Ayla masih berdiri di tengah jalan,ponselnya tergenggam erat.Ia membuka pesan dari Nova.
Sebuah postingan.
Alisnya sedikit berkerut saat membaca.
“Lowongan kerja…?” gumamnya pelan.
Jantungnya mulai berdebar, Ia memperhatikan detailnya.
Nama perusahaan.
Posisi yang dibutuhkan.
Syarat-syaratnya.
Dan…
Lokasinya.
Matanya sedikit membesar.
“Itu… tempat Nova kerja…”
Belum sempat ia berpikir lebih jauh.Telepon dari Nova masih tersambung.
> (“Gimana, Ay? Udah kamu liat?”) tanya Nova.
> (“Iya, Nov… ini lowongan di tempat kamu kerja kan?”)
> (“Iya, Makanya aku langsung inget kamu…”)
Ayla terdiam sejenak.
> (“ coba aja lamar ay,siapa tau keterima…”)
Suara Nova terdengar penuh semangat.
> (“Biar kita bisa kerja bareng juga…”) lanjutnya ringan.
Ayla tersenyum kecil.
Ada rasa hangat.
> (“iya , Nov aku coba deh”)
Nada suara Nova berubah lebih serius.
> (“Satu minggu lagi batas terakhirnya, Ay… jadi kamu harus cepet…”)
Jantung Ayla berdegup lebih cepat.
Satu minggu.
Ia menggenggam ponselnya lebih erat.
> (“Iya, Nov… aku coba ya…”)
> (“Harus coba, Ay! Jangan ditunda-tunda!”)
Ayla mengangguk, meski Nova tak bisa melihatnya.
> (“Iya… makasih ya, Nov…”)
> (“Sama-sama… semangat ya!”)
> (“Yaudah ay, aku tutup dulu ya… mau istirahat”)
> (“Iya nov”)
Telepon pun terputus.
Hening.
Ayla menatap layar ponselnya lagi.Lowongan itu masih terbuka di sana,Ia menarik napas dalam.
Lalu mulai berjalan pulang.Langkahnya lebih cepat dari tadi.
Sesampainya di rumah…Ayla langsung masuk ke kamar.Tasnya diletakkan begitu saja.Ia membuka lemari.
Mulai mencari satu per satu.
“Berkas…”
Tangannya bergerak cepat.Map lama ia keluarkan.Dibuka.
Dicek satu per satu.
“KTP… ada…”
“Fotokopi KTP… nanti tinggal copy lagi…”
“KK…”
“Ijazah…”
Ayla mengangguk kecil.
“CV… aku udah pernah bikin…”
Ia duduk di lantai papan kamarnya.
Menarik napas.
“Sekarang… bikin surat lamaran dulu…”
Tiba-tiba ia teringat.
“Oh iya… surat kesehatan…”
Ia berpikir sebentar.
“Besok aja deh bikin ke puskesmas…”
Lalu wajahnya sedikit berubah.
“SKCK…”
Ayla terdiam.
“ya ampun aku belum bikin…”
Ia menghela napas.
“Gimana ya…”
Beberapa detik ia berpikir.
“Nanti aku tanya Nova deh… bisa nyusul gak…”
Ia lalu meraih ponselnya.
Membuka aplikasi Microsoft Word.
Mulai mengetik, Perlahan.
“Surat lamaran kerja…”
Jarinya bergerak di layar.Meski sederhana…
Tapi penuh kesungguhan.
Sementara itu di tempat lain…
Di rumah Bu Pitri.
“Pak, liat nih… ibu berhasil bawa balik uang kita…” kata Bu Pitri dengan bangga.
Pak Rahmat yang baru pulang memancing langsung tersenyum lebar.
“Wahh… ibu hebat…” katanya.
Namun kemudian ia mengernyit.
“Tapi… mereka dapet uang dari mana?”
“Bu Sarti ngadein sawah ke Mas Toni,” jawab Bu Pitri santai.
“Ohh… pantesan…”
Pak Rahmat mengangguk.
“Yaudah lah, Bu… sini biar bapak yang pegang uangnya…”
Bu Pitri langsung menatap tajam.
“Eitt… enak aja… ini ibu yang pegang!”
“Ibu mau beli stok belanja bulanan…”
Pak Rahmat mendecak.
“Yaudah bagi dikit sama bapak, Bu… itu kan uang bapak…”
Bu Pitri langsung menyahut cepat.
“Sama istri jangan perhitungan, Pak…”
“Uang suami ya berarti uang istri juga!”
Pak Rahmat hanya menghela napas kesal.
“Udah ah… ibu mau masuk…”
Lalu menambahkan sambil berjalan,
“Bapak jangan lupa mandi tuh… baju bapak kotor!”
“Iya iya…” jawab Pak Rahmat dengan wajah sedikit kesal.
Langit mulai berubah warna.Senja perlahan berganti malam.
Suara adzan Maghrib berkumandang.Angin malam mulai terasa lebih sejuk.
Lampu-lampu rumah satu per satu menyala.
Suasana kampung menjadi lebih tenang.
Di rumah Ayla…
Ayla, Ibu, dan Bapak telah selesai melaksanakan sholat Maghrib.
Mereka duduk sejenak.
Berdoa.
Dalam hening.
Dengan harapan masing-masing.
Setelah itu…Ayla menatap kedua orang tuanya.
“Bu… Pak…”
“Iya, Ay?” jawab Ibu.
“Ada lowongan kerja… di tempat temen Ayla… Nova…”
Bapak dan Ibu saling pandang.Mereka tentu mengenal Nova.
Namun…
Raut wajah mereka berubah sedikit khawatir.
“Kamu mau kerja, Ay…?” tanya Bapak pelan.
Ayla mengangguk.
“Iya, Pak…”
Ibu menatapnya dalam.
“Tapi kamu kan masih berobat jalan, Nak…”
Suasana sedikit hening.
Ayla lalu berkata dengan tenang.
“Ibu sama Bapak gak usah khawatir…”
“Saat ini kondisi Ayla udah sehat kok, Bu…”
“aku udah kuat…”
Ia menatap mereka bergantian.
“Berobat jalan tinggal satu bulan lagi…”
“Nanti kalau keterima kerja bulan depan… Ayla bisa izin ambil obat ke puskesmas sini…”
Suaranya pelan…
Tapi penuh keyakinan.
Bapak terdiam.
Ibu juga.
Mereka saling berpikir.
Beberapa detik terasa lama.
Hingga akhirnya…
Ibu menarik napas pelan.
“Asal kamu benar-benar jaga diri ya, Ay… jangan tinggalin sholat juga”
Bapak ikut mengangguk.
“Jangan dipaksakan kalau capek…”
Ayla tersenyum kecil.
Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Iya, Bu… iya, Pak…”
Dalam hatinya.Tekad itu kembali menguat.
Bukan hanya ingin membantu.
Tapi juga…membuktikan bahwa ia bisa.
Ayla mengangguk pelan setelah mendengar nasihat dari kedua orang tuanya. Suasana masih hangat sehabis sholat Maghrib. Ia bangkit perlahan.
Lalu Ayla melangkah menuju kamarnya.
Di dalam kamar, ia duduk di tepi kasur. Ponselnya kembali ia buka. Lowongan kerja itu masih terpampang di layar.
Ia menarik napas dalam.
“Bismillah… semoga ada rezeki ya…” gumamnya pelan.
Beberapa detik ia menatap layar itu.
Lalu tiba-tiba terlintas sesuatu di pikirannya.
“Oh iya… sambil aku nyari kerja ke luar, aku bisa tetep sambil kerja jadi affiliator kan…” katanya pelan, seolah meyakinkan diri sendiri.
Wajahnya sedikit lebih semangat.
Ayla langsung membuka aplikasi media sosialnya. Ia mulai menyiapkan konten.
Kali ini, ia mengambil baju yang dulu pernah ia beli dari online shop. Baju itu masih rapi, masih bagus.
Ia berdiri di depan kamera sederhana di kamarnya.
Mulai merekam.
Dengan suara yang masih sedikit malu-malu, tapi penuh usaha.
Ia menjelaskan bahan bajunya, kenyamanannya, dan cocok dipakai untuk aktivitas sehari-hari.
Beberapa kali ia mengulang, sampai merasa cukup.
Setelah selesai, Ayla duduk kembali di kasur. Ia mengedit sebisanya.
Lalu membuka akun affiliatenya.
Video itu pun ia upload.
Sebelum menekan tombol kirim, ia menambahkan deskripsi singkat.
“Baju simpel tapi nyaman banget dipakai sehari-hari… bahannya adem dan jatuhnya bagus 😊”
Jarinya sempat berhenti sejenak.
Ia hampir menautkan keranjang kuning.
Namun ia menghela napas kecil.
“Eh… showcase aku kan belum kebuka…” gumamnya.
Akhirnya ia hanya mengunggah tanpa menautkan produk.
“Gapapa… pelan-pelan aja…” bisiknya.
Setelah itu, Ayla membuka postingan sebelumnya.
Tentang rok yang pernah ia promosikan.
Ia memperhatikan jumlah like-nya.
“30…”
Ia tersenyum kecil.
“Lumayan…” katanya pelan.
Lalu matanya berpindah ke jumlah followers.
“500…”
Senyumnya semakin lebar.
“Alhamdulillah… tinggal 100 lagi showcase bakal kebuka…”
Ada rasa bangga kecil dalam hatinya.
Meski belum besar, tapi itu adalah hasil usahanya sendiri.
Ayla lalu meletakkan ponselnya di samping bantal.
Membaringkan tubuhnya di kasur.
Hari ini terasa panjang.
Lelah mulai terasa.
Matanya perlahan terpejam.
Dan tanpa sadar…
Ia tertidur.
Pagi hari datang dengan sinar matahari yang masuk dari celah jendela.
Di dapur, Ibu sudah sibuk sejak pagi.
Minyak panas terdengar berdesis.
Keripik singkong digoreng satu per satu.
Di sisi lain, adonan cilok sedang dibentuk.
Ayla keluar dari kamar, masih dengan rambut sedikit berantakan.