Cahaya yang Tertunda

Ririn Nuraeni
Chapter #43

Chapter 43 - Harapan Enam puluh ribu

Ayla masih berdiri di halaman dengan sapu lidi di tangannya.

Ia mencoba tersenyum sopan meski dadanya terasa tegang.

“Masuk dulu aja, Bu…” ucap Ayla pelan.

Namun Bu Weni langsung menggeleng.

“Nggak usah, Ay. Nggak lama kok,” jawabnya singkat.

Bu Pitri juga ikut berkata, “Iya, cuma mau ngomong sebentar aja.”

Ayla menelan ludah. Ia merasa suasana itu tidak enak. Akhirnya ia meletakkan sapu lidi di samping dinding rumah.

“Iya, Bu. Sebentar ya… saya panggil Ibu dulu.”

Ia lalu masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat.

Di dapur, ibunya masih berdiri di depan kompor kecil.

“Bu…” panggil Ayla pelan.

“Iya, Ay?” jawab ibunya sambil menoleh.

Ayla ragu beberapa detik sebelum berkata, “Bu… di luar ada Bu Pitri sama Bu Weni. Mereka nyariin Ibu.”

Wajah Ibu langsung berubah.

“Kamu serius, Ay?”

Ayla mengangguk pelan.

“Iya, Bu… mereka lagi nunggu di luar.”

Ibu terdiam sesaat. Rasa kaget dan khawatir terlihat jelas di wajahnya.

Ia segera mematikan kompor.

“Ya Allah…” gumamnya pelan.

Tanpa menunggu lama, Ibu berjalan keluar rumah.

Begitu sampai di halaman, ia melihat Bu Pitri dan Bu Weni berdiri di dekat pagar bambu.

“Eh Bu Pitri… Bu Weni…” ucap Ibu sedikit gugup.

“Masuk dulu, Bu.”

Kedua perempuan itu saling pandang sebentar.

Akhirnya Bu Weni berkata, “Ya udah deh, bentar aja.”

Mereka pun masuk ke dalam rumah.

Ayla segera mengambil tikar dan menggelarnya di atas lantai papan lalu mempersilakan mereka duduk.

Setelah itu ia pergi ke dapur sebentar dan menyiapkan dua gelas air minum.

Ia membawa gelas itu dengan hati-hati lalu meletakkannya di atas meja kecil di ruang tengah.

“Ini, Bu… diminum dulu,” ucapnya sopan.

“Terima kasih,” jawab Bu Weni singkat.

Namun suasana tetap terasa tegang.

Belum lama duduk, Bu Pitri langsung membuka pembicaraan.

“Langsung aja ya, Bu Sarti. Tujuan saya ke sini ibu juga pasti udah ngerti.”

Ibu menunduk sedikit.

“Saya mau nanyain soal hutang ibu,” lanjut Bu Pitri.

Ibu menarik napas pelan.

“Emm… iya, Bu. Maaf sebelumnya. Saat ini memang belum ada uangnya… tapi lagi diusahakan,” jawabnya pelan.

Bu Weni ikut bicara.

“Maaf ya, Bu Sarti. Saya juga butuh banget uang itu. Kalau bisa jangan lewat minggu ini ya.”

Suaranya terdengar serius.

“Tolong ibu ngerti. Uang itu mau saya pakai buat berobat suami saya. Ibu juga kalau Pak Dirman sakit pasti sama kayak saya kan… bakal nagih hutang kalau lagi butuh.”

Ia menghela napas.

“Suami saya juga udah nanyain terus, Bu.”

Ibu mengangguk pelan.

“Iya, Bu Weni… saya ngerti. Saya juga lagi ngusahain uang buat bayar hutang ke Bu Weni. Cuma… kasih saya waktu ya, Bu, buat ngumpulin uangnya.”

Bu Weni berpikir sebentar.

“Ya sudah… saya kasih waktu seminggu lagi.”

Wajah Ibu langsung sedikit lega.

“Iya, Bu. Makasih banyak.”

Namun Bu Pitri masih diam sambil melihat sekeliling rumah.

Matanya perlahan berhenti pada sesuatu di dekat dapur.

Sebuah kulkas kecil yang berdiri di sudut ruangan.

Bu Pitri menatapnya beberapa detik.

Lalu ia berkata,

“Bu… maaf ya. Tapi hutang itu wajib dibayar.”

Ibu menoleh pelan.

“Selama ini saya sudah sabar loh,” lanjut Bu Pitri.

Ia menunjuk ke arah kulkas.

“Itu ibu punya kulkas kan? Kenapa nggak dijual aja buat bayar hutang ke saya?”

Ucapan itu membuat Ibu langsung menoleh ke arah kulkas.

Pandangan Ibu menjadi kosong beberapa detik.

Di dalam hatinya, sebuah kenangan muncul.

Kulkas itu…

Kulkas itu dibeli oleh Ayla.

Dulu saat masih sekolah di SMK, Ayla sering membantu seseorang menjual barang perabot rumah, alat dapur, macam-macam. Dari setiap barang yang berhasil ia tawarkan, Ayla mendapat sedikit upah.

Setiap hari uang itu ia kumpulkan.

Sedikit demi sedikit.

Berbulan-bulan.

Sampai akhirnya ia berhasil membeli kulkas kecil itu untuk rumah mereka.

Saat kulkas itu datang, Ayla sangat bahagia.

“Ibu sekarang bisa simpan lauk biar nggak cepat basi,” katanya waktu itu dengan wajah penuh senyum.

Namun setelah beberapa waktu, usaha Ayla berhenti karena orang yang biasa menyuruhnya menjual barang pindah ke kota lain.

Lamunan Ibu tiba-tiba terputus.

“Bu Sarti…” panggil Bu Pitri.

“Iya… Bu,” jawab Ibu pelan.

“Untuk kulkas itu… kulkas punya Ayla, Bu. Saya nggak berani jual.”

Bu Pitri mengerutkan kening.

“Kok Ayla bisa beli kulkas? Uang dari mana? Dia kan belum kerja.”

Ibu menjelaskan pelan.

“Dulu Ayla sering bantu orang jualin barang, Bu… kayak perabot gitu. Dapet upah. Nah upahnya dia kumpulin. Alhamdulillah akhirnya kebeli kulkas itu.”

“Oh…” kata Bu Weni pelan.

Namun Bu Pitri masih terlihat tidak puas.

Ia kembali berkata,

“Ya masa sih Ayla tega nggak mau bantu orang tuanya buat bayar hutang?”

Suasana di ruangan itu langsung terasa semakin berat.

“Dulu kan Bu Sarti sampai pinjam uang ke saya juga buat bayar sekolah Ayla.”

Ibu menunduk.

Dadanya terasa sesak.

“Emm… nanti saya bicara dulu sama Ayla ya, Bu,” jawabnya pelan.

Di sudut ruangan, Ayla berdiri diam.

Sejak tadi ia mendengar semuanya.

Tangannya terasa dingin.

Matanya tanpa sadar menoleh ke arah kulkas yang berdiri di dekat dapur.

Kulkas yang dulu ia beli dengan penuh perjuangan.

Suasana di ruang tengah masih terasa kaku.

Bu Weni kembali menatap Ibu.

“Oh ya, Bu Sarti… padi ibu katanya sudah panen ya?” tanyanya.

Ibu mengangguk pelan.

“Iya, Bu. Sudah panen. Sekarang juga sudah kering.”

Ia melanjutkan dengan hati-hati.

“Rencananya nanti kalau suami saya pulang dari sawah, padi itu mau dianterin ke rumah Bu Weni sama ke rumah Bu Pitri.”

Bu Weni mengangguk kecil.

“Padi itu buat penghasilan yang dulu ibu janjikan ya, Bu?”

“Iya, Bu,” jawab Ibu pelan.

Bu Weni menatapnya lagi.

“Ibu beneran ikhlas?”

Ibu tersenyum tipis walau terasa berat.

“Ikhlas, Bu. Waktu awal saya mau minjem uang kan saya juga sudah bilang… nanti kalau panen saya kasih penghasilan juga ke ibu. Jadi hari ini saya cuma mau nepatin janji.”

Bu Weni terlihat sedikit lebih tenang.

“Terima kasih ya, Bu Sarti.”

Ia lalu berkata lagi,

“Kalau boleh… biar suami saya saja yang ambil padinya ke sini.”

Ibu langsung mengangguk.

“Iya, Bu. Boleh.”

Di sudut ruangan, Ayla berdiri diam.

Kata-kata itu seperti menekan dadanya.

Di dalam hati, ia berbisik penuh kegelisahan.

Ya Allah… aku takut ini malah jadi riba…

Ya Allah… bantu hamba agar bisa secepatnya melunasi hutang-hutang ini…

Supaya Ibu dan Bapak tidak perlu lagi memberi penghasilan seperti ini…

Air matanya hampir jatuh.

Hamba tidak ingin orang tua hamba terlibat dalam sesuatu yang Engkau tidak ridhoi, ya Allah…

Sementara itu, Ibu kembali berbicara kepada Bu Pitri.

“Kalau untuk Bu Pitri… nanti biar suami saya yang anterin padinya ke rumah ibu ya.”

Namun Bu Pitri hanya diam.

Ia tidak menjawab apa-apa.

Beberapa detik kemudian Bu Weni berdiri.

“Ya sudah, Bu. Kalau begitu saya pamit dulu.”

Bu Pitri juga ikut berdiri.

“Iya, saya juga pamit.”

“iya bu,makasih udah mampir” kata Ibu pelan.

Ayla ikut mengantar mereka sampai ke pintu.

Tak lama kemudian kedua wanita itu berjalan pergi meninggalkan halaman rumah.

Rumah kecil itu kembali sunyi.

Ayla menutup pintu perlahan.

Lalu ia menoleh ke arah ibunya yang masih berdiri di ruang tengah.

“Bu…” panggil Ayla pelan.

Ibu menoleh.

“Iya, Ay?”

Ayla menunduk sebentar sebelum berkata,

“Bu… aku nggak apa-apa kok kalau Ibu mau jual kulkas buat bayar hutang.”

Ibu langsung terdiam.

Ayla melanjutkan dengan suara lirih,

“Daripada Ibu harus terus kasih penghasilan ke Bu Pitri sama Bu Weni… aku takut ini malah jadi riba, Bu.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Riba kan dosa…”

Ibu menarik napas panjang.

“Ibu juga sebenarnya nggak mau, Ay,” katanya pelan.

Ia menatap anaknya dengan mata penuh rasa bersalah.

“Tapi ibu juga terpaksa. Kamu tahu sendiri kan… di kampung ini susah cari pinjaman. Apalagi kalau jumlahnya besar. Biasanya harus dijanjiin penghasilan dulu baru ada yang mau minjemin.”

Ayla mengangguk pelan.

“Ya sudah… kita jual kulkas saja, Bu,” katanya lirih.

Ibu menatap ke arah kulkas itu lagi.

Di dalam hatinya terasa sangat berat.

“Ibu sebenarnya nggak tega, Ay… itu kan hasil jerih payah kamu.”

Beberapa detik Ibu terdiam.

Lalu tiba-tiba ia berkata,

“Coba kamu telepon Kak Taopik dulu.”

Ayla menoleh.

“Ibu mau bicara sama dia. Siapa tahu Kak Taopik punya uang simpanan. Ibu mau coba pinjam dulu.”

Ayla langsung mengangguk.

“Iya, Bu.”

Ia segera mengambil ponselnya.

Tangannya membuka daftar kontak.

Ia mencari nama Kak Taopik.

Setelah menemukannya, Ayla langsung menekan tombol panggil.

Ponsel itu berdering.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Namun tidak ada jawaban.

Beberapa menit kemudian panggilan terputus sendiri.

Ayla menatap layar ponselnya.

“Tidak diangkat…” gumamnya pelan.

Ia menoleh ke arah ibunya.

Lihat selengkapnya