Cahaya yang Tertunda

Ririn Nuraeni
Chapter #53

Chapter 53 - Mimpi yang menjadi Nyata

Beberapa hari setelah kembali ke kota...

Hari-hari Ayla kembali dipenuhi rutinitas seperti biasa.

Pagi hari ia mengajar di lembaga bimbingan belajar.

Sore harinya membuat video affiliate.

Malam hari, ia sesekali berdiskusi dengan editor mengenai proses penyuntingan novel yang sedang dipersiapkan untuk diterbitkan.

Suatu pagi...

Saat hari libur tiba, Ayla baru saja selesai merapikan kamar mesnya.

Ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar.

Nama yang muncul di layar membuat Ayla tersenyum.

Nova.

Sahabatnya sejak duduk di bangku sekolah.

Ayla segera mengangkat telepon itu.

> ("Assalamu'alaikum, Nov.") 

> ("Wa'alaikumussalam, Ay.Apa kabar?") 

> ("Alhamdulillah baik.Kamu gimana?") 

> ("Baik juga.") 

Nova terdengar mengembuskan napas pelan.

> ("Ay...Maafin aku ya.") 

Ayla sedikit bingung.

> ("Loh? Maafin kenapa?") 

> ("Aku jadi kepikiran terus.Dulu kan aku yang nyuruh kamu daftar kerja di tempat itu.Eh... ternyata kamu enggak keterima.Aku sedih banget waktu itu.") 

Ayla tersenyum kecil.

> ("Enggak apa-apa kok, Nov.Mungkin emang bukan rezeki aku di sana.Alhamdulillah sekarang Allah udah kasih rezeki di tempat lain.") 

Nova langsung penasaran.

> ("Hah?Serius?") 

> ("Iya.Sekarang aku kerja di kota.Jadi tutor Bahasa Inggris.") 

Beberapa detik terdengar suara Nova berseru kegirangan.

> ("MasyaAllah!Serius, Ay? Wih... keren banget! Tapi emang dari zaman sekolah kamu paling jago Bahasa Inggris sih.") 

Ayla tertawa kecil.

> ("Ah... enggak juga.Masih banyak yang lebih jago.") 

Nova ikut tertawa.

Suasana percakapan mereka kembali terasa seperti dulu.

Hangat.

Penuh canda.

Beberapa saat kemudian...

Nada suara Ayla berubah lebih lembut.

> ("Eh iya, Nov...Aku juga mau ngucapin makasih.") 

Nova bingung.

> ("Loh? Makasih kenapa?") 

Ayla tersenyum.

> ("Dulu waktu sekolah...Kan kamu yang pertama kali ngenalin aku sama platform buat nulis novel.") 

> ("Kalau bukan karena kamu...Mungkin sampai sekarang aku enggak bakal berani mulai nulis.") 

Nova terkekeh pelan.

> ("Ih...Aku mah cuma ngasih tahu doang.") 

Ayla menggeleng.

> ("Buat kamu mungkin cuma ngasih tahu.Tapi buat aku...Itu jadi awal dari semuanya.") 

Ayla kembali melanjutkan.

> ("Terus...Lomba cerpen yang dulu juga.Kan kamu juga yang ngabarin aku.Alhamdulillah cerpenku waktu itu masuk sepuluh cerpen terbaik.Sampai diterbitkan dalam buku antologi.") 

Nova tersenyum bangga dari balik telepon.

> ("Iya...Aku masih ingat.") 

Ayla menarik napas pelan.

Senyumnya semakin lebar.

> ("Dan sekarang...Novel yang aku tulis...InsyaAllah mau diterbitkan jadi buku.") 

Nova terdiam.

Beberapa detik tak ada suara.

Lalu terdengar suara yang bergetar karena haru.

> ("Ya Allah...Serius, Ay?") 

> ("Iya.Sekarang lagi proses penyuntingan sama editor.Kalau semua lancar...InsyaAllah beberapa bulan lagi terbit.") 

Nova sampai menutup mulutnya.

Air matanya ikut menetes.

> ("MasyaAllah...Aku bangga banget sama kamu, Ay.Dari dulu aku memang yakin...Kamu pasti bisa.") 

Ayla tersenyum haru.

> ("Makasih ya, Nov.Tanpa kamu...Mungkin aku enggak akan memulai langkah pertama itu.") 

Nova tertawa kecil.

> ("Enggak usah berterima kasih.Yang hebat itu kamu.Aku cuma nunjukin jalannya.Yang berjuang sampai sejauh ini kan kamu sendiri.") 

Ayla tersenyum sambil menatap langit pagi dari jendela kamarnya.

Hatinya dipenuhi rasa syukur.

Kadang...

Allah menghadirkan seseorang bukan untuk menyelesaikan perjuangan kita.

Melainkan...

Untuk menunjukkan langkah pertama yang mengubah seluruh perjalanan hidup kita.

Tak lama kemudian...

Nova kembali bertanya.

> ("Eh Ay...Kalau bukunya udah terbit...Jangan lupa aku ya.Aku mau jadi orang pertama yang beli.") 

Ayla tertawa kecil.

> ("Ih... ngapain beli.Nanti aku kasih satu buat kamu.") 

Nova langsung protes.

> ("Enggak mau.Aku tetap mau beli.Biar sekalian dukung karya sahabatku.") 

Mata Ayla kembali berkaca-kaca.

> ("Makasih ya, Nov.Aku senang banget punya sahabat kayak kamu.") 

> ("Aku juga, Ay.Semoga nanti bukunya laris.") 

> ("Aamiin.") 

Tak lama kemudian mereka mengakhiri telepon dengan saling mengucapkan salam.

Ayla meletakkan ponselnya di atas meja.

Senyumnya tak kunjung hilang.

Ia kembali membuka ponselnya... 

Ia membuka email dari editor.

Beberapa revisi terakhir sudah selesai ia kerjakan.

Kini...

Tak ada lagi yang perlu diperbaiki.

Naskah novel itu resmi dinyatakan siap naik ke tahap desain sampul dan pencetakan.

Melihat email tersebut...

Ayla mengembuskan napas panjang.

"Alhamdulillah...Semoga semuanya lancar."

Beberapa bulan kemudian...

Hari itu...

Seperti biasa, Ayla sedang mengajar murid-muridnya di lembaga bimbingan belajar.

Selesai mengajar, ia kembali ke kamar mes untuk beristirahat.

Baru saja ia meletakkan tas...

Ponselnya berdering.

Di layar tertera nama yang sudah tidak asing lagi.

Kak Liska Tim Editorial.

Ayla segera mengangkat telepon tersebut.

> ("Assalamu'alaikum.") 

> ("Wa'alaikumussalam, Kak Ayla.Selamat siang.") 

> ("Selamat siang, Kak.") 

> ("Apa kabar?") 

> ("Alhamdulillah baik.") 

Suara di seberang telepon terdengar ceria.

> ("Kak Ayla...Kami menelepon untuk menyampaikan kabar baik.") 

Jantung Ayla mulai berdebar.

> ("Alhamdulillah...Apa ya, Kak?") 

Editor tersenyum.

> ("Novel Kakak sudah selesai melalui seluruh proses penyuntingan, desain, dan pencetakan.Hari ini buku Kakak resmi selesai diproduksi.") 

Untuk beberapa saat...

Ayla terdiam.

Matanya mulai berkaca-kaca.

> ("MasyaAllah...Alhamdulillah...Terima kasih banyak, Kak.") 

Editor kembali melanjutkan.

> ("Sebentar ya, Kak.Saya kirim foto bukunya dulu.") 

Tak lama kemudian...

Ponsel Ayla berbunyi.

Sebuah pesan masuk.

Tangannya sedikit gemetar saat membukanya.

Di layar...

Terlihat foto sebuah novel dengan sampul yang begitu indah.

Di bagian bawah sampul itu...

Tertera nama penulis.

Ayla Larasati. 

Ayla menatap foto itu cukup lama.

Air matanya perlahan mengalir.

Selama ini...

Ia hanya melihat novel itu dalam bentuk tulisan di layar ponselnya.

Kini...

Cerita itu benar-benar telah menjadi sebuah buku.

"MasyaAllah...Ya Allah...Terima kasih..."

Suara Ayla mulai bergetar.

Editor ikut tersenyum mendengar harunya Ayla.

> ("Selamat ya, Kak.Perjuangan Kakak akhirnya membuahkan hasil.Sesuai perjanjian kerja sama...Kami juga akan mengirim beberapa eksemplar buku ke alamat Kakak sebagai buku penulis.") 

Ayla mengusap air matanya.

> ("Baik, Kak.Terima kasih banyak.Saya benar-benar enggak tahu harus bilang apa.Saya senang sekali.") 

> ("Sama-sama, Kak.Semoga novelnya diterima dengan baik oleh para pembaca.") 

> ("Aamiin.") 

Setelah mengakhiri telepon...

Ayla masih memandangi foto sampul novel itu.

Senyumnya tak pernah lepas.

Di dalam hati ia berbisik,

"Ya Allah...

Dulu aku hanya menulis di sela-sela kesibukan.

Tak pernah kusangka...

Tulisan sederhana itu kini benar-benar menjadi sebuah buku."

Tiga hari kemudian...

Sebuah paket datang ke mes tempat Ayla tinggal.

Di bagian pengirim tertulis nama penerbit.

Jantung Ayla kembali berdebar.

Ia membawa paket itu ke dalam kamar.

Perlahan...

Lakban kardus itu ia buka.

Begitu tutup kardus terangkat...

Beberapa eksemplar novel tersusun rapi di dalamnya.

Kali ini...

Bukan hanya melalui foto.

Melainkan benar-benar berada di hadapannya.

Dengan tangan yang masih gemetar...

Ayla mengambil satu buku.

Jemarinya mengusap perlahan nama yang tercetak di sampul.

Air mata bahagia kembali jatuh.

Ia memeluk buku pertamanya erat-erat.

"Alhamdulillah...Ya Allah...Terima kasih...Ini benar-benar nyata."

Masih dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya...

Ayla kembali membuka kardus tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa eksemplar novel.

Selain itu...

Ada sepucuk surat dari tim editorial.

Dengan penasaran, Ayla membukanya.

(Selamat, Kak Ayla.

Terima kasih telah mempercayakan karya Kakak kepada kami.

Semoga buku ini menjadi awal dari lahirnya karya-karya terbaik berikutnya.

Teruslah menulis dan menginspirasi banyak orang.

Salam hangat,

Tim Editorial.) 

Ayla tersenyum haru.

Ia melipat kembali surat itu dengan hati-hati.

Kemudian menyimpannya di dalam laci meja.

"InsyaAllah...Aku akan terus belajar."

Tak lama kemudian...

Ayla mengambil ponselnya.

Orang pertama yang ingin ia beri kabar adalah kedua orang tuanya.

Telepon pun tersambung.

> ("Assalamu'alaikum, Bu.") 

> ("Wa'alaikumsalam, Ay.Gimana kabarnya, Nak?") 

Dengan suara yang masih bergetar menahan haru, Ayla berkata,

> ("Bu...Bukunya udah jadi.") 

Bu Sarti terdiam.

> ("Maksudnya...") 

> ("Novel Ayla, Bu.Sekarang udah jadi buku.") 

Beberapa detik...

Tak terdengar suara apa pun.

Lalu terdengar isak tangis dari seberang telepon.

> ("Alhamdulillah...MasyaAllah...Beneran, Ay?") 

> ("Iya, Bu.Baru tadi paketnya sampai.") 

Pak Dirman yang mendengar percakapan itu langsung mendekat.

 "Siapa, Bu?"

Bu Sarti sambil menangis menyerahkan ponselnya.

Lihat selengkapnya