Malam itu, Jakarta diguyur hujan deras yang seolah ingin menghapus dosa-dosa penghuninya, namun gagal.
Di dalam kamar utama kediaman Adhiyaksa yang luas dan bernuansa monokrom, suhu pendingin ruangan disetel pada angka delapan belas derajat. Cukup dingin untuk menyembunyikan kekakuan akting Baskara.
Baskara berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah kemeja putihnya yang sedikit kusut. Dia baru saja melontarkan kebohongan itu—kebohongan nomor sekian ratus yang sudah ia ucapkan tahun ini.
“Konsolidasi mendadak dengan DPC Jakarta Selatan. Ada friksi soal dukungan dan rekomendasi,” ucap Baskara. Suaranya tenang, terlatih, dengan intonasi bariton yang biasa ia gunakan untuk meyakinkan konstituen.
Alina tidak langsung menjawab. Istrinya duduk bersandar di headboard ranjang yang empuk, sebuah buku tebal tentang biografi politik terbuka di pangkuannya. Kacamata baca berbingkai tipis bertengger di hidungnya yang bangir, memantulkan cahaya lampu tidur yang temaram.
Suasana hening sejenak. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitungan mundur bom waktu.
Perlahan, Alina membalik halaman bukunya. Suara kertas yang bergesekan terdengar nyaring di telinga Baskara.
“Jakarta Selatan?” tanya Alina tanpa mengalihkan pandangan dari teks yang dibacanya. Nadanya datar, tanpa emosi, seperti seorang hakim yang sedang membacakan nomor perkara.
“Iya. Ketua DPC-nya, Pak Rahmat, agak emosional. Aku harus turun tangan sendiri sebelum berantakan,” jawab Baskara, kali ini sambil memutar tubuh menghadap istrinya. Dia memasang wajah lelah yang meyakinkan. “Mungkin aku pulang agak larut. Kamu tidur duluan saja.”
Alina akhirnya mendongak. Tatapan matanya tenang, namun memiliki daya tembus yang membuat Baskara merasa telanjang. Dia menatap suaminya dari ujung kaki hingga ke kepala, seolah sedang memeriksa inventaris barang.
“Jangan lupa vitaminmu, Mas,” ucap Alina singkat.
Itu bukan perhatian seorang istri. Itu instruksi seorang manajer kepada aset berharganya. Jangan sakit. Jangan rusak. Kamu harus tampil prima besok.
“Sudah diminum,” jawab Baskara.
“Dan...” Alina menjeda kalimatnya, matanya menyipit sedikit, fokus pada pergelangan tangan Baskara. “Mansetmu. Jangan lupa dicari.” Alina mengingatkan.
“Ah,” Baskara memaksakan tawa kecil yang terdengar sumbang. “Mungkin tertinggal di laci mobil. Nanti aku cari.”
“Carilah. Itu sangat memorable.”
“Tentu.”
Baskara mendekati istrinya, mengecup keningnya. Lalu Baskara bergegas keluar kamar. Begitu pintu tertutup di belakang punggungnya, ia menghela napas panjang, nyaris terengah-engah. Kakinya melangkah cepat menuruni tangga marmer yang dingin, melewati ruang tamu yang dipenuhi foto-foto pencitraan dirinya dan Alina, menuju garasi.
***
Baskara keluar rumah dengan perasaan campur aduk. Mobil sedan pribadinya meluncur membelah kemacetan menuju apartemen Vea.
Di dalam saku celananya, manset sebelah kanan terasa dingin. Pasangannya hilang, dan tanpa pasangan itu, manset ini hanyalah sampah emas yang tak berguna. Sama seperti dirinya tanpa validasi publik.
Ponsel hantunya bergetar. Foto masuk dari Vea.