Calon Guberunur: Kursi, Istri, dan Orang Ketiga

sony herdiana
Chapter #5

BAB 5 PULANG TANPA RITUAL

Pukul 04.12 dini hari.

Cahaya kebiruan dari angka-angka jam digital di meja nakas memantul dingin ke langit-langit kamar. Angka-angka itu berganti tanpa suara, acuh tak acuh, seperti saksi mata yang dibayar untuk bungkam.

Di luar jendela, Jakarta masih berupa siluet hitam raksasa. Kota itu belum benar-benar bangun, namun tidak pernah benar-benar tidur. Ada dengung halus dari mesin pendingin udara sentral, deru samar ban mobil di jalan layang yang jauh, dan sisa-sisa napas malam yang enggan pergi.

Udara di dalam kamar itu terasa pengap dan asing. Aroma wine mahal sisa semalam yang mulai mengering di dasar gelas kristal bercampur dengan bau keringat, aroma pendingin ruangan, dan parfum perempuan beraroma vanila dan sandalwood. Bau yang sangat berbeda dengan bau rumahnya.

Baskara terbangun dengan napas tertahan.

Ia tersentak, lalu duduk tegak di tepi ranjang. Jantungnya memalu rongga dada dengan ritme kacau, bukan karena sisa mimpi buruk, melainkan karena realitas yang menghantamnya begitu kelopak matanya terbuka.

Tangan kanannya meraba permukaan kasur. Sedikit licin. Ia merasakan tekstur seprai yang tidak biasa—sutra satin kualitas tinggi yang terasa dingin di kulit, bukan katun Mesir bertekstur lembut dan hangat yang biasa dipilihkan Alina untuk tempat tidur mereka.

Ia mendongak, matanya menyisir ruangan yang remang. Ia tidak mengenali bayangan lemari built-in dengan desain minimalis itu. Ia tidak melihat bingkai foto keluarga di dinding, melainkan lukisan abstrak monokrom yang tergantung artistik.

Dia tidak berada di rumah. Dia berada di ranjang yang salah. Di sarang yang seharusnya sudah ia tinggalkan dua jam lalu.

Baskara menunduk, menatap tubuhnya sendiri yang bertelanjang dada. Kemeja putih mahalnya kini tergeletak mengenaskan di lantai parket, bercampur dengan robe sutra hitam milik Vea yang terlepas semalam. Kain itu kusut, kancingnya terbuka, tampak tak berdaya seperti bendera pasukan yang kalah perang. Celana bahannya tersampir sembarangan di kursi rias, sabuk kulitnya menjuntai seperti ular mati.

Sial, rutuk Baskara dalam hati. Rasa panik mulai merayap naik dari perut ke tenggorokan. Aku kebablasan.

Rencana awalnya sangat presisi: datang pukul sepuluh, “isi ulang energi” sejenak, lalu pulang pukul dua dini hari. Ia masih punya waktu untuk memarkir mobil di posko, lalu tidur satu atau dua jam di kantornya, sekadar untuk membangun alibi.

Tapi sekarang sudah hampir subuh. Langit timur mungkin sebentar lagi akan merekah. Ia harus segera bergerak sebelum Jakarta membuka matanya. Sebelum tukang sapu jalanan melihat mobilnya keluar dari gedung apartemen ini.

Ia baru saja menurunkan kaki ke lantai, hendak meraih kemejanya yang kusut, ketika suara itu terdengar.

Huek.

Suara orang muntah. Redam, basah, dan menyakitkan.

Suara itu datang dari arah kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka, menyisakan celah cahaya kuning yang menyayat kegelapan kamar.

Gerakan tangan Baskara memungut kemeja terhenti di udara. Jari-jarinya membeku. Kantuk dan pening akibat alkohol sisa semalam lenyap seketika, digantikan oleh adrenalin yang dingin.

Huek.

Lagi. Lebih keras. Lebih menyiksa.

Darah di wajah Baskara surut seketika. Ada sensasi dingin yang menjalar cepat dari tengkuk, turun ke punggung, hingga ke ujung kakinya.

Otaknya—yang selama bertahun-tahun dilatih untuk membaca situasi politik, menghitung risiko, dan memitigasi bencana—langsung melompat ke skenario terburuk tanpa permisi. Instingnya menyala liar.

Muntah subuh hari? Morning sickness?

Pertanyaan itu bergaung di kepalanya seperti alarm kebakaran.

Detik itu, yang terlintas di kepalanya adalah serangkaian gambar kehancuran. Bayangan tentang garis dua merah di alat testpack. Wajah kecewa Hermawan. Senyum sinis lawan politiknya. Konferensi pers permintaan maaf yang memalukan. Dan hancurnya karier yang sudah ia bangun dengan darah dan air mata selama ini.

Dengan langkah kaku seperti robot, Baskara berjalan menuju kamar mandi. Lantai parket terasa sedingin es, menusuk telapak kakinya yang telanjang.

Ia mendorong pintu kamar mandi pelan. Bau pembersih lantai beraroma lemon bercampur dengan bau asam yang tajam langsung menusuk hidungnya.

Lihat selengkapnya