Matahari Jakarta pukul dua belas siang membakar kulit. Lapangan terbuka itu berubah menjadi lautan manusia berbaju kuning gading—warna kebesaran partai. Lima ribu kader berteriak, mengibarkan bendera, meneriakkan satu nama.
“BASKARA! GUBERNUR! BASKARA! GUBERNUR!”
Di atas panggung yang megah, Baskara berdiri di podium. Keringat mengalir di punggungnya, merembes ke kemeja putih yang dilapisi rompi partai.
“Kita butuh perubahan!” teriak Baskara, suaranya parau tapi membakar, diperkuat sound system puluhan ribu watt. “Bukan janji, tapi bukti! Bukan wacana, tapi kerja nyata!”
Gemuruh tepuk tangan menyahut.
Baskara menyeka kening. Matanya menyapu lautan manusia itu. Melatih kontak mata adalah pelajaran nomor satu di sekolah kepribadian politik. Tatap mereka. Buat mereka merasa dilihat.
Ia menatap barisan depan. Para ketua DPC. Menatap barisan tengah. Ibu-ibu majelis taklim. Menatap barisan belakang...
Napas Baskara tercekat. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh.
Di antara ribuan kepala yang tertutup topi partai murahan dan kaos kuning yang basah oleh keringat, ada satu sosok yang terlihat asing. Seperti berlian yang jatuh di tumpukan jerami.
Berdiri di dekat tiang bendera di sisi kiri lapangan, di area yang sedikit berjarak dari kerumunan massa.
Seorang perempuan muda dengan penampilan effortless chic. Dia mengenakan kemeja linen putih bersih tanpa lengan dan celana panjang berpotongan lebar (palazzo) warna krem yang melambai elegan tertiup angin. Sebuah kacamata hitam oversized dari merek desainer menutupi separuh wajahnya, dan di tangannya tergenggam tumbler kopi mahal, bukan botol air mineral plastik seperti orang lain.
Vea.
Dia tidak berteriak histeris. Dia juga tidak membawa atribut partai. Dia hanya berdiri diam dengan postur tubuh tegak, menyesap kopinya dengan santai, seolah sedang menonton pertunjukan teater yang membosankan, bukan kampanye politik.
Gila, batin Baskara menjerit. Apa yang dia lakukan di sini?
Aturan nomor satu: Jangan pernah terlihat bersama di ruang publik. Aturan nomor dua: Jangan pernah datang ke acara partai.
Vea melanggar keduanya dengan gaya yang menantang.
“Pak Baskara?” bisik Rian, ajudan yang berdiri dua langkah di belakangnya, menyadarkannya. “Naskah selanjutnya, Pak.”
Baskara tersentak. Ia kehilangan fokus. Kalimat orasi di kepalanya buyar.
Ia mencuri pandang kembali ke arah tiang bendera. Vea masih di sana.
Kali ini, gadis itu menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap lurus ke arah Baskara dengan tatapan tajam seorang kritikus seni. Tidak ada senyum manja. Vea mengangkat dagunya sedikit, lalu menepuk pipinya sendiri dua kali dengan jari telunjuk—memberi kode tanpa suara: “Senyum yang bener. Jangan kaku.”
Itu bukan gestur godaan. Itu instruksi.
Gerakan itu kecil. Tidak ada orang lain yang sadar. Tapi bagi Baskara, itu lebih mengerikan daripada todongan senjata. Vea sedang menunjukkan kuasanya: bahwa dia bisa mengawasi Baskara kapan saja, di mana saja, bahkan di tengah benteng pertahanannya sendiri.
Baskara menelan ludah. Tenggorokannya kering kerontang. Ia memaksakan diri kembali membaca teks pidato, tapi suaranya sedikit bergetar.
“Dan... dan karena itu...” Baskara berdehem keras, menutupi kegugupannya. “Karena itu! Kita harus rapatkan barisan!”
Di kursi VIP di belakang podium, Alina duduk dengan postur sempurna. Dia tidak melihat ke arah penonton. Matanya, yang tersembunyi di balik kacamata hitam mahal, terpaku pada punggung suaminya.
Alina melihat tangan Baskara yang mencengkeram pinggiran podium terlalu keras. Sampai buku-buku jarinya memutih.