Dua mobil mewah itu membelah jalanan perumahan elite yang masih berkabut tipis.
Mobil SUV putih milik Alina memimpin di depan, diikuti sedan hitam Baskara yang mengekor rapat di belakangnya. Keduanya melaju kencang, membawa sisa ketegangan dari rumah sakit yang kini berpindah lokasi.
Gerbang otomatis rumah mereka terbuka lebar.
Alina membanting setir ke kiri garasi lalu berputar ke kanan. Baskara membanting setir ke arah sebaliknya.
Ciettt!
Kedua mobil itu mengerem nyaris bersamaan. Moncong bumper depan mereka berhenti hanya berjarak beberapa sentimeter, membentuk formasi huruf V yang agresif. Deru mesin mati seketika, menyisakan keheningan garasi yang mencekam.
Klik. Blam!
Pintu pengemudi kedua mobil terbuka serentak. Baskara dan Alina turun bersamaan.
Tidak ada jeda untuk menarik napas. Alina tidak berjalan menuju pintu rumah. Dia berdiri di sana, di celah sempit antara dua kap mobil yang mesinnya masih panas berdesis, menghadang suaminya.
“Katakan sekarang,” suara Alina rendah, tapi menggema di dinding beton garasi. “Siapa perempuan itu?”
Baskara mengusap wajahnya kasar. Wajahnya kusut, matanya merah kurang tidur. “Al, ini masih pagi. Tetangga bisa dengar. Kita bicara di dalam.”
“Persetan dengan tetangga!”
Teriakan Alina meledak. Dia melempar tas tangannya ke kap mobil Baskara.
“Anakku kejang di rumah sakit! Dia hampir mati, Mas! Dan kamu...” Alina menunjuk dada Baskara dengan telunjuk gemetar. “Kamu datang dengan bau pelacur di bajumu! Di mana hati nuranimu, Baskara?!”
Baskara maju selangkah, mencoba meraih bahu istrinya. “Demi Tuhan, Al, jaga mulutmu. Itu bukan bau pelacur!”
“Jangan sentuh aku!” Alina menepis tangan Baskara jijik, seolah tangan itu berlumuran kotoran. “Aku hapal bau kamu. Aku hapal semua parfummu. Tapi bau vanila murahan ini... bau alkohol basi ini... Kamu dari hotel mana? Jawab jujur! Kamu tidur sama siapa?!”
Baskara terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Dia tahu dia tersudut. Saatnya memainkan kartu terakhirnya.
Alih-alih menyangkal lagi, Baskara justru melakukan hal tak terduga.
Sret!