Cahaya yang Tertunda

Ririn Nuraeni
Chapter #49

Chapter 49 - Jalan yang tak terduga

Pagi kembali menyapa perkampungan kecil itu.

Udara masih terasa sejuk. Embun menempel di ujung dedaunan, sementara sinar matahari perlahan mulai menerangi atap-atap rumah warga.

Suara ayam berkokok bersahut-sahutan dari berbagai arah.

Beberapa warga sudah mulai beraktivitas. Ada yang menyapu halaman, ada yang berjalan menuju sawah sambil memanggul cangkul, dan ada pula ibu-ibu yang mulai membuka warung kecil di depan rumah.

Di rumah Ayla...

Seperti biasa, Ibu sudah lebih dulu sibuk di dapur sejak selesai salat Subuh.

Wajan besar berisi minyak panas mulai mengeluarkan bunyi berdesis.

Irisan singkong dimasukkan satu per satu hingga berubah warna menjadi kuning keemasan.

Aroma gurih keripik yang baru matang memenuhi ruangan.

Di sampingnya, adonan cilok berada di dalam baskom besar.

Tak jauh dari situ, panci berisi kacang hijau masih mengepulkan uap hangat.

Tak lama kemudian, Ayla keluar dari kamarnya.

Rambutnya sudah rapi diikat.

"Bu... sini biar Ayla bantu."

Ibu menoleh sambil tersenyum.

"Iya, Ay. Tolong bentukin ciloknya dulu."

"Iya, Bu."

Ayla langsung mencuci tangan.

Tangannya dengan cekatan mengambil sedikit adonan, lalu membulatkannya satu per satu.

Bulatan-bulatan cilok memenuhi nampan.

Ibu kemudian memasukkannya ke dalam panci berisi air mendidih.

Setelah selesai membentuk cilok, Ayla berpindah membantu mengangkat keripik singkong yang telah matang.

Keripik itu ditiriskan terlebih dahulu.

Setelah dingin, Ayla memasukkannya ke dalam plastik bening, lalu merekatkannya satu per satu.

"Yang ini udah selesai, Bu."

"Taruh dulu di meja depan ya."

"Iya."

Selanjutnya mereka menyiapkan es kacang hijau.

Kacang hijau yang telah matang dicampur dengan santan dan gula merah hingga terasa harum.

Dengan bantuan corong kecil, Ayla menuangkan es kacang hijau ke dalam plastik bening panjang.

Setelah isinya cukup, ujung plastik dipilin lalu diikat menggunakan karet gelang.

Satu...

Dua...

Tiga...

Hingga belasan bungkus es kacang hijau berjajar rapi di atas nampan.

Tak lama kemudian semuanya dimasukkan ke dalam kulkas.

"Kalau ada yang beli tinggal diambil," ujar Ibu.

Ayla mengangguk.

"Iya, Bu."

Menjelang pukul tujuh pagi...

Keripik singkong sudah tersusun rapi.

Cilok beserta bumbu kacangnya siap dijual.

Belasan bungkus es kacang hijau juga telah tersimpan di dalam kulkas.

Ibu dan Ayla kemudian membawa dagangan ke depan rumah.

Beberapa warga yang melintas mulai menyapa.

"Pagi, Bu Sarti."

"Pagi bu..."

Suasana kampung kembali hidup seperti biasanya.

Setelah semua pekerjaan selesai, Ayla duduk di bangku kayu di depan rumah.

Ia mengeluarkan ponselnya.

Seperti beberapa hari terakhir...

Hal pertama yang ia lakukan adalah membuka email.

Matanya menatap layar cukup lama.

Kotak masuk itu masih sama.

Kosong.

Tak ada panggilan.

Tak ada undangan wawancara.

Tak ada balasan dari perusahaan tempat Nova bekerja.

Ayla menghela napas pelan.

Beberapa saat ia hanya memandangi layar ponselnya.

Lalu perlahan ia tersenyum.

"Ya udah..."

"Mungkin memang belum rezeki Ayla."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Bukan karena menyerah.

Melainkan karena ia mulai belajar mengikhlaskan.

Ia percaya...

Kalau memang rezekinya sudah Allah atur, cepat atau lambat pasti akan datang.

Dan kalau jalan itu belum terbuka...

Berarti masih ada jalan lain yang sedang dipersiapkan.

Ayla memasukkan kembali ponselnya ke saku.

Ia berdiri.

Lalu membantu Ibu melayani beberapa pembeli yang datang.

Hari itu berjalan seperti biasanya.

Menjelang siang...

Saat dagangan mulai sepi, Ayla kembali ke kamarnya.

Ia duduk di tepi kasur.

Ponselnya kembali ia buka.

Matanya tertuju pada email yang beberapa hari lalu membuatnya begitu bahagia.

Email tentang cerpen yang berhasil masuk sepuluh besar.

Perlahan Ayla membaca kembali bagian bawah email tersebut.

"Seluruh peserta terpilih akan dimasukkan ke dalam grup komunitas penulis untuk pembinaan dan informasi peluang kepenulisan selanjutnya."

Ayla tersenyum kecil.

"Ya... sekarang saatnya gabung."

Ia menekan tautan yang ada di dalam email.

Tak lama kemudian...

Sebuah grup komunitas penulis terbuka di layar ponselnya.

Jumlah anggotanya sudah puluhan orang.

Pesan-pesan baru terus bermunculan.

Ada yang berasal dari Sumatera.

Ada yang dari Jawa Tengah.

Ada pula yang berasal dari Kalimantan.

Semuanya memiliki satu kesamaan.

Sama-sama mencintai dunia menulis.

Ayla membaca obrolan mereka satu per satu.

Ada yang sedang membahas alur cerita.

Ada yang bertanya tentang cara mengirim naskah ke penerbit.

Ada pula yang saling memberi semangat.

Tak lama kemudian...

Admin grup mengirimkan pesan.

"Selamat datang untuk seluruh penulis terpilih. Semoga komunitas ini menjadi tempat kita belajar, bertumbuh, dan saling mendukung."

Ayla membaca pesan itu sambil tersenyum.

Ia sempat ragu.

Haruskah ia ikut memperkenalkan diri?

Beberapa detik kemudian...

Ia memberanikan diri mengetik.

(Hallo semua. Perkenalkan, saya Ayla dari Jawa Barat. Senang sekali bisa bergabung di komunitas ini. Mohon bimbingannya, teman-teman.)

Tak lama...

Balasan mulai berdatangan.

(Hallo, salam kenal, Kak Ayla.)

(Selamat bergabung.)

(Semangat menulis ya.)

(Semoga nanti kita bisa sama-sama menerbitkan buku.)

Senyum Ayla semakin lebar.

Perasaan minder yang sempat muncul perlahan menghilang.

Ternyata...

Di tempat ini, semua orang datang untuk belajar.

Bukan untuk saling merasa paling hebat.

Ayla mematikan layar ponselnya.

Lalu memandang keluar jendela.

Angin siang berembus pelan.

Di dalam hatinya...

Ia kembali menemukan semangat yang beberapa hari terakhir sempat memudar.

Mungkin...

Pintu pekerjaan belum terbuka.

Tetapi...

Allah sedang membuka pintu yang lain.

Sejak bergabung dengan komunitas penulis itu...

Hari-hari Ayla terasa sedikit berbeda.

Setiap malam, setelah semua pekerjaan rumah selesai dan suasana kampung mulai tenang, ia selalu menyempatkan diri membuka grup tersebut melalui ponselnya.

Obrolan di dalam grup hampir tak pernah sepi.

Ada yang membagikan informasi lomba menulis.

Ada yang bertanya tentang cara membuat alur cerita yang menarik.

Ada pula yang meminta pendapat tentang naskah yang sedang ditulis.

Ayla lebih sering membaca daripada ikut berbicara.

Ia menikmati setiap ilmu yang dibagikan.

Sesekali ia mencatat hal-hal yang menurutnya penting di buku tulis kecil miliknya.

Tak hanya di grup.

Beberapa anggota mulai menghubunginya melalui chat pribadi.

Salah satunya bernama Rani.

(Halo, Kak Ayla. Aku suka cerpen Kakak kemarin.)

Ayla tersenyum kecil membaca pesan itu.

Ia pun membalas dengan ramah.

(Terima kasih ya. Aku juga masih banyak belajar.)

Sejak saat itu, mereka sesekali saling bertukar cerita.

Bukan hanya dengan Rani.

Ada beberapa teman penulis lain yang juga mulai akrab dengannya.

Mereka saling berbagi pengalaman mengikuti lomba.

Saling bertanya ketika mengalami kebuntuan ide.

Bahkan saling menyemangati ketika naskah yang dikirim belum berhasil.

Dari mereka...

Ayla belajar banyak hal.

Ia mulai memahami bagaimana membuat pembuka cerita yang menarik.

Menyusun dialog agar terdengar alami.

Serta menuliskan perasaan tokoh tanpa harus berlebihan.

Perlahan...

Tulisan Ayla berubah.

Kalimat-kalimatnya menjadi lebih rapi.

Lebih jujur.

Dan lebih mampu menyentuh perasaan.

Setiap mendapat masukan, Ayla selalu menerimanya dengan senang hati.

Baginya...

Belajar tidak akan pernah selesai.

Di sisi lain...

Kehidupan Ayla tetap berjalan seperti biasa.

Setiap pagi ia membantu Ibu menyiapkan dagangan.

Siang hari, ketika pekerjaan rumah mulai selesai, Ayla kembali masuk ke kamarnya.

Ia mengambil ponselnya.

Lalu menyandarkannya di atas tumpukan buku yang biasa dijadikan penyangga.

"Ayo semangat..."

gumamnya pelan.

Hari itu ia kembali membuat konten affiliate.

Kali ini ia mempromosikan sebuah baju yang pernah dibelinya beberapa bulan lalu.

Dengan suara yang semakin percaya diri, Ayla menjelaskan bahan kainnya, ukurannya, dan kenyamanannya saat dipakai.

Setelah selesai mengedit, video itu langsung ia unggah.

Keesokan harinya...

Ia membuat konten tentang parfum yang masih sering dipakainya.

Hari berikutnya...

Ia membuat video tentang bedak.

Lalu hand body.

Sesekali ia juga membuat ulasan skincare sederhana yang pernah ia gunakan.

Kalau sedang kehabisan produk...

Ayla berkunjung ke rumah Bibi Tutih.

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikumsalam. Eh, Ayla... masuk."

Anak Bibi Tutih yang sedang melipat pakaian langsung menghampiri.

"Teh..."

"Iya?"

"Boleh pinjam baju yang ini sebentar? Mau Ayla bikin konten affiliate. Nanti langsung dibalikin."

"Boleh kok."

Ayla tersenyum.

"Kalau hand body yang itu boleh juga?"

"Boleh, Teh."

"Makasih ya."

Setelah selesai merekam, Ayla selalu membersihkan dan merapikan kembali barang yang dipinjamnya sebelum dikembalikan.

Ia tidak ingin mengecewakan orang yang sudah membantunya.

Hari demi hari berlalu.

Konten yang dibuat Ayla semakin beragam.

Tak hanya pakaian.

Tetapi juga parfum, bedak, hand body, hingga skincare sederhana.

Suatu sore...

Seusai mengunggah video, Ayla membuka aplikasi media sosialnya.

Matanya langsung tertuju pada jumlah pengikut.

"Enam ratus..."

Ia tersenyum lebar.

"Alhamdulillah..."

"Followers Ayla udah enam ratus."

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Ia langsung membuka menu affiliate.

Beberapa detik kemudian...

Matanya berbinar.

"Showcase kebuka..."

Ayla menutup mulutnya pelan.

Tak menyangka.

Target kecil yang selama ini ia tunggu akhirnya tercapai.

Dengan semangat, ia langsung mulai menambahkan tautan produk ke video-video yang sudah diunggah.

Kini orang yang menonton videonya bisa langsung melihat produk yang ia rekomendasikan.

Sore itu...

Ayla benar-benar merasa bahagia.

Namun...

Hari pertama berlalu.

Belum ada satu pun pesanan.

Hari kedua...

Masih belum ada.

Hari ketiga...

Tetap sama.

Kadang ia memandangi layar ponselnya sambil tersenyum tipis.

"Belum ada yang beli ya..."

Ada kalanya rasa ingin menyerah datang menghampiri.

"Apa konten Ayla kurang menarik..."

"Tapi..."

Ia menggeleng pelan.

"Kalau berhenti sekarang..."

"Berarti semua usaha selama ini sia-sia."

Ayla kembali mengambil ponselnya.

Menyiapkan produk berikutnya.

Lalu kembali merekam.

Baginya...

Keberhasilan tidak selalu datang dengan cepat.

Yang terpenting adalah tetap berusaha.

Tak terasa...

Satu minggu pun berlalu.

Hari itu, setelah membantu Ibu merapikan dagangan, Ayla sedang menyapu ruang tengah.

Ibu keluar dari kamar sambil membawa sejumlah uang.

"Ay..."

"Iya, Bu?"

"Tolong beliin obat batuk buat Bapak ke apotek, ya."

Ayla mengangguk.

"Iya, Bu."

"Nih uangnya."

Ibu menyerahkan beberapa lembar uang.

"Sekalian beli permen pelega tenggorokan juga."

"Baik, Bu."

Ayla mengambil kerudungnya.

Lalu berpamitan.

"Bu, Ayla berangkat dulu."

"Iya... hati-hati di jalan."

Ayla pun melangkah keluar rumah.

Menyusuri jalan kampung yang mulai ramai oleh aktivitas warga.

Ia sama sekali tidak menyangka...

Perjalanan sederhana membeli obat hari itu...

Akan membawanya pada sebuah kesempatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Matahari mulai terasa hangat.

Ayla berjalan menyusuri jalan kampung dengan langkah santai. Di tangan kanannya tergenggam uang yang diberikan Ibu, sementara sebuah tas kecil tersampir di bahunya.

Beberapa warga yang berpapasan menyapanya.

"Mau ke mana, Ay?"

"Mau ke apotek dulu, Bu."

"Ooh... hati-hati ya."

"Iya, Bu."

Tak lama kemudian, Ayla tiba di sebuah apotek yang berada di pinggir jalan raya.

Pintu kaca didorong perlahan.

Terdengar bunyi lonceng kecil saat ia masuk.

Di dalam apotek tidak terlalu ramai.

Hanya ada dua orang pelanggan yang sedang menunggu.

Ayla langsung menghampiri meja pelayanan.

"Permisi, Mbak."

Petugas apotek tersenyum ramah.

"Iya, Kak. Ada yang bisa dibantu?"

"Saya mau beli obat batuk buat Bapak. Batuknya berdahak."

"Baik."

Petugas segera mengambil beberapa jenis obat dari rak.

"Kalau yang ini diminum tiga kali sehari setelah makan."

Ayla mengangguk.

"Iya, Mbak."

"Sekalian permen pelega tenggorokan satu ya."

"Baik."

Saat petugas sedang menyiapkan obat...

Pintu apotek kembali terbuka.

Seorang pria asing masuk sambil memegang pelipisnya.

Usianya sekitar empat puluh tahun.

Wajahnya tampak sedikit pucat.

Ia menghampiri meja pelayanan.

"Excuse me..."

Petugas apotek menoleh.

"I need medicine for a headache."

Petugas tampak bingung.

"Maaf...?"

Lihat selengkapnya