Pintu rumah tertutup pelan setelah Bu Weni pergi.
Suasana mendadak sunyi.
Ibu masih berdiri di ruang tengah. Tangannya terlipat di depan dada, pandangannya kosong menatap lantai papan. Wajahnya tampak lelah, bukan karena pekerjaan, tapi karena pikiran.
Bapak menghampiri perlahan.
“Bu… Bu Weni nagih hutang ya, Bu?” tanyanya pelan.
Ibu mengangguk.
“Iya, Pak… katanya akhir bulan ini harus dikembalikan. Buat pengobatan suaminya.”
Bapak menarik napas panjang.
“Gimana cara ngembaliinnya ya…” suara Ibu mulai bergetar. “Uang dari mana?”
Bapak berpikir sesaat.
“Gimana kalau kita jual padi aja dulu, Bu?”
Ibu langsung menoleh.
“Kalau padi dijual… terus kita mau ngasih ke Pak Rahmat gimana, Pak?” ucapnya lirih. “Kita juga masih punya hutang ke beliau. Apalagi hutang ke pak rahmat udah lama banget .”
Ia mengusap sudut matanya.
“Ke Bu Weni juga sama… beliau mau minjemin karena Ibu bilang nanti kalau panen ada penghasilan . Kalau sekarang habis buat satu hutang, yang lain gimana?”
Bapak terdiam.
Tak ada jawaban.
Di sudut ruangan, Ayla berdiri membeku. Ia mendengar semuanya.
Tentang hutang.
Tentang janji penghasilan pas panen.
Tentang kebingungan orang tuanya.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Ia berbalik pelan, lalu masuk ke kamar sebelum Ibu dan Bapak melihat wajahnya.
Pintu ditutup rapat.
Ia duduk di atas kasur tipisnya dan memeluk lutut.
Tangisnya pecah, tapi tanpa suara.
“Ya Allah…” bisiknya lirih.
Air matanya mengalir deras.
“Ya Allah… bantu hamba. Bantu orang tua hamba agar bisa melunasi semua hutang-hutang ini…”
Ia menarik napas dalam, dadanya terasa sesak.
“Ya Allah… hamba takut… takut kalau hutang ini malah jadi riba. Karena kalau minjem harus dijanjiin penghasilan dulu baru ada yang nolong…”
Suaranya gemetar.
“Hamba nggak mau orang tua hamba terjerat dalam sesuatu yang Engkau tidak ridhoi, ya Allah…”
Ia menunduk semakin dalam.
“Hamba ingin secepatnya melunasi hutang ini agar bisa lepas dari riba, ya Allah. Tolong beri jalan. Beri rezeki yang halal dan cukup. Beri hamba kekuatan untuk membantu orang tua hamba…”
Air mata membasahi tangannya.
“Kalau memang harus hamba yang berusaha lebih keras… hamba siap, ya Allah. Asal Ibu dan Bapak nggak sedih lagi…”
Di luar kamar, Ibu dan Bapak masih terdiam dalam kegelisahan masing-masing.
Sementara di dalam kamar kecil itu, seorang anak perempuan sedang berjuang dengan doa dan keyakinannya.
Pagi terus berjalan.
Matahari mulai naik lebih tinggi.
Dan di balik air mata yang jatuh, tumbuh tekad yang semakin kuat di hati Ayla
Ia tidak ingin hanya menangis.
Ia ingin mencari jalan.
Tangis Ayla perlahan mereda.
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. Dadanya masih terasa sesak, tapi pikirannya mulai berjalan.
“Nangis terus juga nggak bakal selesai…” gumamnya pelan.
Ia menoleh ke meja kecil di samping kasur.
Ponselnya tergeletak di sana.
Beberapa detik Ayla menatap benda itu.
Lalu ia meraihnya.
“Aku harus bantu Ibu sama Bapak buat bayar hutang,” katanya lirih, tapi kali ini suaranya lebih tegas.
Ia duduk lebih tegak.
Tangannya mulai membuka aplikasi WhatsApp.
Kalau cuma nunggu pembeli pulsa, kelihatannya lama…
Harus cari cara lain.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Barang-barang yang sering ibu-ibu pesan lewat dirinya di Shopee.
Kerudung.
Baju gamis.
Sepatu.
Sendal.
Perabotan rumah tangga kecil.
Selama ini ia hanya menunggu kalau ada yang tanya.
Sekarang… kenapa nggak ditawarkan saja?
Ayla membuka galeri. Ia mencari foto-foto produk dari toko online yang biasa ia pesan. Ia pilih yang modelnya bagus dan harganya terjangkau.
Satu per satu ia mulai membuat status WhatsApp.
Kerudung terbaru – bahan adem
Gamis simple – cocok buat pengajian
Sepatu wanita – model kekinian
Sendal rumahan – nyaman dipakai
Rak piring & perabot dapur murah
Ia menuliskan caption panjang dengan hati-hati:
OPEN PO ya, Bu 😊
Barang bisa dipesan lewat Ayla.
Harga sesuai aplikasi.
Estimasi datang 2–3 hari.
Yang mau, chat yaa 🤍
Setelah selesai, ia menekan tombol kirim.
Status pun terunggah.
Ayla menatap layar ponselnya.
Usahanya ini sederhana.
Ia hanya membantu memesankan barang lewat aplikasi Shopee. Kalau ada yang pesan, pembeli yang menyiapkan uangnya. Ayla hanya membantu order dan mengambil barangnya saat sampai.
Dari satu barang, ia biasanya dapat upah sekitar tiga ribu rupiah.
Memang kecil.
Tapi kalau banyak yang pesan?
Lumayan.
“Aku harus ngumpulin uang mumpung masih ada waktu,” gumamnya.
Ia menggenggam ponselnya erat.
“Semoga aja ada yang pesen…”
Beberapa menit berlalu.
Belum ada notifikasi.
Ayla menarik napas panjang. Ia mencoba sabar.
Di luar kamar, suara Ibu terdengar mencuci piring. Bapak mulai bersiap pergi sebentar ke sawah.
Waktu terasa lambat.
Tiba-tiba