Can't Stop

Siti Soleha
Chapter #3

Go Away

Dunia Winda

Aku tetap menempelkan pipiku di meja dan mencoba tidur saja sewaktu Dimas, salah satu dari sahabatnya Evan menghubungiku. Sudah ada lebih dari sebelas panggilan dan aku belum ada tanda-tanda mau mengangkatnya. Sampai-sampai membuat Risa gemas dan berulang kali mencoba merebut HPku untuk mengangkat teleponnya.

"Aduh, Win, angkat nggak teleponnya. Berisik tau nggak sih dari tadi." Risa memajukan bibirnya kesal.

"Berisik apanya, orang dari tadi gue silent!" jawabku tidak kalah kesalnya.

"Ya, seenggaknya lo angkat dong! Dimas kan telepon lo bukan karena nggak ada tujuan, pasti ada tujuannya. Apalagi sampai berkali-kali gitu."

"Males! Dimas kan sahabatnya Evan, pasti yang Dimas mau omongin nggak jauh-jauh dari Evan." Aku mencoba memejamkan mataku saja.

"Nah, justru itu! Coba deh lo pikir pakai logika. Si Dimas teleponin lo sampe ribuan kali begitu, pasti ada sesuatu yang penting yang menyangkut tentang Evan," kata Risa heboh.

Reflek aku membuka mataku lagi.

"Contohnya?"tanyaku malas.

"Ya, contohnya bisa aja si Evan mau bunuh diri karena nggak kuat cintanya lo tolak melulu." Risa membelalakkan matanya membayangkan yang tidak-tidak terjadi pada Evan.

"Kalau dia bunuh diri, dia yang mati kan bukan gue? Jadi, kenapa mesti gue yang repot-repot?" Aku mengangkat bahu tidak peduli.

"Ya ampun, Winda, istigfar, Win, istigfar. Lo selain jutek juga sadis ya ternyata! Nggak nyangka gue punya sahabat kayak lo nggak ada kasian-kasiannya sama orang." Risa mengguncang-guncangkan bahuku dengan kencang.

Seketika badanku terasa sakit semua karena guncangan Risa. Aku yang sudah tidak tahan, langsung kudorong saja badannya sampai dia kepentok ujung meja. Risa meringis kesakitan, aku lupa bahwa diantara kami bertiga, badan Risa yang paling pendek, paling begeng, paling ringan lah pokoknya kayak teriplek. Jangankan aku dorong, ditiup angin saja sudah jatuh dia.

"Ups, sorry," kataku merasa bersalah.

"Lo tuh ya, Win, didiem-diemin! Gue jambak juga nih rambut lo." Risa bersiap-siap menjambak rambutku dan untungnya langsung dicegah oleh Kare.

"Udah, udah. Gue udah tau masalahnya, tadi si Ucok telepon gue. Katanya si Evan tetep nggak mau ikut tanding final futsal kalau Winda nggak nonton. Sedangkan di final ini kelas kita ngelawan anak kelas sepuluh. Jadi kalau kalah ya malu lah ya kita sama ade kelas," jelas Kare.

"Nah, itu lebih nggak masuk akal lagi, apa coba hubungannya sama gue?" tanyaku malas.

Lihat selengkapnya