Ayla menggenggam batang singkong itu kuat-kuat. Napasnya masih terengah.
“Bismillah…” gumamnya pelan.
Ia menarik lagi sekuat tenaga.
Krekk… krekk...
Tanah di sekitar akar mulai retak.
Ayla mengerahkan seluruh tenaganya.
Dan ...
BRUKKK!
Batang singkong akhirnya tercabut…
Namun tubuh Ayla kembali terjatuh ke belakang.
Kepalanya sedikit terbentur tanah kering.
“Akhh… sakit…” lirihnya sambil memegang kepala.
Batang singkong yang besar itu ikut jatuh dan menimpa kakinya.
Ayla meringis menahan sakit.
Dengan susah payah, ia mendorong batang itu dari kakinya.
Akhirnya terangkat.Ayla duduk di tanah, napasnya berat.
Kepalanya terasa pusing. Namun ia tetap memaksa tersenyum.
“Alhamdulillah… dapet juga…”
Ia lalu memisahkan umbi singkong dari batangnya. Satu per satu.
Namun saat selesai, ia menatap hasilnya.
Hanya tiga buah.
Ayla menghela napas.
“Ini belum cukup. Aku harus cabut lagi.”
Ia berdiri perlahan.
Tubuhnya terasa lemas.
Namun ia tetap memegang batang singkong lain.
“Bismillah…” Ia menarik lagi.
Tiba-tiba
Grrr…Grrr...
Suara gemuruh terdengar dari langit.
Ayla mendongak. Langit sudah gelap.
“Aduh… mau hujan…”
Angin bertiup lebih kencang.
“Harus cepet-cepet."
Rintik hujan mulai turun.Namun Ayla tetap mencabut.
Hingga hujan semakin deras…Membasahi tubuhnya.
Bajunya kotor oleh tanah.Hijabnya basah menempel di wajah.
Namun ia tetap bertahan.
Sementara itu. Di rumah…
Ibunya Ayla terbangun dari tidurnya.
Ia mendengar suara hujan di luar.
“Ya Allah…”
Ia langsung duduk, wajahnya cemas.
“Ayla…”
Ibunya segera berdiri lalu berjalan ke ruang tengah. Dan berlari ke kamar ayla
"Ya allah Ayla belum pulang." Ibu panik dan langsung mencari Bapak
“Pak… Pak…”
Namun tidak ada jawaban.Rumah terasa sepi.
Ibunya semakin panik.
“Bapak ke mana…”
Tak lama kemudian. Pintu depan terbuka.
Bapak masuk sambil membawa peci.
Ia baru pulang dari tajug setelah melaksanakan salat ashar.
“Ibu… kenapa?”
Ibunya langsung mendekat.
“Pak… Ayla belum pulang dari tadi, ibu khawatir pak… Di luar hujan…”
Bapaknya langsung terdiam.
Wajahnya berubah serius.
“Ya Allah…”
Tanpa banyak bicara, ia langsung mengambil payung.
“Yaudah bapak langsung jemput Ayla ya.”
"Iya pak hati- hati."
Mereka berdua berdiri di depan pintu.
Namun belum sempat melangkah jauh…
Ibunya menunjuk ke arah jalan.
“Pak… itu… Ayla!”
Bapak menoleh.
Di kejauhan terlihat Ayla berjalan pelan. Tubuhnya basah kuyup.
Bajunya kotor penuh tanah.
Di tangannya ia membawa singkong.
Langkahnya terlihat lemah.
Bapak langsung berjalan cepat menghampiri.
“Ayla!”
Ayla berhenti.
Ia menatap bapaknya.
Sedikit tersenyum.
“Pak… Ayla dapet singkong…”
Namun sebelum sempat bicara lagi
Bapaknya langsung berkata dengan nada tegas.
“Kamu kenapa belum pulang dari tadi?"
Ayla terdiam.
“Iya Pak maaf tadi Ayla."
“Udah mau hujan malah masih di sawah,ibu sama bapak khawatir sama kamu ay."
Nada suara bapak terdengar marah.
Tapi jelas penuh kekhawatiran.
Ibunya ikut mendekat.
Wajahnya cemas.
"Ya allah aylaa, kenapa kamu maksain nak."
Ayla menunduk.
“Iya Bu maaf…”
“Aku cuma mau ambil singkong buat besok jualan…”
Ibunya menghela napas.
Bukannya tambah marah, justru terlihat sedih.
“Kalau kamu kenapa-napa gimana, Ay…”
Suara ibu mulai pelan.
Ayla diam.
Ia tidak menjawab.
Bapak lalu mengambil singkong dari tangan Ayla.
“Sudah… masuk dulu.”
“Ayo!”
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah…
Ibunya langsung mengambil handuk.
Ia juga mengambil baju bersih dari lemari Ayla.
“Nih Ay… cepat mandi dulu.Nanti masuk angin.”
Ayla mengangguk pelan.
“Iya Bu…”
Ia berjalan ke kamar mandi.
Tubuhnya terasa berat.Kepalanya masih pusing.
Namun ia tetap berusaha berjalan.
Beberapa menit kemudian…
Ayla selesai mandi.
Ia sudah memakai baju bersih. Rambutnya masih sedikit basah.
Ia berjalan pelan menuju kamar.
Ibunya sedang merapikan tempat tidur.
“Ay… sini duduk dulu.” Ayla duduk di tepi kasur.
Bapak berdiri di dekat pintu.
Wajahnya masih terlihat khawatir.
Ayla mencoba tersenyum kecil.
“Gapapa kok Bu pak…”
Namun tiba-tiba…
Pandangan Ayla mulai kabur.
Suara di sekitarnya terasa menjauh.
“Bu…”
Tubuhnya tiba-tiba limbung.
Dan ...
Ayla terjatuh pingsan ke samping.
“Ayla!”
Ibunya langsung menangkap tubuh Ayla dengan panik.
Wajahnya langsung pucat.
Tangannya gemetar saat memegang tubuh anaknya.
“Ay… Ayla… bangun, Nak…”
Suaranya bergetar.
Hampir menangis.
Bapak yang melihat itu langsung mendekat dengan langkah cepat.
“Ayla kenapa?”
Nada suaranya tinggi bukan marah, tapi panik.
Mereka segera membaringkan Ayla di atas kasur.
Ibunya terus memegang pipi Ayla.
Menepuk pelan.
“Ay… denger Ibu… bangun…”
Namun tidak ada respon. Napas Ayla lemah.
Wajahnya pucat.
“Ya Allah…” lirih ibunya.
Air matanya mulai jatuh.
Bapak berdiri di samping kasur. Wajahnya tegang.
Ia mengusap wajahnya kasar, berusaha tetap tenang.
Namun matanya jelas penuh kecemasan.
“Badannya panas banget…” kata ibu dengan suara gemetar.
Bapak langsung mendekat, menyentuh dahi Ayla.
Ia terdiam sesaat.
Rahangnya mengeras.
“Kita bawa ke puskesmas sekarang bu”
Suaranya tegas, tapi terdengar tertahan.
Seolah menahan takut.
Ibunya mengangguk cepat.
“Iya Pak… iya…”
Tangannya masih menggenggam tangan Ayla erat.
Seolah takut kehilangan.
“Ya Allah… jangan kenapa-kenapa anak saya…”
Suasana kamar berubah mencekam.
Hanya suara hujan di luar yang terdengar.
Dan di dalam…
Dua orang tua yang diliputi rasa takut kehilangan.
Bapak menatap Ayla yang terbaring lemah di kasur.
Dadanya naik turun menahan panik.
Ia menoleh cepat ke arah istrinya.
“Bapak ke rumah Pak Udin dulu, minta tolong dianter.”
“Iya, Pak… cepat…” jawab Ibu tanpa berpikir panjang.
Bapak langsung meraih payung di sudut ruangan.
Tanpa sempat memakai jaket, ia berlari keluar rumah.
Hujan masih turun cukup deras.
Langkahnya cepat, hampir berlari kecil di jalan yang becek.
Sementara itu di dalam rumah…
Ibu memeluk tangan Ayla erat.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Ayla… bangun, Nak… jangan bikin Ibu khawatir…”
Suaranya lirih, penuh ketakutan.
Ia mengusap kening Ayla yang panas.
Sesekali menepuk pelan pipinya.
“Denger Ibu ya… Ayla kuat…”
Di luar…
Bapak akhirnya sampai di depan rumah Pak Udin.
Napasnya terengah-engah.
“Assalamu’alaikum… Udin!”
Suara Bapak terdengar panik.
“Assalamu’alaikum!” panggilnya lagi, lebih keras.
Pintu rumah terbuka.
Pak Udin keluar dengan wajah bingung.
“Wa’alaikumsalam, Pak Dirman… ada apa, Pak?”
“Ayla, Din… Ayla pingsan…”
Suara Bapak nyaris putus.
“Astaghfirullah…”
Wajah Pak Udin langsung berubah serius.
“Iya, Din… Bapak minta tolong… anterin Ayla ke puskesmas… sama ibunya…”
“Oh iya, bisa Pak! Bentar saya ambil jas hujan dulu!”
“Iya, Din… cepat ya…”
Pak Udin langsung masuk lagi ke dalam rumah.
Tak sampai satu menit, ia sudah keluar membawa dua jas hujan.
“Ayo, Pak!”
Bapak mengangguk cepat lalu naik ke motor.
Mesin dinyalakan motor langsung melaju menembus hujan.
Beberapa menit kemudian…
Mereka sampai di depan rumah.
Bapak langsung turun dan bergegas masuk.
“Ibu!”
Ibu menoleh cepat.
“Pak!”
Di atas kasur, Ayla mulai membuka mata pelan…
Namun wajahnya masih pucat dan lemas.
“Ayla…”
Bapak mendekat, suaranya lebih lembut sekarang.
“Kita ke puskesmas ya, Nak… ditemenin Ibu sekalian…”
Ibu langsung berkata pelan, ragu.
“Ibu nggak usah ikut, Pak… biar Ayla aja… uangnya juga pasti nggak cukup…”
Bapak menggeleng tegas.
“Ada, Bu. InsyaAllah cukup… Bapak baru dapat upah dari Mas Toni tadi.”
Ibu terdiam sejenak… lalu mengangguk.
“Iya, Pak…”
“Pak, ayo cepat!” teriak Pak Udin dari luar.
“Iya, Din!”
Bapak dan Ibu memapah Ayla perlahan keluar rumah.