Cahaya yang Tertunda

Ririn Nuraeni
Chapter #47

Chapter 47 - Saat harus melepaskan

“Ibu…!”

Ayla langsung mendekat saat melihat Ibu terus memegangi kepalanya sambil meringis kesakitan.

Tubuh Ibu sedikit oleng.

Ayla sigap menahan lengannya agar tidak jatuh.

“Bu… pelan-pelan…”

“Kepala Ibu… pusing banget, Ay…” suara Ibu terdengar lemah.

Ayla semakin panik.

“Ya Allah… Bu, sini… kita ke kamar dulu…”

Dengan hati-hati, Ayla menuntun Ibu berjalan.

Langkah Ibu berat.

Sesekali ia memejamkan mata, menahan pusing yang terasa berputar.

Ayla menggenggam lengannya erat.

Tak berani melepas.

Sesampainya di kamar, Ayla langsung membantu Ibu berbaring di kasur.

“Rebahan dulu ya, Bu… jangan dipaksain…”

“Iya…” jawab Ibu pelan.

“Bentar ya, Bu… Ayla ambilin air dulu…”

Ayla segera bergegas ke dapur.

Ia mengambil segelas air putih, lalu kembali ke kamar.

“Bu… minum dulu pelan-pelan…”

Ibu bangkit sedikit, dibantu Ayla, lalu meminum air itu.

Ayla duduk di sampingnya.

Wajahnya penuh khawatir.

“Bu… jangan terlalu banyak pikiran ya… Ibu juga masih sakit…”

“Iya, Ay…” jawab Ibu lemah.

Ayla mengambil minyak kayu putih dari meja kecil.

“Yaudah… biar agak enakan… Ayla pijitin ya pelipisnya…”

“Iya… makasih ya, Nak…”

Dengan lembut, Ayla memijat pelipis kepala Ibu.

Gerakannya pelan… penuh perhatian.

Beberapa menit berlalu. Napas Ibu mulai lebih teratur. Wajahnya tidak setegang tadi.

Hingga akhirnya. Ibu tertidur.

Di luar rumah. Hari semakin siang.

Di persawahan, para bapak terlihat sibuk mencangkul tanah.

Keringat membasahi tubuh mereka.

Beberapa ibu-ibu mengangkat jemuran yang sudah kering.

Ada juga yang membolak-balik padi yang dijemur.

Angin siang berhembus pelan.Hingga akhirnya, suara adzan Dzuhur berkumandang.

Di dalam kamar. Suasana terasa sunyi.

Ibu tertidur lelap.

Ayla masih duduk di sampingnya,menatap wajah Ibu dengan tatapan sedih, matanya mulai berkaca-kaca.

Dalam hati, ia bergumam,

"Maafin Ayla ya, Bu…”

"Sampai sekarang Ayla belum bisa bantu Ibu sama Bapak…”

Air matanya jatuh perlahan.Ia mengusapnya cepat.

Menarik napas dalam… Lalu menunduk.

"Aku harus bantu…”

Tatapannya perlahan berubah lebih kuat.

"Aku nggak bisa terus begini…”

Ia terdiam sejenak.

Berpikir.

“Berobat jalan tinggal satu bulan lagi…”

“Nanti bulan ke-6… aku harus mulai kerja…”

Ayla menggenggam tangannya sendiri.

“Aku harus mulai dari sekarang…”

"Siapin berkas… cari kerja…”

Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu.“TikTok…”

Matanya sedikit terbuka.

“Aku juga bisa jadi affiliator…”

“Sambil berobat jalan…”

Ayla langsung meraih ponselnya.

Ia membuka aplikasi TikTok.Matanya tertuju pada jumlah followers.

“400…”

Senyum kecil muncul.“Alhamdulillah… dikit lagi…”

Harapan kecil mulai tumbuh.

“Kalau ini berhasil…”

“Aku bisa punya penghasilan sendiri…”

“Aku bisa bantu Ibu sama Bapak…”

Ayla mulai membuka menu affiliate.

Membaca satu per satu.

Hingga tiba-tiba. Muncul notifikasi:

Lengkapi verifikasi akun.

Ayla membaca dengan serius.

“KTP… sama NPWP…”

Ia terdiam.

“Aku punya KTP… tapi belum punya NPWP…”

Ia berpikir sejenak.

Lalu berbisik pelan,

“Coba KTP dulu aja…”

Ayla bangkit. Berjalan ke sudut kamar.

Mengambil tas kecil miliknya. Membuka resletingnya.

Tangannya merogoh ke dalam…Mencari…

Hingga akhirnya

“Nah… ini…”

Ia menemukan KTP-nya. Ayla kembali duduk di kasur.

Ponsel di tangan kiri. KTP di tangan kanan.

Ia mulai mengikuti langkah-langkah verifikasi.

Mengambil foto KTP, mencari cahaya yang pas…

Lalu melanjutkan ke verifikasi wajah.

Beberapa saat terasa menegangkan.

Namun akhirnya

Verifikasi berhasil.

Ayla menghela napas lega.“Alhamdulillah…”

Matanya berbinar.

Kini tekadnya semakin kuat. Ia mulai berpikir tentang konten yang akan dibuat.

Tiba - tiba “Assalamu’alaikum…”

Suara dari luar terdengar.Ayla langsung menoleh.

Ia berdiri dan keluar kamar. “Wa’alaikumsalam…”

Ternyata Bapak sudah pulang.

Ayla segera mengambil air minum dan handuk.

“Pak… ini…”

“Iya, Ay… makasih…”

Bapak langsung menuju kamar mandi.

Tak lama…

Ibu terbangun.

“Ay… Bapak udah pulang?”

“Udah, Bu… sekarang lagi mandi…”

“Oh iya…” jawab Ibu pelan.

Beberapa menit kemudian. Bapak keluar dari kamar mandi. Ibu menghampiri.

“Pak makan dulu ya."

“Iya bu."

Bapak duduk dan mulai makan.

Suasana terasa tenang… tapi ada sesuatu yang tertahan.

Ibu ikut duduk di sampingnya.

Tidak ikut makan. Hanya menemani.

Sesekali tangannya memijat pelan pelipisnya yang masih terasa pusing.

Suasana terasa tenang…

Namun ada sesuatu yang tertahan.

Bapak mulai makan perlahan. Sementara Ibu terlihat gelisah.

Tangannya saling menggenggam.

Seolah sedang memikirkan sesuatu.

Beberapa saat…

Ibu akhirnya membuka suara.

“Pak…” suaranya lirih.

Bapak menoleh.

“Iya, Bu…?”

Ibu terdiam sejenak.

Seperti mengumpulkan keberanian.

“Pak… tadi Bu Pitri sama Bu Weni ke sini…”

Bapak menghela napas pelan.

“Hmm… nagih lagi ya…”

Ibu mengangguk.

“Mereka minta segera dibayar, Pak…”

Bapak berhenti makan sejenak.

Menatap Ibu.

Suasana mulai terasa berat.Ibu menunduk.

Lalu melanjutkan dengan suara pelan,

“Tadi… mereka juga ngasih saran…”

Bapak langsung memperhatikan.

“Saran apa, Bu?”

Ibu menarik napas dalam.Matanya mulai berkaca-kaca.

“Mereka bilang… sawah kita… digadein aja…”

Seketika Bapak langsung diam.

Sendok di tangannya berhenti. Wajahnya berubah.

“Jangan, Bu.”

Jawabannya tegas.

“Itu satu-satunya yang kita punya.”

Ibu menunduk.

Air matanya jatuh perlahan.

“Tapi kita nggak punya pilihan lain, Pak…” suaranya bergetar.

Bapak menggeleng pelan.

“Kita cari cara lain…”

Ibu langsung menatapnya. Matanya penuh tekanan.

“Cara apa, Pak…?”

Pertanyaan itu membuat Bapak terdiam. Tak ada jawaban.

Ibu melanjutkan, suaranya semakin pelan…

“Tiap hari kita ditagih…”

“Ibu juga nggak tenang…”

“Kalau terus begini… kita makin tertekan…”

Suasana hening. Hanya suara napas yang terdengar.

Ibu menggenggam tangannya erat.

“Pak…” suaranya nyaris berbisik.

“Lebih baik… kita gadaikan aja ke Mas Toni…”

“Biar hutang cepat selesai…”

Air matanya jatuh lagi.

Bapak menutup matanya sebentar.

Rahangnya mengeras. Keputusan itu berat.

Sangat berat.

Namun… Ia tak punya pilihan.

Bapak menarik napas panjang.

Lalu membuka matanya perlahan.

“Ya sudah."

Suaranya pelan. Berat.

“Kalau itu satu-satunya jalan…”

Ibu langsung menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Maafin ibu ya, Pak…” lirihnya.

Bapak langsung menggeleng.

Bukan hanya pelan tapi tegas.

“Jangan, Bu…”

Ia menatap Ibu. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Bukan Ibu yang harus minta maaf…”

Suasana mendadak sunyi. Bapak menelan ludah.

Suaranya mulai bergetar.

“Ini… salah Bapak…”

Ibu langsung mengangkat wajahnya. Terkejut.

“Bapak yang nggak bisa jadi kepala keluarga yang baik…”

“Bapak yang nggak bisa cari uang buat bayar hutang…”

Kalimat itu keluar pelan. Tapi terasa sangat dalam.

Ibu langsung menggeleng cepat. Air matanya semakin deras.

“Enggak, Pak… jangan gitu…”Suaranya ikut bergetar.

Lihat selengkapnya