Dua hari setelah malam penganugerahan itu.
Baskara tahu dia sedang bermain api. Mobil dinasnya sudah diparkir aman di basement kantor partai, diganti dengan taksi online yang dipesan menggunakan akun samaran, menuju sebuah apartemen mewah di Jakarta Selatan.
Lantai 15. Unit hook dengan pemandangan kota yang gemerlap.
Baskara memasukkan kode-kode angka. Bunyi beep pendek terdengar seperti suara pintu surga yang terbuka.
Begitu pintu terbuka, alunan musik jazz instrumental yang lembut menyambutnya, bercampur dengan aroma vanila dan sandalwood. Bukan aroma disinfektan mahal seperti di rumahnya. Bukan aroma bunga sedap malam yang selalu dipasang Alina di vas ruang tamu—aroma yang mengingatkannya pada upacara kematian. Ini aroma kehidupan yang elegan.
“Mas Baskara.”
Vea tidak berlari menyambutnya. Wanita itu bersandar santai di ambang pintu pantry, melipat satu tangan di dada sementara tangan lainnya memegang gelas berkaki ramping berisi cairan merah gelap.
Dia mengenakan kemeja putih kebesaran, kemeja Baskara yang sengaja ditinggal. Lengan kemeja itu digulung rapi sesiku, kancing atas dibuka tepat di titik yang menggoda tapi tidak murahan, dan rambut basahnya disisir rapi ke belakang, menampilkan leher jenjangnya.
“Kamu telat sepuluh menit, Pak Kandidat,” sapa Vea dengan senyum miring. Suaranya tenang, namun menuntut. “Waktuku mahal, lho.”
Baskara mendekat, keletihan di wajahnya langsung luruh melihat pemandangan itu. Dia merengkuh pinggang Vea, menenggelamkan wajah di ceruk leher wanita itu.
“Macet, Sayang. Ada demo di depan Gedung DPR.”
Vea tidak langsung membalas pelukan itu. Dia membiarkan Baskara memeluknya sejenak—memberi jeda agar pria itu tahu siapa yang butuh siapa—baru kemudian jemarinya membelai lembut tengkuk Baskara.
“Alasan diterima,” bisik Vea, lalu menyesap sedikit wine-nya. “Ayo makan. Keburu dingin.”
Baskara mengikuti Vea ke meja makan marmer itu. Di sana, tersaji kontradiksi yang menggelikan sekaligus mewah.
“Nasi goreng gila,” kata Vea bangga, menarik kursi untuk Baskara.
Makanan pinggir jalan yang berminyak itu tidak disajikan di piring biasa, melainkan di atas piring keramik hitam matte buatan desainer lokal, ditata rapi dengan garnish bawang goreng yang artistik. Di sebelahnya, segelas wine merah sudah terisi untuk Baskara.
“Pakai sosis yang banyak. Nggak pakai sayur. Persis seperti pesananmu,” lanjut Vea. Dia duduk di seberang Baskara, menopang dagu dengan anggun.
Di rumah, Alina selalu mengatur asupan kalorinya seperti sipir penjara. Karbohidrat dikurangi, perbanyak serat, jaga lingkar perut untuk foto baliho. Di sini, Vea memberinya racun yang nikmat dengan presentasi bintang lima.
Baskara menyantap nasi goreng itu dengan lahap. Rasa gurih, pedas, dan berminyak itu meledak di mulutnya. Rasa kebebasan.
“Enak?”