Ayla masih memandangi layar ponselnya.
Undangan pernikahan digital itu masih terbuka.
Di bagian atas tertulis nama mempelai pria.
Damar.
Untuk beberapa saat, Ayla hanya terdiam.
Tanpa sadar, pikirannya kembali melayang ke masa lalu.
Ia teringat saat pertama kali mengenal Kak Damar.
Hampir setiap hari mereka saling bertukar pesan.
Obrolannya sederhana.
Kadang hanya mengucapkan selamat pagi.
Menanyakan sudah makan atau belum.
Sesekali saling bercerita tentang aktivitas masing-masing.
Malam hari pun mereka beberapa kali menelepon.
Saat itu, Kak Damar sering bercerita tentang hubungannya dengan Marsha yang sedang mengalami banyak masalah.
Ayla hanya menjadi pendengar.
Sesekali ia memberi saran sebisanya.
Ia tak pernah menyangka, obrolan-obrolan sederhana itu perlahan membuatnya merasa nyaman.
Hingga suatu hari...
Kak Damar pernah berkata,
"Aku nyaman ngobrol sama kamu, Ay."
Bahkan...
Beliau juga pernah mengatakan kalau mulai menyukai Ayla.
Kalimat itu sempat membuat hati Ayla berdebar.
Namun setelah percakapan itu...
Semuanya berubah.
Tak ada lagi pesan selamat pagi.
Tak ada lagi obrolan ringan.
Tak ada lagi telepon malam.
Kak Damar menghilang begitu saja.
Awalnya Ayla sering bertanya-tanya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah ia melakukan kesalahan?
Namun seiring berjalannya waktu...
Pertanyaan-pertanyaan itu perlahan hilang dengan sendirinya.
Lamunan Ayla buyar.
Ia mengembuskan napas pelan.
Lalu tersenyum tipis kepada dirinya sendiri.
"Udahlah...Mungkin aku aja yang terlalu mudah baper.Kalau dipikir-pikir...Mungkin Kak Damar memang enggak pernah punya perasaan seperti yang aku bayangkan."
"Mungkin waktu itu dia bilang nyaman...Ya... nyaman sebagai teman."
Ayla kembali menatap layar ponselnya.
Anehnya...
Kali ini dadanya tidak sesak seperti dulu.
Hanya ada sedikit rasa sedih yang perlahan berubah menjadi rasa ikhlas.
Ia tersenyum kecil.
"Berarti...Ini udah yang kedua ya."
"Dulu kak Revan..."
"Sekarang Kak Damar."
Dua kali ia menyukai seseorang.
Dan dua kali pula...
Perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan.
Namun Ayla tidak lagi ingin larut dalam kesedihan.
Ia justru teringat pelajaran yang pernah Allah tunjukkan melalui semua kejadian itu.
Saat menyukai Revan...
Ia pernah menjadi pribadi yang sangat tidak percaya diri.
Ia terus membandingkan dirinya dengan orang lain.
Merasa kurang cantik.
Merasa kurang pintar.
Merasa tidak pantas.
Padahal...
Semakin ia membandingkan diri, semakin ia lupa mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.
Kini Ayla tersenyum.
"Alhamdulillah...Allah udah nyadarin aku.Insecure cuma bikin aku lupa bersyukur."
Kemudian pikirannya beralih kepada Kak Damar.
Kalau dulu hubungan itu benar-benar berlanjut...
Bisa jadi persahabatannya dengan Marsha justru menjadi rumit.
Padahal Marsha adalah teman baiknya.
Ayla mengangguk pelan.
"MasyaAllah...sekarang aku paham.Kenapa Allah enggak mempersatukan aku dengan ka Revan.Dan juga enggak mempersatukan aku dengan Kak Damar.Karena Allah lagi menjaga aku."
"Menjaga hatiku."
"Menjaga persahabatanku."
"Dan mengajarkan aku supaya enggak memaksakan diri agar disukai seseorang."
Ia menarik napas panjang.
Lalu tersenyum lebih lebar.
"Ternyata rencana Allah...Selalu jauh lebih baik daripada rencana yang aku inginkan."
"Sesuatu yang menurutku baik...Belum tentu memang baik menurut Allah."
Perlahan...
Seluruh beban yang selama ini tersimpan di dalam hatinya seakan ikut terlepas.
Ia benar-benar merasa lega.
Kemudian Ayla membuka kembali ruang obrolannya dengan Kak Damar.
Jarinya mulai mengetik.
(Selamat ya, Kak Damar. Semoga Allah melancarkan sampai hari pernikahan. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin.)
Tak lama kemudian...
Pesan itu terkirim.
Ayla menatap layar beberapa detik.
Lalu menguncinya.
Tidak ada lagi harapan yang tersisa.
Tidak ada lagi pertanyaan.
Tidak ada lagi penyesalan.
Yang ada hanyalah doa yang tulus.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja.
Kemudian mengambil handuk.
"Sudahlah...Sekarang fokus sama kehidupan sendiri."
Ayla pun berjalan menuju kamar mandi.
Suara air yang mengalir perlahan menghapus sisa-sisa kegelisahan di hatinya.
Hari-hari berikutnya kembali berjalan seperti biasa.
Setiap siang...
Ayla mengajar murid-muridnya dengan penuh semangat.
Tawa anak-anak selalu berhasil membuat suasana kelas menjadi hidup.
Sore hari...
Ia kembali membuat video affiliate.
Mencoba berbagai ide baru.
Belajar teknik pengambilan gambar.
Belajar berbicara lebih percaya diri di depan kamera.
Malam harinya...
Setelah salat Isya, Ayla kembali membuka ponselnya.
Novel yang sedang ditulisnya kini semakin banyak dibaca orang.
Sedikit demi sedikit...
Royalti yang diterimanya juga terus bertambah.
Sesekali ia kembali menghubungi kedua orang tuanya.
Menanyakan kabar mereka.
Mengingatkan ayahnya agar tidak terlalu memaksakan diri bekerja.
Dan memastikan ibunya tidak lagi memikirkan utang yang kini mulai berkurang.
Setiap akhir bulan...
Setelah menerima gaji dari lembaga bimbingan belajar, Ayla selalu menyisihkan setengah dari gajinya untuk dikirim kepada kedua orang tuanya.
Uang itu ia niatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, seperti membeli beras dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Sementara setengah gaji yang lain ia tabung.
Sedikit demi sedikit, tabungan itu ia kumpulkan untuk mewujudkan impiannya menebus kembali sawah milik orang tuanya yang masih tergadai kepada Mas Toni.
Di sisi lain...
Penghasilan dari affiliate dan menulis juga ia kelola dengan bijak.
Separuh ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama tinggal di mes tutor.
Sedangkan separuh lainnya ia tabung.
Ia memiliki impian, suatu hari nanti bisa merenovasi rumah sederhana kedua orang tuanya agar menjadi lebih layak dan nyaman ditempati.
Tak hanya itu, sebagian dari tabungan tersebut juga ia siapkan sebagai bekal untuk masa depannya.
Ia belajar bahwa rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak yang dimiliki, tetapi juga tentang bagaimana mengelolanya dengan penuh tanggung jawab.
Seiring berjalannya waktu...
Hari-hari Ayla terasa sederhana.
Namun kini, hatinya justru semakin damai.
Ia tidak lagi sibuk mengejar seseorang untuk membalas perasaannya.
Ia memilih mengejar mimpi-mimpinya. Dan sibuk
memperbaiki diri.
Berbakti kepada kedua orang tuanya.
Dan mendekatkan diri kepada Allah.
Kini Ayla benar-benar telah mengikhlaskan semuanya.
Tentang Revan.
Tentang Damar.
Tentang semua harapan yang dulu pernah memenuhi hatinya.
Ia percaya...
Jika memang Allah telah menulis seseorang sebagai jodohnya...
Maka orang itu akan datang pada waktu yang paling tepat.
Tanpa perlu dipaksa.
Tanpa perlu dikejar.
Dan tanpa perlu membuatnya kehilangan dirinya sendiri.
Dengan keyakinan itu...
Ayla menjalani hari-harinya dengan hati yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Hingga pada suatu malam...
Setelah selesai menulis satu bab novel, Ayla meregangkan tubuhnya.
"Alhamdulillah...Selesai juga."
Ia mengambil ponselnya yang sejak tadi berada di samping .
Baru saja layar menyala...
Muncul sebuah notifikasi chat dari sosial media nya.
Pesan baru.
Pengirimnya adalah akun resmi platform tempat Ayla menulis novel.
Ayla sedikit mengernyit.
"Platform? Ngapain ya?"
Ia pun membuka pesan tersebut.
( Halo Kak Ayla. Selamat malam.
Perkenalkan, kami dari Tim Editorial.
Mohon kesediaannya untuk mengecek email yang telah kami kirimkan. Ada informasi penting mengenai salah satu karya Kak Ayla.
Terima kasih. Kami tunggu kabarnya.)
Ayla berkedip beberapa kali.
"Email?"
"Informasi penting?"
Dengan rasa penasaran, ia segera membuka aplikasi email.
Jantungnya mulai berdebar.
Benar saja.
Di kotak masuk terdapat satu email baru dari tim editorial platform tersebut.
Tangannya sedikit gemetar saat membukanya.
Isi email itu membuat matanya membulat.
(Selamat kepada Kak Ayla.
Setelah melalui proses kurasi oleh tim editorial, novel yang Kakak tulis dinilai memiliki potensi untuk diterbitkan dalam bentuk buku cetak.
Kami mengundang Kakak untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai proses penerbitan, penyuntingan naskah, serta penandatanganan perjanjian kerja sama apabila Kakak berkenan melanjutkan proses ini.)
Untuk beberapa saat...
Ayla hanya terpaku.
Ia membaca ulang email itu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Takut kalau-kalau ia salah membaca.
"Novel..."
"Mau diterbitkan..."
"Jadi buku cetak?"
Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"MasyaAllah..."
"Ya Allah..."
"Ini beneran?"
Ayla sampai mencubit pelan lengannya sendiri.
"Aduh..."
"Sakit..."
Berarti ini bukan mimpi.
Air mata bahagia perlahan mengalir di pipinya.
Selama ini...
Ia hanya menulis di sela-sela kesibukan mengajar.
Kadang satu halaman.
Kadang dua halaman.
Tak pernah terbayang...
Bahwa suatu hari nanti, novel yang ia tulis di kamar sederhana itu akan dilirik oleh penerbit.
Namun beberapa detik kemudian...
Ekspresi Ayla berubah menjadi bingung.
"Loh...Tapi...Aku enggak ngerti prosesnya."
"Kalau novel diterbitkan jadi buku..."
"Harus ngapain ya?"
"Apa harus bayar?"
"Apa naskahnya bakal diubah?"
"Terus... gimana soal kontraknya?"
Banyak sekali pertanyaan memenuhi kepalanya.
Ia kembali membaca email tersebut dengan lebih tenang.
Di bagian akhir tertulis bahwa tim editorial akan menjelaskan seluruh proses kepada Ayla sebelum ia memutuskan menerima atau menolak penawaran tersebut.
Ayla mengembuskan napas lega.
"Oh...Berarti belum harus langsung tanda tangan ya. Nanti dijelasin dulu."
Ia tersenyum kecil.
"Alhamdulillah."
"Yang penting aku dengerin penjelasannya dulu."
"Kalau memang baik, insyaAllah aku lanjut."
Ayla kembali membuka pesan tadi.
Dengan sopan ia membalas.
(Selamat malam, Kak. Terima kasih banyak atas informasinya. Saya sudah membaca emailnya. InsyaAllah saya bersedia untuk berdiskusi lebih lanjut. Terima kasih atas kesempatannya.)
Tak lama kemudian...
Pesan itu terkirim.
Ayla memandang layar ponselnya sambil tersenyum.
Hatinya masih dipenuhi rasa haru.
Tak pernah ia menyangka...
Impian yang selama ini hanya ia simpan dalam doa...
Kini perlahan mulai mengetuk pintu kenyataan.
Di dalam hati, Ayla berbisik,
("Ya Allah...Kalau ini memang jalan terbaik dari-Mu...Mudahkanlah semuanya.Semoga karya ini bukan hanya menjadi rezeki untukku...Tapi juga bisa memberi manfaat untuk banyak orang.")
Malam itu...
Ayla tidur dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Namun satu hal yang ia yakini...
Allah selalu memberi kejutan indah kepada hambanya yang tidak pernah berhenti berusaha dan bersabar.
Pagi itu...
Udara masih terasa sejuk setelah salat Subuh.
Ayla baru saja selesai menunaikan salat.
Ia masih duduk di atas sajadah Senyum tipis menghiasi bibirnya.
Semalaman ia masih sulit mempercayai apa yang terjadi.
Email dari tim editorial itu masih tersimpan di ponselnya.