Entah berapa lama kami duduk di sini, di hadapan air yang mengalir. Tahu-tahu, matahari sudah mencapai puncak kepala. Beberapa petani terlihat menuruni bukit. Sebagian menaruh sepeda di depan warung dan memasuki tenda, sebagian lagi meneruskan perjalanan. Mungkin sudah jam makan siang. Ketika lambungku berbunyi sumbang, seorang suster datang menjemput. Katanya, kami terlalu lama di luar. Dia jadi khawatir. Tapi, karena Chi sudah memberitahu ke mana kami pergi, mudah saja menemukan kami.
"Ah, sekalian saja, mau makan di sini?"
Suster Kiarra mengajak kami memasuki warung. Dia menanyai kami mau makan apa. Aku menjawab, tak perlu repot-repot, tapi dia memaksa. Aku tidak tahu apakah seorang suster boleh mentraktir pasiennya, tapi akhirnya aku menyerah dan memesan semangkuk kacang ijo yang juga dilengkapi ketan dan potongan roti tawar. Lagi-lagi enak sekali, dan hangat. Chi dan Suster masing-masing memesan Indomie rebus dan nasi campur.
"Kalian harus mendatanginya lagi setelah gelap datang. Di sini langitnya indah sekali, sarat bintang, dan kalau beruntung, kita dapat melihat Bimasakti."
"Benarkah? Tapi, apa boleh?"
Suster Kiarra hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
Karena perutku sudah penuh dan terlalu banyak meminum teh panas (aku menghabiskan dua gelas besar), keringat sebesar jagung mengalir di keningku, seperti makan cabai saja. Aku izin keluar, mencari udara segar di bantaran sungai.
Angin yang berembus sayup-sayup terasa sejuk.
Aku menciduk setangkup air di sungai dan membasuh wajahku, ternyata dingin sekali. Sementara Chi dan Suster mengobrol, aku berjalan di sepanjang bantaran dan memperhatikan rumput-rumput yang mengalir dipermainkan cuaca. Padahal pemandangannya selalu sama—letak batunya sama dan ikan-ikan yang merenanginya pun sama, tapi segalanya terasa berbeda. Perlahan-lahan aku mulai mampu mendengarnya. Bukan onomatope, melainkan suara air yang sesungguhnya, tapi ketika aku mengejarnya, ia hilang.
Saat-saat singkat ketika suara menyelinap di dalam kepalaku adalah saat-saat indah nan berharga, dan aku selalu mensyukurinya dengan sepenuh hati. Berbahagialah kalian yang sanggup mendengar, yang telinganya tidak menolak bunyi — berbahagialah kalian yang mampu menikmati denting lembut piano. Dulu, setiap kali memandang laut, aku juga mendengar lagu yang dimainkan ombak dengan titinada sempurna. Seperti Canon in D. Kadang, aku mendengar simfoni Bach yang dalam dan rumit, tapi disajikan dengan begitu sederhana.
Setelah jam makan siang, para petani kembali menaiki bukit. Udara senyap. Capung-capung bertebangan di permukaan sungai. Gerakannya kaku dan tidak alami—sebentar berhenti di satu titik, lalu melesat lagi, kemudian diam lagi, tak bergerak, dan saat aku mengerjap, dia sudah lenyap. Aku berjalan menyusuri sisi sungai. Di sebelah sana, ada pohon petai yang dahan-dahannya menjulur panjang hingga ke seberang. Buah-buahnya menjuntai sepasang-sepasang.
Ah, di sini enak. Sejuk.
Ada tiga pertapa, barangkali biksu, yang berjalan menuruni bukit. Saat mereka mendekat, aku berdiri dan beranjali. Aku menyukai biksu-biksu. Aku menyukai kedamaian yang terpancar di mata mereka. Salah satu biksu tertua, mengatakan sesuatu kepadaku, tapi aku tak mampu mendengarnya—sepertinya dia bicara dengan nada yang luar biasa pelan; sukar bagiku membaca gerak bibir yang nyaris tak bergerak. Aku memberi tahunya bahwa aku tuli. Dia terlihat kaget, tapi tenang kembali, lalu memberkatiku dan mengucapkan sepatah doa. Aku berterima kasih sedalam-dalamnya.
Setelah Chi Vivian dan Suster Kiarra menyusulku, kami berjalan menuju rumah. Aku mendorong kursi roda yang seharusnya aku duduki.
"Memangnya di dekat sini ada wihara ya, Chi?"
"Tidak tahu."