Cahaya yang Tertunda

Ririn Nuraeni
Chapter #44

Chapter 44 - Dari Dapur kecil, Harapan di mulai

TIIITTTTTTTTTTT!!!

Suara klakson itu terasa memekakkan telinga.

Detik itu juga. Seseorang tiba-tiba menarik tangan Ayla dengan kuat dari belakang.

“Awas, Neng!”

Tubuh Ayla tersentak ke samping.

Ia hampir saja kehilangan keseimbangan saat tubuhnya ditarik ke pinggir jalan.

BRRRAKKK!!

Mobil yang tadi melaju kencang itu tiba-tiba berhenti mendadak hanya beberapa meter dari tiang listrik di pinggir jalan.

Ban mobil berdecit keras di aspal.

Beberapa orang yang ada di sekitar jalan langsung menoleh kaget.

“Astagfirullah!”

“Aduh hampir aja!”

Jantung Ayla masih berdetak sangat cepat.

Ia menoleh ke arah orang yang menarik tangannya.

Ternyata seorang ibu-ibu paruh baya yang tadi berdiri di pinggir jalan.

“Neng… nggak apa-apa?” tanya ibu itu dengan wajah khawatir.

Ayla masih sedikit terengah.

Namun ia segera mengangguk.

“Gak apa-apa Bu… makasih ya udah nolongin.”

Ibu itu menghela napas lega.

“Iya neng sama-sama. Lain kali kalau jalan hati-hati ya… jangan sambil main HP.”

Ayla menunduk sedikit, merasa malu.

“Iya Bu… maaf.”

Ibu itu tersenyum kecil.

“Ya sudah… ibu duluan ya.”

“Iya Bu.”

Tak lama kemudian ibu itu berjalan pergi meninggalkan Ayla.

Ayla masih berdiri beberapa detik di pinggir jalan.

Ia menoleh ke arah mobil yang tadi hampir menabraknya.

“Alhamdulillah…” gumamnya pelan.

Mobil itu tidak menabrak apa pun.

Tiang listrik di depannya juga masih utuh.

Pintu mobil terbuka.

Seorang lelaki keluar dari dalam mobil dengan wajah panik.

Ia langsung berjalan cepat menghampiri Ayla.

“Maaf! Maaf banget ya!” katanya dengan napas sedikit terengah.

“Teh nggak apa-apa?”

Ayla menggeleng pelan.

“Iya gak apa-apa, Pak.”

Lelaki itu terlihat sangat menyesal.

“Maaf banget tadi… tiba-tiba rem mobil saya kayak nggak berfungsi. Saya juga kaget.”

Ia mengusap keningnya.

“Untung bisa berhenti sebelum nabrak tiang.”

Ayla menoleh sebentar ke arah mobil itu.

Di dalam hatinya ia kembali bersyukur.

“Alhamdulillah semua selamat…” pikirnya.

“Gak apa-apa Pak,” kata Ayla lembut.

“Yang penting sekarang sudah berhenti.”

Lelaki itu mengangguk berkali-kali.

“Sekali lagi saya minta maaf ya.”

“Iya Pak gak apa-apa.”

Setelah memastikan Ayla baik-baik saja, lelaki itu kembali ke mobilnya.

Sementara Ayla menarik napas panjang.

Ia menatap sebentar ponsel di tangannya.

“Hampir aja…” gumamnya pelan.

Namun ia tidak ingin memikirkan hal itu terlalu lama.

Ayla kembali melanjutkan langkahnya menuju toko grosir.

Beberapa menit kemudian Ayla sampai di sebuah toko grosir kecil di pinggir jalan.

Di dalam toko itu terdapat banyak rak berisi berbagai kebutuhan dapur.

Ayla mengambil keranjang plastik kecil.

Ia lalu mulai mengambil barang satu per satu sesuai catatannya.

“Kacang hijau…”

Ia mengambil satu bungkus.

“Gula merah…”

Ia memilih beberapa potong.

“Santan instan…”

Lalu plastik es.

Tusuk cilok.

Tepung tapioka.

Kacang tanah

Setelah semua bahan sudah ada di keranjang, Ayla berjalan menuju kasir.

“Semua ini ya, Teh?” tanya penjaga toko.

“Iya.”

Penjaga toko menghitung cepat.

“Totalnya lima puluh lima ribu.”

Ayla membuka dompet kecilnya.

Ia menyerahkan uangnya.

Setelah menerima kembalian, Ayla mengambil kantong belanjaannya.

Hari sudah semakin siang.

Matahari terasa lebih terik.

Saat Ayla hendak keluar dari toko, ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Ting!

Notifikasi WhatsApp.

Ayla membuka pesan itu.

Nomor tidak dikenal.

Isi pesannya:

(Teh ada paket. Saya udah nunggu di atas.)

Ayla langsung mengerti.

Ia segera membalas.

(Oh iya Ka, tunggu sebentar ya. Nanti saya ke atas.)

Setelah itu Ayla pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah…

Ayla melihat ibu dan bapaknya sedang duduk berbicara di ruang tengah.

“Bu… Pak…” panggil Ayla.

Mereka berdua menoleh.

“Iya Ay?”

Ayla mengangkat kantong belanjaannya.

“Bu ini bahan-bahan buat jualan.”

Ibunya langsung melihat isi belanjaan itu.

“Wah lengkap juga.”

Ayla tersenyum kecil.

“Kita mau jualan hari ini apa besok aja, Bu?”

Ibunya berpikir sebentar lalu menjawab,

“Besok aja, Ay. Es kacang kan lama berubah dari cair ke beku.”

“Iya juga ya.”

“Iya. Jadi kita siapin malam ini aja.”

Ayla mengangguk.

“Iya deh Bu.”

Beberapa detik kemudian Ayla berkata lagi,

“Kalau gitu Ayla keluar dulu ya.”

“Mau kemana lagi Ay?” tanya bapaknya.

“Mau ambil paket pesenan ibu-ibu Pak… sekalian mau dianterin juga ke rumah mereka.”

Bapaknya mengangguk.

“Gak makan dulu?”

Ayla tersenyum kecil.

“Gak Pak, nanti aja. Masih kenyang.”

“Oh yaudah… hati-hati Ay.”

“Iya Pak.”

Ayla lalu pergi keluar rumah.

Setelah Ayla pergi…

Bapak menatap ke arah pintu rumah dengan wajah sedikit sedih.

“Ibu…”

“Iya Pak?”

“Bapak kasihan sama Ayla.”

Ibunya menoleh.

“Dia tuh masih berobat jalan… belum sembuh total.”

Suara bapak terdengar berat.

“Tapi demi bantuin kita dia kuat-kuatin diri.”

Ibu menunduk.

“Ibu juga kasihan Pak… lihatnya.”

Beberapa detik mereka terdiam.

Lalu bapak berkata lagi,

“Soal kulkas…”

Ibunya menoleh.

“Kulkas itu gak usah dijual, Bu.”

Ibunya sedikit terkejut.

“Pak?”

“Kulkas itu dipakai aja buat jualan Ayla.”

Bapak menghela napas.

“Itu kan hasil jerih payah Ayla dulu.”

Ia menatap lantai papan.

“Soal bayar hutang… biar nanti bapak yang pikirin caranya.”

Ibu terlihat ragu.

“Tapi kita sudah gak ada pilihan lain Pak… selain jual kulkas.”

“Minjem ke kakaknya Ayla juga mereka lagi gak punya uang.”

Bapak menggeleng pelan.

“Pasti ada jalan kok Bu.”

Ia berkata dengan lebih tegas.

“Nanti bapak mau coba pinjam ke saudara bapak.”

“Lagian kalau jual kulkas juga hutang kita belum tentu langsung lunas.”

Ibu terdiam.

Akhirnya ibu mengangguk.

“Iya Pak… kalau begitu kita coba dulu.”

Sementara itu di luar Ayla sedang sibuk mengantarkan paket pesanan ibu-ibu dari rumah ke rumah.

Ia berjalan dari satu rumah ke rumah lain.

“Ini paketnya Bu.”

“Iya Ay makasih ya.”

Setelah beberapa rumah…

Akhirnya semua paket selesai.

Lihat selengkapnya