"Tolong jangan perlihatkan ekspresi takutmu kepadaku. Seolah-olah di dunia ini tidak ada aku, sampai kamu harus takut. Aku tidak suka melihatnya!" -Evan
"Dunia ini tidak sekecil yang kamu kira. Dalam hidup, kita tidak hanya menghadapi masalah kecil tapi juga besar. Mari kita berjuang sendiri-sendiri." -Winda
*******
Dunia Evan
Aku melihat Winda menampakan ekspresi takut sewaktu Bu Gita menyuruhnya maju ke depan. Aku sama sekali tidak suka melihat ekspresi takutnya. Aku tahu Winda bukanlah tipe perempuan pengecut. Tapi ini menyangkut phobianya, ia pasti tidak bisa mengatasi rasa takutnya sedikit pun. Aku harus membantunya, agar ia tidak ketakutan lagi.
Aku menuliskan jawaban dari soal yang Winda kerjakan lalu maju ke depan kelas dengan alasan meminta izin ke toilet. Setelah diizinkan oleh Bu Gita, aku langsung menghampirinya dan memberikan kertas jawaban itu dengan cara menjabat tangannya berkali-kali. Ia sempat bingung, tapi tidak lama kemudian ia mengerti dengan apa yang kulakukan. Aku tersenyum puas seraya keluar kelas menuju toilet. Dia pasti sudah tidak ketakutan lagi sekarang.
.................
Ketika pulang sekolah, tadinya aku diajak oleh Dimas dan Ucok bermain PS di rumah Dimas. Tapi karena aku harus ke toko buku, mendingan aku pulang sendiri aja dan tidak jadi ke rumah Dimas.
"Evan ...."
Aku menoleh dan langsung berhenti. Winda... dia memanggilku.
"Hehe ... ada apa, Win?" Tanyaku tersenyum senang.
"Terima kasih. Terima kasih karena lo udah nolongin gue tadi," ujarnya dengan ekspresi datar.
Terima kasih macam apa itu? Ngomongnya datar banget, bahkan aku tidak diberikan senyumnya sedikit pun.
"Terima kasih doang nih?" Tanyaku.
"Maksudnya?"
"Nggak dikasih nomor telepon atau mau gue anter pulang sekalian gitu?" Tanyaku sambil modus.
"Lo udah punya nomor telepon gue dan sekarang gue pulang bareng Kare. Dia bawa mobil." Masih dengan ekspresi yang tidak berubah, yaitu datar.
"Tapi lo nggak pernah mau angkat telepon dari gue, kan? Kalau gue telepon lo lagi, apa lo mau angkat?"
"Kalau gue nggak sibuk, nanti gue angkat. Gue duluan ya, sekali lagi makasih," Katanya pergi begitu saja. Aku hanya bisa melongo mendengar jawabannya.
.................
Hari ini aku belum melihat batang hidung Winda. Kemana dia? Udah hampir jam tujuh tapi Winda belum datang-datang juga. Apa mungkin nggak masuk? Yah... jangan dong. Kalau Winda nggak masuk, aku nggak bisa lihat wajahnya yang selalu cemberut, tapi menurutku selalu tampak lucu itu.
"Ucok, liat deh tampangnya, Evan, udah kayak kue sus, lembek banget," Kata Dimas mengejekku.
"Hahaha ... iya benar kau, Dim, pasti gara-gara Winda belum datang-datang juga," Sahut Ucok.
"Berisik lo berdua, lo boleh ngatain gue kalau kalian udah punya pacar. Lah ini, punya pacar belom malah ngatain mulu."
"Seengaknya gue nggak pernah ditolak, "kata Dimas sok.
"Ya iyalah, lo nggak pernah berjuang! Gimana mau ditolak apalagi diterima. Hahaha ...."
Teng...teng...teng....
Sudah bel, dan Winda belum datang. 'Ini nggak baik' pikirku. Dimana Winda? Aku mengarahkan pandanganku ke arah lapangan bola tepat di depan kelasku. Dan aku melihat Winda sedang dimarahi karena terlambat. Aku harus menghampirinya.
"Evan, kamu mau kemana? Pelajaran baru akan dimulai?" Kata Bu Erni wali kelasku sekaligus guru sejarah memasuki kelas.
"Bu, saya izin ke toilet ya, Bu. Udah nggak tahan beneran, Bu," Kataku dengan tampang memelas.
"Dari tadi, ngapain aja sebelum bel?" Bu Erni sepertinya tidak percaya dengan alasanku.
"Ya, orang tadi nggak kebelet, Bu," Kataku keukeuh.
"Hufh ... yasudah sana! Jangan lama-lama."
"Iya, Bu, makasih, Bu."
.................