahkan botol minum. “Ini, Teh.”
Teh Yuli minum beberapa teguk panjang. “Alhamdulillah…”
“Ibu udah pulang teh ” kata Ayla tiba-tiba.
Teh Yuli terdiam sejenak. “udah pulang?”
“Iya barusan katanya.Ka Riyan juga udah pulang dari rumah sakit. Udah mendingan.”
Wajah Teh Yuli ikut berbinar. “Alhamdulillah…”
“Oh iya, Ibu juga bilang kalau teteh capek pulang aja. Nanti biar Ibu yang lanjutin jemur padi.”
Teh Yuli langsung menggeleng. “Nggak usah. Ibu baru pulang. Kita selesain aja bentar lagi juga kering.”
Ayla tersenyum kecil. Ia kembali mengambil garu dan membantu membalik gabah.
Matahari mulai sedikit condong ke barat. Warna langit perlahan berubah lebih hangat.
Di kejauhan, dari arah rumah, tampak sosok Ibu berjalan pelan menyusuri pematang sawah.
Ayla menyipitkan mata.
“Teh… itu kayaknya Ibu deh…”
Teh Yuli menoleh.
Dan benar saja.
Ibu datang menghampiri mereka, membawa kain kecil di tangannya, tersenyum melihat anak dan menantunya bekerja bersama.
Hati Ayla terasa hangat.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia merasa semuanya kembali lengkap.
Sore perlahan turun di kampung itu.
Langit yang sejak siang terik kini berubah warna. Jingga tipis sempat menyentuh ufuk barat, lalu perlahan tertutup awan kelabu yang datang bergerombol. Angin berembus lebih kencang dari tadi siang, membawa aroma tanah dan jerami kering.
Suara anak-anak kecil yang tadi bermain di jalan mulai terdengar samar. Beberapa ibu-ibu memanggil anaknya untuk segera pulang. Asap tipis mengepul dari dapur rumah-rumah panggung, pertanda waktu memasak sudah tiba.
Di kejauhan, suara burung-burung kembali ke sarang. Daun-daun pohon kelapa bergesekan, berdesir panjang.
Suasana kampung terasa lebih tenang. Tapi langit tampak tak bersahabat.
Di sawah, Ibu sudah berdiri di dekat Ayla dan Teh Yuli.
“Teh… , Ay… jemur padinya lanjut besok aja. Sekarang udah mendung. Kayaknya mau hujan,” kata Ibu sambil menatap langit.
Ayla ikut mendongak.
Langit sore itu gelap berlapis-lapis. Awan tebal menggantung rendah, warnanya abu-abu pekat hampir kehitaman. Angin bertiup lebih dingin, membuat ujung kerudung Ibu berkibar pelan.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kejauhan.