Jalanan Jakarta pukul setengah lima pagi masih lengang, tapi di dalam kabin mobil sedan mewah itu, suasananya serasa neraka.
Baskara memacu mobilnya dengan kecepatan hampir seratus kilometer per jam. AC mobil menyembur kencang, tapi bukannya mendinginkan, udara dingin itu justru memutar aroma yang terperangkap di dalam. Aroma vanila manis, wine basi, dan bau samar muntahan.
Baskara menurunkan kaca jendela. Angin subuh menderu masuk, mengacak-acak rambutnya. Ia berharap angin itu bisa membilas dosa yang menempel di pori-porinya.
Aku harus mampir ke SPBU, pikir Baskara panik. Cuci muka. Kumur-kumur. Beli parfum minimarket. Apa saja untuk menutupi bau ini.
Tangannya baru saja menyalakan lampu sein kiri hendak membelok ke pom bensin terdekat, ketika ponselnya yang tergeletak di jok penumpang bergetar panjang lagi.
My Home calling.
Jantung Baskara mencelos. Alina menelepon lagi? Padahal baru sepuluh menit yang lalu mereka bicara.
Baskara menyambar ponsel itu, menggeser tombol hijau.
“Ya, Al? Aku sudah de—”
“Mas! Putar balik! Jangan ke rumah!”
Teriakan Alina kali ini tidak setenang tadi. Suaranya agak pecah, ada histeria yang cukup terasa.
Baskara menginjak rem mendadak. Ban mobil berdecit ngilu di aspal sepi. “Kenapa? Ada apa?”
“Kirana kejang! Matanya memutih, Mas! Dia nggak sadar!”
Dunia Baskara seakan runtuh detik itu juga.
“Aku bawa dia ke UGD RS Pusat sekarang sama Pak Satpam!” teriak Alina di seberang sana, diiringi suara pintu mobil yang dibanting. “Kamu langsung ke sana! Cepat!”
Klik. Sambungan terputus.
Tangan Baskara gemetar hebat hingga ponselnya jatuh ke lantai mobil.
Kirana. Kejang. Anaknya harus segera mendapatkan pertolongan.
Baskara membanting setir ke kanan, melakukan putaran balik ilegal, lalu menginjak pedal gas sampai mentok. Mobil sedannya melesat seperti peluru, menerobos lampu lalu lintas yang masih menyala merah.
Di dalam kepalanya, bayangan Kirana yang tertawa ceria berganti dengan bayangan tubuh mungil yang kaku dan mata memutih.
Tuhan, jangan ambil dia. Ambil jabatanku, tapi jangan dia.
Baskara berdoa, ironis, padahal bibirnya masih terasa manis bekas ciuman wanita lain.
***
Baskara berlari menerobos pintu otomatis Unit Gawat Darurat. Ia tidak peduli mobilnya diparkir miring di lobi drop-off. Ia tidak peduli satpam meneriakinya.
“Pasien anak! Kirana Putri!” teriak Baskara pada meja perawat. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi kemejanya yang sudah kusut.
“Bed 4, Pak! Tirai hijau!”
Baskara berlari. Mengabaikan tatapan orang-orang. Mengabaikan aroma tubuhnya sendiri yang kini semakin menyengat karena bercampur keringat panik.
Di Bed 4, tirai hijau sedikit terbuka.