Blurb
Setelah telingaku tak lagi sanggup menangkap bunyi dan segala yang bergulir di sekitarku menjadi sesunyi potret sepia, warna pun memudar dari hidupku dan dunia perlahan-lahan meninggalkanku dalam kegelapan. Mungkin, pada suatu pagi yang sebentar lagi, aku akan terjaga di dunia monokrom yang hanya menawarkan adegan-adegan bisu.
Ketulianku datang tiba-tiba, tapi kebutaanku tidak. Aku hampir tidak menyadarinya, justru. Ia pencuri yang lihai, hanya mengambil sedikit-sedikit, tak gegabah merenggut semua sekaligus—semula hanya secercah warna, lalu senoktah lagi esok harinya, kemudian sedikit lagi, hingga yang tersisa tinggal kelam berselubung tabun kelabu, atau bayang-bayang yang mendekati muram malam. Aku tak tahu sudah berapa banyak yang diambilnya. Aku hanya tahu, di mataku, dunia memudar menjadi rabun yang sunyi.
___
Di sebuah sanatorium yang diselimuti kabut, Lusi perlahan kehilangan dunia yang ia kenal—suara memudar, warna menghilang.
Ditemani kakaknya, Chi, ia menulis hari-harinya dalam sebuah buku yang ia sebut Buku Kerang: tentang kenangan, tentang cinta, tentang hal-hal kecil yang tetap bertahan di tengah kesunyian.
Namun, ada sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi—sebuah dunia lain yang berjalan beriringan dengan hidupnya, sejak perjamuan teh di hutan yang mengubah segalanya.
Dan ketika suatu pagi ia kembali mendengar sesuatu yang telah lama hilang, Lusi menyadari—mungkin yang tersisa bukanlah kehilangan, melainkan cara baru untuk pulang.