"Tolong...! Tolong...!"
Suasana di halaman puskesmas masih dipenuhi kepanikan.
Beberapa warga mengerumuni seorang pria yang baru saja dibawa menggunakan sepeda motor.
"Ini Pak Dirman...!"
Kalimat itu membuat jantung Ayla seolah berhenti berdetak.
Wajahnya langsung pucat.
"Bapak...?"
Tanpa sadar, Ayla berlari mendekati kerumunan.
Dadanya berdebar begitu kencang.
Ia berusaha melihat wajah korban dari sela-sela orang yang mengelilinginya.
Namun ketika akhirnya wajah pria itu terlihat jelas...
Ayla langsung mengembuskan napas panjang.
"Alhamdulillah...bukan bapak"
Ternyata pria itu bukan Pak Dirman, ayahnya.
Mungkin hanya namanya yang sama.
Atau Ayla salah mendengar karena suasana yang begitu gaduh.
Meski begitu, ia tetap menatap pria tersebut dengan rasa iba.
"Semoga Bapak itu gak kenapa - kenapa "
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Ayla melangkah masuk ke dalam gedung puskesmas.
Di bagian depan terdapat loket pendaftaran.
Ayla menghampiri petugas administrasi.
"Selamat pagi."
"Pagi."
"Mau kontrol TB paru sekaligus ambil obat bulan terakhir, ya?"
"Iya, Mbak."
Petugas membuka data Ayla di komputer.
Beberapa saat kemudian beliau mengangguk.
"Datanya sudah ketemu."
"Silakan menunggu dulu."
"Nanti dipanggil ke ruang pemeriksaan."
"Baik. Terima kasih."
Ayla lalu duduk di kursi ruang tunggu.
Di sekelilingnya tampak beberapa pasien lain.
Ada seorang ibu yang menggendong balita.
Seorang kakek yang sedang memegang tongkat.
Serta beberapa warga yang menunggu giliran diperiksa.
Sekitar sepuluh menit kemudian...
"Atas nama Ayla."
Silakan masuk."
Ayla segera berdiri.
Ia memasuki ruang pemeriksaan.
Di dalam, dokter yang selama ini menangani pengobatannya sudah menunggu sambil tersenyum ramah.
"Selamat pagi, Ayla."
"Selamat pagi, Dok."
"Silakan duduk."
Ayla duduk dengan rapi.
Dokter membuka berkas pemeriksaannya.
"Gimana kabarnya sekarang?"
"Alhamdulillah jauh lebih baik, Dok."
"Masih batuk?"
"Sudah hampir enggak pernah."
"Sesak napas?"
"Alhamdulillah sudah enggak ada."
Dokter mengangguk sambil mencatat.
Beliau kemudian memeriksa kondisi Ayla seperti biasa.
Mendengarkan suara napasnya.
Memastikan tidak ada keluhan lain.
Beberapa menit kemudian, dokter tersenyum.
"Alhamdulillah."
"Perkembangannya sangat baik."
Ayla ikut tersenyum lega.
"Berarti tinggal bulan terakhir ya, Dok?"
"Iya."
"Ini obat bulan keenam."
"Jangan lupa tetap diminum setiap hari sampai habis."
"Baik, Dok."
"Nanti setelah obatnya habis, kamu kontrol lagi ya buat mastiin kalau kamu benar-benar udah sembuh"
"Iya, Dok."
Dokter lalu menyerahkan resep kepada Ayla.
"Silakan ambil obatnya di apotek."
"Terima kasih banyak, Dok."
"Sama-sama."
"Semoga sehat selalu."
"Aamiin."
Ayla keluar dari ruang pemeriksaan.
Ia kemudian menuju ruang apotek.
Tak lama menunggu, namanya dipanggil.
"Mbak Ayla."
"Iya."
Petugas menyerahkan beberapa strip obat.
"Ini obat untuk satu bulan terakhir."
"Baik."
"Jangan sampai ada yang terlewat, ya."
"InsyaAllah."
"Terima kasih."
Setelah obat dimasukkan ke dalam tas, Ayla pun keluar dari gedung puskesmas.
Baru beberapa langkah keluar gerbang...
Ia melihat seorang pengemudi ojek sedang menurunkan penumpangnya.
Ayla langsung mengenalinya.
"Pak Udin!"
Pak Udin menoleh.
"Eh, Ayla."
Beliau tersenyum ramah.
"Loh, Ayla pulang?"
"Bukannya sekarang udah keterima kerja di kota?"
Ayla mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, Pak."
"Alhamdulillah Ayla sudah keterima kerja.Cuma hari ini izin pulang setengah hari buat ambil obat TB paru bulan terakhir."
"Oh..."
Pak Udin mengangguk pelan.
"Udah bulan terakhir ya? Alhamdulillah.Semoga kamu sehat terus ya, Ay."
"Aamiin.Makasih ya, Pak."
"Iya, sama-sama."
Ayla kemudian bertanya pelan.
"Oh ya, Pak...Habis ini Bapak ada jemputan lain enggak?"
Pak Udin menggeleng.
"Enggak ada, Ay.Kenapa?"
Ayla tersenyum malu.
"Kalau gitu...Boleh minta tolong anterin Ayla pulang dulu ke rumah? Pengen jenguk Ibu sama Bapak sebentar."
"Oh iya. Boleh, Ay, ayo."
"Terima kasih banyak ya, Pak."
"Sama-sama."
Ayla mengenakan helm yang disodorkan Pak Udin.
Tak lama kemudian, motor kembali melaju meninggalkan halaman puskesmas.
Angin siang berembus pelan menemani perjalanan mereka menuju rumah Ayla.
Sudah hampir dua minggu Ayla tidak pulang.
Hari itu, rasa rindunya kepada kedua orang tuanya akhirnya bisa sedikit terobati.
Tak lama kemudian, motor yang dikendarai Pak Udin memasuki gang kecil menuju rumah Ayla.
Rumah sederhana itu kini terlihat di depan mata.
Hati Ayla terasa hangat.
Sudah hampir dua minggu ia tidak pulang.
Pak Udin menghentikan motornya tepat di depan rumah.
"Udah sampai, Ay."
"Iya, Pak."
Ayla turun sambil melepas helm.
Kemudian ia membuka dompet kecil di dalam tasnya.
Beberapa lembar uang ia keluarkan.
"Pak...Ini ongkosnya."
Pak Udin langsung menggeleng.
"Udah, Ay.Enggak usah."
Ayla tersenyum.
"Jangan gitu, Pak, kan tadi Bapak udah nganter Ayla dari puskesmas sampai rumah.Harus diterima."
Pak Udin terkekeh pelan.
"Kamu ini...Yaudah deh."
Beliau pun menerima uang itu.
"Makasih ya, Ay."
"Iya, Pak."
"Terima kasih juga udah nganterin Ayla."
"Sama-sama."
"Kalau gitu Bapak jalan dulu."
"Iya, Pak."
"Hati-hati di jalan."
Pak Udin mengangguk.
Motor kembali melaju meninggalkan halaman rumah.
Ayla memandangnya sejenak, lalu berbalik menghadap pintu rumah.
Ia menarik napas pelan.
Kemudian mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum..."
Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Wa'alaikumsalam..."
Ibu tampak berdiri di balik pintu.
Begitu melihat Ayla, wajah beliau langsung dipenuhi senyum.
"Ayla..."
Tanpa menunggu lama, Ibu langsung memeluk putrinya.
"Alhamdulillah...Kamu pulang juga."
Ayla membalas pelukan itu.
"Iya, Bu.Ayla pulang dulu ambil obat."
Ibu mengusap lembut bahu Ayla.
"Gimana sekarang kondisi kamu, Nak?"
Ayla tersenyum meyakinkan.
"Alhamdulillah, Bu.Sekarang badan Ayla benar-benar udah sehat.Berobat jalan juga kan udah mau selesai."
Mata Ibu tampak berkaca-kaca.
"Alhamdulillah ya, Nak.Semoga benar-benar sembuh."
"Aamiin."
Ayla kemudian melihat ke arah ruang tengah.
"Bu...Bapak mana?"
"Bapak lagi kerja di sawah Mas Toni."
"Oh..."
Ayla mengangguk pelan.
Kemudian Ayla teringat kejadian di puskesmas.
"Bu...Tadi Ayla sempat kaget."
"Kenapa, Ay?"
"Pas baru sampai di puskesmas ada orang kecelakaan.Terus ada warga yang bilang, 'Ini Pak Dirman'. Katanya, jantung Ayla langsung deg-degan."
Ibu juga ikut terkejut.
"Ya Allah..." Kata ibu
"Ayla langsung lari, Bu. Takut itu Bapak.Alhamdulillah ternyata bukan."
Ibu mengembuskan napas lega.
"Alhamdulillah... Tapi semoga orang itu juga segera diberi kesembuhan."
"Iya bu Aamiin."
Beberapa saat kemudian, Ayla membuka tas yang dibawanya.
Ia mengambil dompet.
Lalu mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Bu..."
"Iya?"
"Ayla memang belum dapat gaji dari kerjaan.Soalnya kan belum sebulan,tapi Alhamdulillah...Ayla udah dapat komisi dari affiliate bu."
"Belum banyak sih, Bu."
"Baru dapat beberapa ratus ribu."
Ayla menyodorkan uang itu kepada Ibunya.
"Ini buat Ibu ya.Buat beli beras."
Ibu langsung menggeleng.
"Udah, Ay.Buat kamu aja dulu,insyaAllah Ibu sama Bapak masih ada.Lagipula Bapak juga masih kerja."
Namun Ayla tetap menyodorkan uang itu.
"Udah, Bu diambil aja, buat beli beras."
"Soalnya kita kan belum bisa nebus sawah yang digadaikan ke Mas Toni."
"Jadi sekarang buat makan juga harus beli beras."
Ibu masih tampak ragu.