Calon Guberunur: Kursi, Istri, dan Orang Ketiga

sony herdiana
Chapter #1

BAB 1 PRIA PALING BERUNTUNG

Cahaya blitz kamera itu membutakan. Seratus, mungkin seribu kilatan dalam satu menit. Seperti rentetan tembakan tanpa peluru yang diarahkan tepat ke wajahnya.

Baskara tersenyum.

Itu senyum yang sudah ia latih di depan cermin selama belasan tahun. Sudut bibir terangkat simetris, mata menyipit sedikit untuk menunjukkan ketulusan, dan dagu diangkat lima derajat. Sempurna.

“Pak Baskara! Pak Baskara! Lihat sini, Pak!”

“Apakah ini sinyal kuat rekomendasi partai akan jatuh ke Bapak?”

Pertanyaan wartawan itu menembus ingar-bingar. Baskara tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya memperlebar senyumnya sambil mengangkat trofi kristal di tangannya. Anugerah Politisi Muda Paling Berpengaruh 2025.

Di dalam kepalanya, kalkulasi berjalan cepat. Survei elektabilitas naik 2% setelah malam ini. Cukup untuk membungkam faksi oposisi di internal partai. Tiket Calon Gubernur itu harusnya aman.

Di sampingnya, Alina, Istrinya. Berdiri tegak.

Alina mengenakan kebaya modern berwarna kuning gading—warna kebesaran partai mereka—yang memeluk tubuh rampingnya dengan elegan. Tangan wanita itu melingkar di lengan Baskara. Sentuhan itu lembut, tapi cengkeramannya kuat. Seolah mengingatkan: Jangan jatuh. Rekomendasi DPP belum turun. Kita belum aman.

“Senyum, Mas,” bisik Alina tanpa menggerakkan bibir. Suaranya rendah, nyaris tak terdengar. “Sekjen Partai sedang melihat kita dari meja bundar.”

Baskara menurut. Ia menoleh ke arah meja VIP, mengangguk hormat pada para petinggi partai yang memegang nasib kariernya.

“Terima kasih,” suara sedikit berat Baskara menggema lewat mikrofon. “Penghargaan ini bukan hanya milik saya. Ini juga milik istri saya, Alina, yang selalu menjadi kompas moral saya. Tanpa keluarga yang utuh, seorang pemimpin tidak akan bisa mengutuhkan rakyatnya.”

Tepuk tangan gemuruh. Isu 'Family Man' adalah jualan utama Baskara untuk mengalahkan kandidat internal lainnya yang punya rekam jejak kawin-cerai. Itu kartu As-nya.

Tepat saat tepuk tangan memuncak, saku jas bagian dalam Baskara bergetar.

Bukan saku celana. Tapi saku jas, tepat di atas jantungnya. Tempat ia menyimpan HP “hantu”. Ponsel yang tidak terdaftar, yang nomornya hanya diketahui satu orang.

Getaran itu pendek. Dua kali.

Jantung Baskara melompat, memukul rusuknya lebih keras daripada suara sound system. Adrenalin itu datang. Rasa takut yang bercampur dengan gairah memabukkan. Di tengah pertaruhan karier terbesarnya, ada seseorang yang menyentuhnya lewat sinyal digital.

“Kita harus turun,” bisik Alina, kali ini sambil tersenyum manis ke arah kamera. “Bramantyo sudah mulai keliling menyalami donatur. Jangan sampai panggungmu dicuri dia.”

Nama itu membuat rahang Baskara mengeras. Bram. Kolega satu partai, sekaligus predator yang siap menyambar tiket calon gubernur jika Baskara terpeleset sedikit saja.

“Aku ke toilet sebentar,” kata Baskara cepat.

Alina menoleh, tatapannya menajam. “Sekarang? Di momen krusial ini?”

“Cuma lima menit. Perutku melilit karena wine tadi.” Baskara memasang wajah mulas yang meyakinkan. “Kamu tahan mereka. Entertain Pak Sekjen. Kamu jagonya.”

Alina menatapnya dua detik—tatapan yang seolah menimbang untung rugi—sebelum akhirnya mengangguk. “Tiga menit. Jangan lebih. Dan pastikan tidak ada bau aneh.”

Baskara berbalik, berjalan menembus kerumunan, menyalami beberapa tangan, tapi kakinya melangkah cepat seperti buronan.

Ia mendorong pintu toilet VIP. Kosong.

Aroma Lavender menyambutnya. Baskara masuk ke bilik paling ujung, mengunci pintu, dan bersandar di sana dengan napas memburu. Ia melonggarkan dasi yang terasa seperti jerat gantung.

Tangannya gemetar saat merogoh saku jas dalam. Layar menyala. Satu notifikasi video call tak terjawab. Dan satu pesan masuk.

 

Selamat ya, Pak Calon Gubernur. Ganteng banget di TV. Tapi dasinya miring dikit. Sini aku benerin.

 

Pesan itu dari Vea.

Darah Baskara berdesir panas. Ia tahu ini gila. Satu langkah salah, tiket partai melayang ke tangan Bram. Tapi ia butuh ini. Ia butuh obat penenangnya.

Lihat selengkapnya