Cakrawala yang Sunyi

Rafael Yanuar
Chapter #11

Hujan Turun Sepanjang Jalan (2)

Pagi tadi aku menyantap satu setengah kroisan dan secangkir teh hangat. Biasanya cukup, tapi rupanya dingin membuat cacing-cacing di perutku menuntut lebih. Aku jadi ingin makan mi ayam di warung tepi sungai. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya beberapa meter di seberang sanatorium.

"Ayo," kata Chi. "Enak, lo. Beda dari biasa."

Di mata Chi, segalanya beda dari biasa—tak ada dua rasa yang persis sama. Manis yang satu berbeda dengan yang lain, gurih yang satu beda dengan yang lain.

Aku mengangguk.

Karena sudah lama tinggal di sanatorium, meski tidak selalu benar, aku mulai memahami sifat cuaca. Jika deras sudah kadung jadi gerimis, biasanya susah untuk kembali menjadi deras.

Aku memandang jendela dan mendapati hujan hanya menyisakan gerimis tipis yang nyaris tak terlihat andai tidak disentuh cahaya. Aku pun menyimpulkan, hujan tidak mungkin turun lagi, setidaknya hingga sore nanti. Masalahnya tinggal tanah yang mungkin masih masih mengandung lempung.

Saat Chi izin kepada perawat dan menghilang di balik ruang suster, aku bersandar di balik jendela dan memandang anak-anak bermain lato-lato di halaman. Beberapa duduk di ayunan, beberapa lainnya di tangga perosotan, tapi tidak ada yang meluncur di papannya. Mereka anak-anak setempat, bukan penghuni sanatorium. Mereka bebas memasukinya selama tidak mengganggu—dan sepertinya tidak ada satu pun yang terganggu. Bahkan sebaliknya, pasien sepertiku senang jika suasana di sanatorium yang biasanya sunyi jadi sedikit ramai. Seperti hidup. Tak ada yang seindah tawa dan mata seorang anak. Sejernih cuaca sehabis hujan.

Aku memperhatikan seorang gadis kecil mengenakan gaun berwarna putih, tengah duduk termangu di pojok taman. Aku belum pernah melihatnya, dan sepertinya dia bukan penduduk setempat. Penampilannya jauh berbeda dengan anak-anak lain. Dia membaca buku yang besar sekali. The Story of Philosophy karya Bryan Mage. Aku sempat meminjamnya di perpustakaan dan melahapnya dalam empat hari. Buku tersebut lebar dan sarat gambar—seperti ensiklopedka, tapi tidak terlalu tebal.

Sepertinya ada satu lema yang membuatnya tertarik. Dia membacanya dengan posisi begitu dekat, sampai-sampai aku cemas hidungnya jatuh menyentuh lembar halaman. Lalu dia menengadah dan menyadari pandanganku. Kami bersitatap sejenak, tapi dia segera memalingkan wajah. Kesan pertamaku kepadanya tidak begitu baik, tapi dia terlihat seperti malaikat, dengan rambut panjang sebahu dan kulit seputih salju, tapi entah bagaimana tidak terlihat pucat sama sekali. Ia begitu cantik dan murni—seolah bukan dari dunia ini.

Jika mengingat betapa sering aku bermimpi—dan di dalam mimpi itu aku berteman dengan makhluk-makhluk yang ada dan mungkin tak ada—aku tidak akan terkejut jika ia benar-benar sosok tak kasatmata yang sengaja mengada. Andai kau memahami maksudku.

Dalam rimbun dedaunan, dengan pandangan mata yang hampir-hampir menerawang, ia seolah menyembunyikan kedalaman yang jauh melampaui usianya. Tapi mungkin penilaianku bias semata. Jarak kami cukup jauh, dan aku belum jua mengenal ia. Tapi tidak lama lagi kami akan menjadi sepasang sahabat.

Sudah beberapa bulan lamanya, lato-lato menjadi permainan yang disukai anak-anak, dan aku sempat memainkannya, tapi ternyata tidak semudah yang terlihat. Selalu saja tidak seimbang, berat sebelah, dan tidak memantul dengan sempurna. Karena baru terkenal setelah aku tak sanggup mendengar, aku tak tahu bagaimana bunyinya. Mau dibayangkan pun percuma. Hanya tak tak tak tak yang terngiang di kepala, seperti yang dikatakan Chi. Mirip bunyi alu di lesung, katanya, yang menghiasi hari-hari masa kanak kami. Jika benar begitu, aku jadi menyesali ketidakmampuanku mendengar. Hampir setiap hari, almarhumah Nenek, Ibu, dan tetangga menumbuk alu di halaman belakang rumah kami yang dipenuhi ayam. Setelah selesai ditumbuk, padi-padi akan ditumpahkan ke ayakan, kemudian diaduk-aduk hingga menjelang petang. Sudah lama aku tidak mendengarnya, terutama sejak Nenek meninggal. Jika suara lato-lato mirip dengan alu di lesung, aku ingin mendengarnya.

Chi datang beberapa saat kemudian dengan membawa payung transparan. Jangan sampai hilang, ya, katanya. Ini punya Ibu Antoni.

Ketika kami berjalan, aku memandangi tetes-tetes air yang jatuh di permukaan payung. Hujan pagi tadi ternyata lebih deras daripada dugaanku semula. Bunga-bunga yang tumbuh di sisi setapak berguguran, menciptakan pemandangan warna-warni seolah hendak dilewati mempelai pada pesta perkawinan hutan. Sekalipun ada duka mendalam saat menyadari betapa singkatnya usia bunga-bunga, saat memandangnya, hatiku justru demikian damai, entah kenapa. Aku yang hampir tak sanggup melihat apa pun—mendung kelabu seolah menodai semua warna—tersadar, ternyata warna-warna indah itu belum benar-benar meninggalkanku. Aku keluar dari payung untuk mengambil sekuntum bunga kuning cerah, lalu memasukkannya dalam tas.

Sesampainya di sisi sungai, kami mendapati warung masih tutup, padahal sudah siang dan gerimis yang sejak tadi turun ritmis, mereda dan tinggal setipis sunyi. Kami memutuskan duduk di sisi warung, dalam naungan rimbun mahoni yang buah-buahnya menggelantung rendah hampir jatuh. Kata Chi, ada suara siamang di kejauhan. Karena tidak punya bayangan seperti apa suaranya, aku bertanya kepada Chi. Chi yang bingung menjelaskannya mengangkat dagunya dengan sidik jempol, lalu mengambil buku yang senantiasa dibawanya. Dia membuat gambar siamang yang dilengkapi balon dialog. U—kukukukukuk! Aku mencoba menirukannya dengan suaraku, tapi kenapa tanganku malah berpose seperti ayam. Karena Chi tertawa, aku meneruskannya. U—kukukukukukuk!

Bangku yang kami duduki menawarkan pemandangan bukit yang menghijau dan berkilau, seolah setiap pohon dihiasi permata yang embun. Kami memandang sungai yang mengalir deras, lebih deras dari kemarin. Tetapi waktu terasa lambat bergulir, bahkan seperti tidak bergerak sama sekali. Kami berada pada "saat ini" yang abadi.

Dari bangku bambu di depan warung, kami memandang setapak yang biasanya dilewati petani dan jalan terjal di sisi lembah, di bantaran sungai. Jika kau menyusurinya, di ujungnya ada jalan raya yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk dilewati dua mobil. Ada sebuah halte tua yang bentuknya menyerupai gubuk kayu di salah satu sisinya. Jika kau duduk di bangkunya, dapat kaupandang ladang-ladang yang membentang di lereng lembah. Di dinding belakang halte ada bingkai kosong yang tidak berkaca. Bangkunya terkadang dipenuhi sampah daun yang harus digusah sebelum diduduki. Chi ingin melihatnya bersamaku. Aku yakin halte itu indah sekali, katanya. Jika sudah begitu, aku hanya bisa mengiakan. Hanya saja karena jalan setapaknya terjal, aku sedikit gentar. Chi memutuskan untuk mengambil kursi rodaku di sanatorium, tapi aku berkata, tongkat saja cukup. Benar? Aku mengangguk. Lalu dia memintaku menunggunya sementara dia mengambil tongkat di kamar kami.

Sementara Chi pergi, aku memandangi capung-capung yang melintas di atas sungai—ada empat yang berbaris dua-dua tapi tidak sejajar. Di salah satu buku yang tak kuingat lagi judulnya, sepertinya ensiklopedia dari lemari Chi, aku mendapati fakta bahwa capung adalah penanda bahwa air di sekitar kami masih murni. Aku belum pernah meminum air dari mata air murni. Jadi aku duduk bersimpuh di hadapan sungai itu, lalu menangkup airnya dengan dua tanganku. Ternyata rasanya enak sekali. Aku minum sekitar tiga gelas kecil. Aku jadi penasaran bagaimana rasanya jika air ini dijadikan teh. Lalu aku menengadah dan melihat seekor elang hutan terbang rendah—hanya sedikit di atas pohon mahoni—berputar-putar mencari mangsa.

Saat melihatnya, aku teringat masa kecilku.

Lihat selengkapnya