Ayla masih duduk di atas kasurnya.
Ponselnya perlahan ia turunkan dari tangannya lalu ia letakkan di samping bantal.
Tatapannya kosong menatap lantai papan kayu kamar itu.
Beberapa detik ia hanya diam.
Sunyi.
Hanya terdengar suara jangkrik dari luar rumah dan sesekali suara daun yang bergesekan tertiup angin malam.
Ayla menarik napas panjang.
Lalu ia berkata pelan pada dirinya sendiri.
“Kenapa aku harus sedih…?”
Ia tersenyum tipis, tapi senyuman itu terasa dipaksakan.
“Aku kan… gak punya hubungan apa-apa sama Kak Damar.”
Ayla menunduk.
“Jadi harusnya aku gak perlu mikirin itu.”
Namun ekspresi wajahnya tidak bisa berbohong.
Matanya tetap terlihat sendu.
Mulutnya mencoba terlihat kuat, tapi hatinya terasa berbeda.
Ayla memejamkan mata sebentar.
“Ah… sudahlah.”
Ia lalu berbaring di kasur tipisnya.
Ayla mencoba memejamkan mata, berharap bisa langsung tertidur.
Namun pikirannya masih terus berputar.
Ia membalikkan badan ke kanan.
Kasur tipis itu sedikit berderit di atas lantai papan kayu.
Beberapa menit berlalu.
Masih belum bisa tidur.
Ayla kembali membalikkan badan ke kiri.
Ia menghela napas pelan.
Dari luar rumah terdengar suara jangkrik yang semakin jelas di tengah malam.
Angin malam masuk pelan dari celah jendela kayu kamar itu.
Ayla kembali memutar tubuhnya.
Ke kanan.
Ke kiri.
Berulang kali.
Namun kantuk belum juga datang.
Akhirnya Ayla berhenti bergerak.
Ia berbaring terlentang.
Matanya menatap langit-langit kamar
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Tanpa ia sadari…
Air mata perlahan keluar dari sudut matanya.
Satu tetes jatuh ke bantal.
Ayla tetap menatap langit-langit.
Ia tidak menangis keras.
Air matanya hanya mengalir diam-diam.
Di luar rumah…
Malam desa tetap berjalan tenang.
Angin malam berhembus pelan melewati sela-sela dinding papan rumah itu.
Dari kejauhan terdengar suara jangkrik bersahut-sahutan.
Langit di luar dipenuhi bintang.
Beberapa rumah tetangga sudah memadamkan lampu mereka.
Kampung kecil itu perlahan tenggelam dalam keheningan malam.
Di dalam kamar kecilnya, Ayla akhirnya tertidur tanpa ia sadari.
Tubuhnya masih terlentang di atas kasur tipis.
Beberapa jam berlalu.
Perlahan warna langit mulai berubah.
Hitam pekat berubah menjadi biru gelap.
Lalu…Suara adzan Subuh berkumandang dari masjid kecil di ujung kampung.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Ayla perlahan membuka matanya.
Ia berkedip beberapa kali lalu duduk di atas kasur tipisnya.
“Subuh…” gumamnya pelan.
Rasa sedih tadi malam sebenarnya belum benar-benar hilang.
Tapi Ayla tahu… hidupnya tidak bisa berhenti hanya karena satu perasaan.
Ayla berdiri lalu mengambil handuk kecil yang tergantung di dinding kamar.
Ia berjalan keluar menuju kamar mandi di belakang rumah.
Udara pagi terasa dingin.
Langit masih gelap kebiruan.
Di kamar mandi sederhana itu, Ayla mengambil air dari bak menggunakan gayung.
Ia mulai berwudhu.
Air dingin menyentuh wajahnya.
Ayla membasuh wajah, tangan, kepala, lalu kedua kakinya dengan tenang.
Setelah selesai berwudhu, Ayla kembali masuk ke dalam rumah.
Ia mengambil mukena dari gantungan di dinding kamar.
Di dalam kamar kecilnya, Ayla menggelar sajadah.
Ia lalu melaksanakan salat Subuh dengan khusyuk.
Gerakan demi gerakan ia lakukan perlahan.
Setelah selesai salat, Ayla duduk sejenak di atas sajadah.
Ia menundukkan kepala sambil berdoa pelan.
Beberapa saat kemudian Ayla bangkit lalu mengambil bungkus obat TB paru yang disimpan di atas meja kayu kecil di samping kasurnya.
Ia membuka plastik obat itu.
Di dalamnya ada tablet-tablet obat berwarna merah yang tersisa beberapa butir.
Ayla mengambil tiga tablet ke telapak tangannya.Ia lalu mengambil gelas berisi air putih.
Satu tarikan napas.
Ayla memasukkan ketiga tablet itu ke dalam mulutnya lalu meneguk air.
Ia menelan obat itu perlahan.
Setelah selesai, Ayla melihat kembali plastik obat yang hampir kosong.
Ia berkata pelan pada dirinya sendiri.
“Hari ini jadwal ambil obat ke puskesmas…”
“Obat bulan ini udah abis.”
Ayla lalu merapikan mukenanya sebelum keluar dari kamar.
Pagi di kampung itu masih terasa sejuk.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan di kejauhan.
Suara ayam berkokok bersahut-sahutan dari beberapa rumah warga.
Di dapur rumah kecil itu, api tungku kayu masih menyala.
Ibunya Ayla sedang sibuk menggoreng keripik singkong di dalam wajan besar.
Minyak panas mendesis setiap kali irisan singkong dimasukkan.
Crrr… crrr…
Aroma gurih keripik singkong mulai memenuhi dapur.
Ayla mendekat.
“Bu…”
Ibunya menoleh sebentar.
“Iya Ay?”
Ayla berkata pelan.
“Bu… nanti Ayla mau ke puskesmas ya. Mau ambil obat TB paru buat bulan kelima. Soalnya obat bulan ini sudah abis.”
Ibunya langsung mengangguk.
Ia tersenyum hangat.
“Oh Gak kerasa ya ay udah bulan ke lima alhamdulillah bentar lagi beres pengobatannya.”
Ayla juga tersenyum kecil.
“Iya Bu.”
Ibunya lalu berkata lagi sambil mengaduk singkong di wajan.
“Kamu kabarin Mang Udin ya. Jangan jalan kaki… nanti capek.”
Ia menunjuk meja kecil di dekat dapur.
“Ibu sudah siapin uang buat ongkos ojek sama buat administrasi di puskesmas.”
Ayla mengangguk.
“Iya Bu… makasih ya.”
Ibunya tersenyum lalu kembali fokus menggoreng keripik.
Tak lama kemudian bapak masuk ke dapur sambil batuk kecil.
“Ehem… ehem…”
“Ibu…”
“Iya Pak?” jawab ibu.
Bapak mengambil topinya yang sudah agak lusuh.
“Bapak berangkat nyangkul dulu ya di sawah Mas Toni.”
Ibunya sedikit terkejut.
“Ini masih terlalu pagi loh Pak.”
Ayla juga ikut berkata,
“Iya Pak.”
Bapak tersenyum kecil.
“Iya… bapak rencananya mau ngecek air dulu.”
Ia melanjutkan,
“Air di sawah kita kan lagi kering… gak ngalir.”
“Bapak mau lihat dulu ke sana. Habis itu baru ke sawah Mas Toni.”
Ibunya mengangguk pelan.
“Oh ya sudah… hati-hati ya Pak.”
“Iya Bu.”
Bapak lalu berjalan keluar rumah.
Pintu kayu rumah itu terbuka lalu tertutup kembali.
Di dapur kembali terdengar suara minyak mendesis dari wajan di atas tungku kayu.
Ibunya mengangkat keripik singkong yang sudah matang lalu menaruhnya di atas tampah besar untuk ditiriskan.
Ayla segera mendekat membantu.
Ia mengambil bumbu dari mangkuk kecil lalu menaburkannya ke atas keripik singkong yang masih hangat.
Aroma bawang putih dan garam langsung tercium.
Ayla mengaduk keripik itu perlahan supaya bumbunya tercampur rata.
Setelah agak dingin, Ayla mengambil plastik-plastik kecil bening yang sudah disiapkan di atas meja.
Ia mulai memasukkan keripik singkong sedikit demi sedikit.
Setiap plastik hanya diisi satu porsi kecil, cukup untuk dijual seribuan.
Setelah plastik terisi, Ayla merapikan bagian atas plastik itu.
Di dekat tungku sudah ada alat drek sederhana dari besi yang dipanaskan di atas api.
Ibunya mengambil alat itu sebentar lalu menempelkan bagian atas plastik.
Plastik itu langsung menyatu dan tertutup rapat.
“Yang ini udah,” kata ibu.
Ayla lalu menyusun plastik-plastik keripik itu di dalam keranjang.
Satu per satu.
Sementara itu ibunya kembali memasukkan irisan singkong mentah ke dalam minyak panas.
Crrr…
Minyak kembali mendesis.
Ayla kembali mengisi plastik kecil berikutnya.
Tak lama kemudian beberapa bungkus keripik kecil sudah tersusun rapi.
Ayla melihatnya sambil tersenyum kecil.
“Lumayan banyak juga ya Bu.”
Ibunya tersenyum sambil terus menggoreng.
“Iya Ay… nanti kalau anak-anak sekolah lewat pasti pada beli.”
Di dapur rumah papan itu, pagi semakin terasa hidup.
Suara minyak goreng, aroma singkong, dan kesibukan ibu dan anak itu mengisi awal hari mereka.
Matahari pagi sudah mulai naik.
Sinar hangatnya menyinari jalan kecil di kampung itu.
Beberapa anak terlihat berjalan menuju sekolah dengan seragam mereka.
Di pinggir jalan kampung, warung kecil milik Teh Rina sudah buka sejak pagi.
Rak kayu di depan warung dipenuhi berbagai barang kebutuhan sehari-hari.
Ada mie instan, gula, kopi sachet, sabun, hingga jajanan anak-anak yang digantung dengan tali rafia.
Tak lama kemudian Bu Weni datang ke warung sambil membawa kantong belanja kecil.
“Teh…” panggilnya.
Teh Rina yang sedang menyusun barang langsung menoleh.
“Iya Bu Weni.”
“Beli gula setengah sama teh sariwangi dua ya.”
“Iya siap Bu.”
Teh Rina segera mengambil gula dari karung besar lalu menimbangnya.
Setelah itu ia mengambil dua bungkus teh celup Sariwangi dari rak.
Sementara itu dari dalam rumah, Bu Ela ibunya Teh Rina keluar sambil membawa piring kecil.
Di tangannya ada beberapa cilok yang sedang ia makan.
“Eh Bu Weni…” sapa Bu Ela.
Bu Weni tersenyum.
“Eh Bu Ela, pagi.”
Matanya lalu melihat cilok di piring Bu Ela.
“Bu Ela bikin cilok ya?”
Bu Ela tertawa kecil.
“Bukan Bu Weni.”
Ia mengunyah cilok itu sebentar.
“Ini kemarin Rina beli cilok dari Bu Sarti. Gak habis.”
“Daripada basi, saya panasin lagi… saya makan aja.”
Bu Weni terlihat sedikit terkejut.
“Bu Sarti jualan cilok?”
“Iya Bu Weni,” jawab Bu Ela.
“Baru tahu ya?”
“Sudah lima harian jualan.”
“Sekalian jualan es kacang ijo juga.”
Bu Weni mengangguk.
“Oh… saya baru tahu Bu.”
Sementara itu Teh Rina sudah selesai menimbang gula.
Ia menyerahkan pesanan ke Bu Weni.
“Bu Weni, ini pesanannya.”
Bu Weni mengambilnya lalu memberikan uang.
“Iya teh, makasih.”
Bu Ela masih berdiri di dekat pintu sambil memakan ciloknya.
Ia tiba-tiba berkata lagi.
“Eh Bu Weni…”
“Iya Bu?”
“Bu Sarti kan punya utang ya ke Bu Weni… itu sudah dibayar belum?”
Bu Weni menghela napas kecil.
“Belum Bu.”
Ia melanjutkan pelan.
“Waktu itu sudah saya tanyain, diajak sama Bu Pitri.”
“Tapi katanya belum ada uang.”
“Saya kasih waktu mereka seminggu.”
Bu Weni menatap jalan sebentar.
“Paling besok saya tanyain lagi.”
Ia melanjutkan dengan nada sedikit kesal.
“Soalnya suami saya sudah marah Bu… pengennya uangnya cepat balik.”
Bu Ela langsung mengangguk.
“Iya atuh Bu.”
“Hutang mah memang wajib dibayar.”
Ia menggigit lagi ciloknya.
“Coba aja nanti ditanyain lagi.”
Di depan warung kecil itu…
Obrolan pagi ibu-ibu kampung terus mengalir santai.
Namun tanpa mereka sadari…
Nama Bu Sarti kembali menjadi bahan pembicaraan.
Dan kabar tentang hutang itu perlahan mulai beredar lagi di kampung kecil tersebut.
Pagi di kampung itu semakin ramai.
Di warung kecil milik Teh Rina, obrolan Bu Weni dan Bu Ela masih berlangsung sebentar sebelum akhirnya Bu Weni pamit pulang.
Sementara itu…
Di rumah Ayla, suasana dapur sudah mulai sepi.
Keripik singkong yang tadi digoreng sudah tersusun rapi dalam keranjang.
Beberapa plastik kecil berisi keripik terlihat tertata di atas meja.