Dengan menulis bergantian di buku catatan, Suster Kiarra dan aku bertukar cerita. Tanpa sadar, kami sudah menghabiskan lebih dari 10 halaman. Tulisan Suster Kiarra kecil-kecil, tetapi rapi dan mudah dibaca. Ia merangkai segenap kata dengan sangat hati-hati, terkadang hanya memiliki satu paragraf sepanjang halaman. Aku sangat suka membacanya dan berpikir membeli buku khusus untuk kami. Sayang jika hanya di buku tulis bersahaja — kebetulan sudah hampir habis halamannya. Mungkin sore atau esok hari. Aku ingin mengajak Chi membeli jurnal di seberang Gereja. Nama tokonya "Peri Buku". Aku pikir terinspirasi Periplus, tetapi ternyata diambil dari nama pemiliknya, Peri.
"Tapi memang terinspirasi, kok. Awalnya mau dinamai Peribook, tapi akhirnya pakai bahasa Indonesia saja. Peribuku."
Selain stasioneri, ia juga menjual berbagai buku bekas. Jika kau sudah berlangganan di sana, ia tahu selera-selera bacaanmu, dan menyimpankannya untukmu — biasanya dalam kardus-kardus sepatu yang sepertinya setua waktu.
Chi memasang kuda-kuda kanvas di teras. Hendak "mencicil" tugasnya. Sebelum memulai garis pertama, ia menengadah memandang langit. Cuaca cerah dan langit terbuka, tidak terlihat satu pun awan. Sungguh tepat untuk melukis. Udaranya pun tidak terlalu dingin, dan kabut-kabut sudah lama tersibak.
Beberapa hari lalu, seorang teman yang Chi anggap agennya berkata, ada seseorang yang tertarik memesan jasanya dan menanyakan persetujuannya.
"Tapi bukan lukisan wajah seperti biasa," katanya, "melainkan sampul buku."
Chi yang sudah lama ingin menjadi ilustrator langsung antusias.
"Seperti apa bukunya? Ceritanya seru? Buku anak atau—?"
Tapi akhirnya Chi mengangguk. Dia berkata mau tiga kali. Jika sesuai seleranya, ia pasti menyetujuinya.
Selama cuti kuliah, melalui perantaraan temannya, Chi membuka jasa melukis dengan kuota tertentu setiap bulannya, tapi biasanya yang masuk hanya lukisan wajah. Jarang sekali ada permintaan lain, apalagi melukis sampul buku.
Tiga hari kemudian, ada paket datang. Rupanya, selain konsep, penulisnya mengirim naskah novelnya sekalian. Ia berhenti mengerjakan pesanan dan membacanya selama berhari-hari. Karena selalu menghayati setiap kata dengan secermat mungkin, ia butuh waktu seminggu untuk menamatkannya, padahal halamannya tidak banyak, mungkin hanya dua ratusan. Aku ingin membacanya juga, tapi Chi melarangnya. Masih rahasia, katanya. Esoknya, setelah menentukan tenggat, sebagian pembayaran dibayar di muka.
Seraya duduk di ayunan aku memandang pohon randu yang tumbuh di sampingku. Daun-daunnya yang lebat tumbuh tanpa mengenal musim. Sebagian dahan sudah digelantungi buah-buah kapuk. Ketika kapas-kapasnya gugur, suasananya jadi seperti musim "salju". Beberapa helai kapuk melandai di rambut dan bahuku. Helai-helai yang lain, menutupi sebagian tanah halaman. Beberapa sisanya sudah layu dan kotor. Aku enggan membersihkan yang jatuh di bahuku, tapi tak tahan mengumpulkannya menjadi buntalan-buntalan yang kulempar ke pojok kebun.
Dengan menikmati gugurnya buah-buah randu, salah satu cita-citaku terwujud. Sejak dulu, aku ingin melihat salju. Lusi-yang-lain sudah mengalaminya, tapi aku belum. Akhirnya aku menyadari, yang tak kalah penting dari pengalaman meraih sesuatu, adalah perasaannya—dan aku sudah mencapai yang itu. Cahaya yang jatuh di dahan menciptakan titik-titik di tanah. Aku memeluk jaketku.
Chi menjuluki pohon randu pohon tidur, sebab kapuk-kapuk yang berguguran mengingatkannya kepada bantal.
Besi-besi penyangga ayunan tua yang kududuki sudah berkarat dan bagian bangkunya sedikit berembun. Aku mengayunnya perlahan, tapi berat sekali, engselnya kurang diminyaki. Setelah beberapa kali mencoba, aku menyerah dan duduk di sudut bangku, dalam naungan ranting-ranting randu, lalu memandang Chi dan Suster Kiarra mengobrol.
Aku sedikit cemburu melihat Suster Kiarra dekat dengan Chi. Apalagi saat dia merunduk di samping Chi. Rambutnya yang panjang dan berwarna cokelat tua jatuh di bahu kirinya. Chi tidak tampak terganggu. Setelah mengatakan sesuatu entah apa kepada Suster Kiarra, dia memandang matanya dan tertawa. Tapi rasa cemburuku tidak berlangsung lama. Sebaliknya, aku justru lega sebab di sanatoriun yang sepi ini, Chi mempunyai teman lain selain aku—yang bisa diajaknya bicara tanpa harus menggunakan bahasa isyarat.
Aku kembali mengayun ayunanku yang menggemakan suara karat—andai saja telingaku dapat mendengar. Tak lama kemudian, Suster Kiarra datang menghampiriku. Dia mengayunku lamat-lamat. Kami tidak membincangkan apa pun, tapi hatiku tenteram. Hening yang terlahir di antara kami terasa alami.