Cahaya yang Tertunda

Ririn Nuraeni
Chapter #50

Chapter 50 - Langkah Pertama di Kota

Motor yang dikendarai Pak Udin terus melaju meninggalkan perkampungan tempat Ayla dibesarkan.

Sinar matahari sore mulai condong ke arah barat. Cahaya keemasannya menyinari hamparan sawah yang membentang di kanan dan kiri jalan. Angin sepoi-sepoi berembus lembut, membuat ujung kerudung Ayla berkibar pelan.

Duduk di jok belakang, Ayla sesekali menoleh ke belakang.

Rumah-rumah sederhana yang selama ini begitu akrab di matanya perlahan semakin jauh.

Warung Bu Rina...

Masjid kecil tempat ia mengaji sejak kecil...

Jalan setapak yang hampir setiap hari ia lewati...

Semuanya perlahan menghilang di balik tikungan.

Ayla mengembuskan napas pelan.

Di dalam hatinya bercampur berbagai macam perasaan.

Sedih...

Takut...

Gugup...

Namun di balik semua itu, tersimpan sebuah harapan.

Ia percaya...

Allah tidak akan membawanya sejauh ini jika bukan karena telah menyiapkan sesuatu yang baik.

Motor terus melaju membelah jalan desa.

Beberapa warga yang mengenal Pak Udin tampak melambaikan tangan ketika berpapasan.

Tak terasa...

Hampir tiga puluh menit perjalanan berlalu, perjalanan terasa lebih cepat jika mengunakan motor

Langit mulai berubah jingga ketika motor akhirnya memasuki sebuah gang yang cukup lebar.

Di ujung gang berdiri sebuah rumah sederhana bercat krem.

Beberapa pot bunga menghiasi terasnya.

Pak Udin memperlambat laju motornya sebelum akhirnya berhenti tepat di depan rumah itu.

"Udah sampai, Ay."

"Iya, Pak."

Ayla turun dari motor.

Ia mengangkat tas pakaian yang sejak tadi berada di depan motor.

Setelah itu, ia membuka dompet kecil yang disimpannya di dalam tas.

Beberapa lembar uang dikeluarkannya.

"Pak..."

"Ini ongkosnya."

Pak Udin langsung menggeleng sambil tersenyum.

"Udah, Ay."

"Enggak usah."

Ayla ikut tersenyum.

"Jangan, Pak."

"Tadi sebelum berangkat Ibu udah nitip uang ongkos buat Ayla."

"Kalau Ayla enggak kasih, nanti Ibu malah marah."

Pak Udin terkekeh pelan.

"Kamu ini..."

"Yaudah deh."

Beliau pun menerima uang tersebut.

"Makasih ya, Ay."

"Iya, Pak. Sama-sama"

" Ayla juga mau bilang makasih ya pak."

"Udah mau nganter Ayla sampai sini."

Pak Udin mengangguk pelan.

"Sama-sama."

"Semoga besok interview nya lancar."

"Aamiin."

"Doain Ayla ya, Pak."

"Pasti."

"Yang penting tetap percaya diri."

"Iya, Pak."

Belum lama mereka berbincang...

Pintu rumah perlahan terbuka.

"Assalamu'alaikum..."

Suara Bu Zahra terdengar dari dalam.

"Wa'alaikumsalam."

Beliau keluar sambil tersenyum hangat.

"Alhamdulillah... sudah sampai."

"Iya, Bu."

Pak Udin menyalami Bu Zahra.

"Bu..."

"Ayla saya titip ya."

"Iya, Pak."

"InsyaAllah Ayla aman sama saya."

Pak Udin tampak lega.

"Kalau begitu saya pamit dulu."

"Iya, Pak."

"Hati-hati di jalan."

Pak Udin kembali menoleh kepada Ayla.

"Semangat ya."

"Iya, Pak."

Motor kembali menyala.

Perlahan kendaraan itu meninggalkan rumah Bu Zahra.

Ayla masih sempat melambaikan tangan hingga motor tersebut menghilang di ujung jalan.

Bu Zahra menepuk pelan bahu Ayla.

"Ayo masuk dulu."

"Iya, Bu."

Mereka pun masuk ke dalam rumah.

Rumah Bu Zahra terasa sederhana namun sangat bersih.

Di ruang tamu terdapat sofa berwarna cokelat dengan meja kecil di tengahnya.

Beberapa rak buku memenuhi salah satu sisi ruangan.

Di dinding tergantung beberapa pigura berisi foto keluarga.

"Silakan duduk dulu, Ay."

"Iya, Bu."

Ayla duduk dengan rapi.

Tak lama kemudian, Bu Zahra datang membawa dua gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng.

"Minum dulu."

"Iya Bu, makasih. "

Ayla menerima gelas itu dengan kedua tangan.

Suasana menjadi hening beberapa saat.

Bu Zahra kemudian membuka percakapan.

"Masih gugup?"

Ayla tersenyum malu.

"Iya, Bu."

"Takut enggak lolos."

Bu Zahra menggeleng pelan.

"Jangan terlalu di pikirin.Besok kamu cukup jadi diri sendiri."

"Jawab semua pertanyaan dengan jujur."

"Kalau memang belum tahu, bilang belum tahu."

"Kalau memang belum pernah mengajar, bilang saja belum pernah."

"Yang mereka cari bukan orang yang sudah sempurna."

"Tapi orang yang mau belajar."

Ayla mendengarkan setiap kalimat itu dengan saksama.

Entah mengapa...

Perkataannya membuat hati Ayla terasa sedikit lebih tenang.

"Terima kasih, Bu."

"Sama-sama."

"Oh iya."

"Nanti malam kamu istirahat di kamar tamu aja ya."

"Iya, Bu."

Bu Zahra kemudian mengajak Ayla melihat kamar yang akan ditempatinya semalam.

Kamarnya tidak terlalu besar.

Namun cukup bersih dan nyaman.

Di dalamnya terdapat sebuah tempat tidur sederhana.

Lemari kecil.

Sebuah kipas angin.

Serta meja belajar yang diletakkan di dekat jendela.

"Kalau ada yang kurang, bilang ya."

"Iya, Bu."

Ayla meletakkan tasnya di samping tempat tidur.

Ia memandangi kamar itu beberapa saat.

Malam ini...

Untuk pertama kalinya...

Ia tidur jauh dari rumah.

Tak terasa...

Azan Magrib berkumandang.

Ayla dan Bu Zahra melaksanakan salat berjamaah.

Setelah itu mereka makan malam bersama. Suami dan anak Bu Zahra sedang jalan- jalan di luar menikmati pasar malam jadi mereka tidak ikut makan bersama.

Obrolan mereka tidak terlalu banyak.

Bu Zahra lebih sering memberi semangat kepada Ayla.

Sementara Ayla mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

Selesai salat Isya...

Ayla kembali masuk ke kamar.

Ia membuka map cokelat yang dibawanya.

Satu per satu berkas kembali diperiksa.

KTP.

CV.

Ijazah.

Surat lamaran.

Surat keterangan sehat.

Semuanya masih tersusun rapi.

Ayla mengembuskan napas lega.

Map itu kembali ditutup.

Kemudian ia mengambil ponselnya.

Ada beberapa pesan dari grup komunitas penulis.

Namun malam itu ia hanya membacanya sekilas.

Pikirannya masih dipenuhi bayangan tentang interview esok hari.

Ia meletakkan ponsel di atas meja.

Lalu mengambil air wudu.

Setelah melaksanakan salat sunnah dua rakaat...

Ayla kembali mengangkat kedua tangannya.

("Ya Allah..."

"Kalau pekerjaan ini memang baik untukku..."

"Mudahkanlah semuanya."

"Berikanlah aku ketenangan."

"Dan bimbinglah aku agar bisa memberikan yang terbaik."

"Aamiin.")

Usai berdoa...

Ayla mematikan lampu kamar.

Ia berbaring di atas kasur.

Matanya menatap langit-langit kamar.

Jantungnya masih berdebar pelan.

Namun kali ini...

Bukan lagi karena rasa takut.

Melainkan karena harapan.

Besok...

Akan menjadi awal dari langkah baru dalam hidupnya.

Fajar baru saja menyingsing.

Suara azan Subuh berkumandang dari masjid yang letaknya tak jauh dari rumah Bu Zahra.

Ayla perlahan membuka matanya.

Beberapa detik ia memandangi langit-langit kamar.

Hari ini...

Hari yang akan menjadi langkah awalnya menapaki kehidupan baru.

Ia segera bangkit dari tempat tidur.

Merapikan selimut.

Kemudian mengambil air wudu.

Tak lama kemudian...

Ayla dan Bu Zahra melaksanakan salat Subuh berjamaah.

Usai salat, keduanya melipat sajadah masing-masing.

Ayla kemudian berjalan menuju tas kecil yang dibawanya dari rumah.

Ia mengambil sebotol air minum.

Lalu mengeluarkan wadah obat yang selalu menemaninya selama beberapa bulan terakhir.

Dengan membaca basmalah pelan, Ayla menelan obat tersebut.

Bu Zahra yang sejak tadi memperhatikan tampak sedikit heran.

"Obat apa itu, Ay?"

Ayla menoleh.

"Oh..."

"Ini obat TB paru, Bu."

Mendengar jawaban itu, Bu Zahra tampak terkejut.

"TB paru?"

"Iya, Bu."

"Beberapa bulan yang lalu Ayla didiagnosis TB paru."

Raut wajah Bu Zahra langsung berubah.

Beliau menatap Ayla dengan penuh rasa khawatir.

"Ya Allah..."

"Ibu baru tahu."

"Kamu masih sakit, Ay?"

Ayla tersenyum kecil.

"Alhamdulillah sekarang badan Ayla udah jauh lebih sehat, Bu."

"Batuknya juga hampir enggak ada."

"Pengobatannya tinggal sekitar satu bulan lagi."

Bu Zahra masih tampak cemas.

"Kalau gitu..."

"Kenapa kamu tetap nerima pekerjaan ini Ay?"

"Harusnya kamu istirahat dulu."

Ayla menggeleng pelan.

"Enggak apa-apa kok, Bu."

"Dokter juga bilang Ayla sudah boleh beraktivitas seperti biasa."

"Asal tetap minum obat rutin."

"Makan yang cukup."

"Dan jangan terlalu memforsir tenaga."

Ia terdiam sejenak.

"Lagipula..."

"Ayla juga ingin bantu Ibu sama Bapak."

"Selama badan Ayla masih kuat..."

"Ayla ingin terus berusaha."

Bu Zahra mengembuskan napas pelan.

Tatapannya masih dipenuhi rasa iba.

"Kalau begitu..."

"Kamu harus benar-benar jaga kesehatan ya Ay. "

"Jangan sampai karena terlalu semangat kerja, kamu malah lupa jaga diri."

"Iya, Bu."

"InsyaAllah Ayla pasti jaga kesehatan."

Bu Zahra tersenyum hangat.

"Semoga cepet sembuh ya Ay"

"Aamiin."

Tak lama kemudian...

Mereka sarapan bersama.

Menu pagi itu sederhana.

Nasi hangat.

Telur dadar.

Dan semangkuk sayur bening.

Sambil makan, Bu Zahra sesekali menjelaskan tentang lembaga bimbingan belajar tempat Ayla akan melamar.

"Pengelolanya orangnya baik."

"Tapi beliau cukup teliti."

"Jadi nanti jawab pertanyaannya pelan-pelan saja."

"Iya, Bu."

"Kalau memang belum tahu, bilang belum tahu."

"Enggak usah dibuat-buat."

Ayla mengangguk.

"Baik, Bu."

Sekitar pukul enam pagi...

Mereka pun bersiap berangkat.

Ayla mengenakan kemeja putih lengan panjang yang dipadukan dengan rok hitam sederhana.

Kerudung hitam yang disetrika rapi menutupi rambutnya.

Map cokelat berisi seluruh berkas lamaran digenggam erat di tangannya.

"Bismillah."

"Bismillah," jawab Bu Zahra.

Mereka keluar rumah.

Udara pagi masih terasa sejuk.

Jalanan belum terlalu ramai.

Sesekali hanya terlihat beberapa sepeda motor melintas.

Bu Zahra menghentikan sebuah angkutan kota.

Tak lama kemudian mereka naik.

Selama perjalanan...

Ayla lebih banyak memandangi pemandangan di balik jendela.

Suasana kota perlahan mulai hidup.

Pertokoan mulai membuka pintunya.

Pedagang kaki lima sibuk menata dagangan.

Anak-anak berseragam sekolah berjalan bersama orang tua mereka.

Semua terasa baru bagi Ayla.

"Gugup?"

Suara Bu Zahra membuyarkan lamunannya.

Ayla tersenyum kecil.

"Sedikit, Bu."

"Wajar."

"Nanti tarik napas dulu sebelum masuk ruangan."

"Iya bu."

Satu jam kemudian...

Angkutan yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai.

Di bagian depan terpampang sebuah papan bertuliskan,

Lembaga Bimbingan Belajar Cendekia.

Ayla menatap bangunan itu beberapa saat.

Inilah tempat...

Yang mungkin akan menjadi awal perjalanan barunya.

"Yuk."

Bu Zahra tersenyum memberi semangat.

Ayla mengangguk pelan.

"Iya, Bu."

Dengan mengucap basmalah di dalam hati...

Ia melangkah memasuki halaman lembaga bimbingan belajar itu.

Ayla dan Bu Zahra melangkah memasuki halaman sebuah bangunan dua lantai yang berdiri di pinggir jalan kota.

Di bagian depan terpampang papan nama bertuliskan,

Lembaga Bimbingan Belajar Cendekia.

Bangunannya tampak sederhana, tetapi bersih dan terawat.

Beberapa pot bunga tertata rapi di sepanjang teras.

Karena waktu masih pagi, suasana masih cukup lengang.

Belum ada murid yang datang.

Maklum, jam sekolah formal masih berlangsung.

Hanya beberapa staf administrasi yang terlihat mulai membuka ruangan dan merapikan meja kerja.

Ayla memperhatikan sekelilingnya.

Jantungnya kembali berdebar.

"Yuk, Ay."

Bu Zahra tersenyum memberi semangat.

"Iya, Bu."

Keduanya berjalan menuju ruang administrasi.

Di depan pintu, Bu Zahra mengetuk perlahan.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

"Silakan masuk."

Mereka pun masuk ke dalam.

Ruangan itu tidak terlalu luas.

Di salah satu sisi terdapat lemari arsip yang dipenuhi map-map berwarna.

Sementara di atas meja kerja tersusun beberapa dokumen administrasi.

Seorang perempuan berhijab berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri sambil tersenyum ramah.

"Selamat pagi, Bu Zahra."

"Selamat pagi, Bu Virda."

Bu Zahra membalas senyumnya.

"Lalu ini Ayla yang kemarin saya ceritakan."

Bu Virda mengangguk.

"Oh..."

"Jadi ini Ayla."

Beliau mengulurkan tangan.

"Perkenalkan."

"Saya Virda."

"Koordinator tutor di sini."

Ayla segera menyalami beliau dengan sopan.

"Perkenalkan, Bu."

"Saya Ayla."

"Senang bertemu dengan Ibu."

"Senang bertemu juga."

"Silakan duduk."

Ayla dan Bu Zahra pun duduk.

Map cokelat yang sejak tadi dibawa Ayla kemudian diserahkan kepada Bu Virda.

"Ini berkas lamaran saya, Bu."

"Baik."

Bu Virda membuka map tersebut.

Beliau memeriksa satu per satu dokumen yang ada di dalamnya.

"Ijazah..."

"CV..."

"Fotokopi KTP..."

"Surat lamaran..."

Sesekali beliau menganggukkan kepala.

Tak lama kemudian, map itu ditutup kembali.

"Alhamdulillah."

"Berkasnya sudah lengkap."

"Terima kasih, Bu."

"Sama-sama."

Bu Virda kemudian membuka sebuah buku catatan kecil yang berada di atas mejanya.

"Baik, Ayla."

"Sekarang kita ngobrol sebentar, ya."

"Iya, Bu."

Suasana ruangan menjadi hening.

Bu Virda mulai mengajukan beberapa pertanyaan.

"Kamu lulusan SMK jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian, ya?"

"Iya, Bu."

Beliau mengangguk pelan.

"Kalau boleh tahu..."

"Kenapa justru melamar menjadi tutor bahasa Inggris?"

"Padahal jurusan kamu berbeda."

Ayla tersenyum kecil.

"Iya, Bu."

"Memang jurusan saya berbeda."

"Tapi sejak sekolah saya memang menyukai pelajaran bahasa Inggris."

"Saya sering belajar sendiri di rumah."

"Kalau ada teman yang kesulitan, sesekali saya juga membantu menjelaskan sebisa saya."

"Saya memang belum pernah mengajar secara langsung."

"Tapi saya ingin belajar."

"Kalau diberi kesempatan..."

"InsyaAllah saya akan berusaha memberikan yang terbaik."

Bu Virda tersenyum tipis.

"Bagus."

"Setidaknya kamu menjawab dengan jujur."

Beliau kembali bertanya.

"Selama lebih dari satu tahun setelah lulus, kegiatan kamu apa saja?"

Ayla menjawab apa adanya.

"Sehari-hari saya membantu Ibu berjualan di rumah,sambil fokus berobat jalan bu. "

"Sambil mencari pekerjaan juga."

"Selain itu saya juga menulis cerita."

"Dan belakangan ini saya mulai membuat konten affiliate."

Bu Virda tampak tertarik.

"Menulis cerita?"

"Iya, Bu."

"Itu memang hobi saya sejak sekolah."

"Alhamdulillah beberapa tulisan saya pernah masuk sepuluh besar lomba cerpen."

"Wah, selamat ya."

"Terima kasih, Bu."

Bu Virda kembali menuliskan sesuatu di buku catatannya.

"Lalu menurutmu..."

"Hal yang paling penting saat mengajar anak kelas satu SD itu apa?"

Ayla berpikir beberapa detik sebelum menjawab.

"Kesabaran, Bu."

"Karena setiap anak punya kemampuan belajar yang berbeda."

"Ada yang cepat memahami."

"Ada juga yang harus dijelaskan berkali-kali."

"Kalau gurunya mudah marah..."

"Anaknya bisa jadi takut belajar."

Bu Virda mengangguk pelan.

"Kalau nanti ada anak yang menangis karena kesulitan memahami pelajaran..."

"Apa yang akan kamu lakukan?"

"Saya akan menenangkan dulu, Bu."

"Lalu memberi semangat."

"Setelah itu saya coba menjelaskan lagi dengan cara yang lebih sederhana."

"Kalau perlu memakai gambar atau permainan supaya anak lebih mudah memahami."

Bu Virda tersenyum.

"Baik."

"Jawabanmu cukup bagus."

Beliau kemudian menutup buku catatannya.

"Untuk sesi wawancara sudah selesai."

Ayla mengembuskan napas lega.

Namun Bu Virda kembali melanjutkan.

"Masih ada satu tahapan lagi."

"Yaitu praktik mengajar."

Ayla kembali duduk tegak.

"Iya, Bu."

"Karena murid-murid bimbingan belajar baru datang sepulang sekolah..."

"Praktik mengajarnya nanti sekitar pukul satu siang."

"Kami akan meminta kamu mengajar anak kelas satu SD selama kurang lebih lima belas sampai dua puluh menit."

"Tujuannya bukan untuk mencari guru yang sudah sempurna."

"Tetapi untuk melihat bagaimana cara kamu berinteraksi dengan anak-anak."

Ayla mengangguk mantap.

"Baik, Bu."

Bu Virda tersenyum hangat.

"Sekarang masih pagi."

"Silakan beristirahat dulu."

"Boleh juga berkeliling melihat lingkungan lembaga atau berkenalan dengan tutor-tutor yang lain."

"Supaya nanti tidak terlalu canggung."

"Baik, Bu."

Lihat selengkapnya