Rana menatap kardus-kardus itu malas, jika bukan karena jarak kosannya yang dekat, ia tidak akan berakhir menjadi seorang yang bergelut dengan debu hari ini.
"Mengko kowe beresi buku neng rak kamar—"
(Nanti kamu bereskan buku di rak kamar)
Rana mendengarkan arahan neneknya pasrah, mengikuti segala instruksi tanpa membantah, ia mengambil, memasukkan barang ke kardus yang tepat, sedangkan Mbah putri sibuk dengan buku-buku tak terhingga di rak kuno itu.
"Iki buku sing disenengi kakungmu,*" kata Mbah Putri menyerahkan buku tebal dengan sampul coklat agak pudar "Diwaca bolak-balik nganti lusuh. Mboh isine opo. Mbah ra iso maca**."
(*Ini buku kesukaan kakekmu)
(**Dibaca bolak-balik sampai lusuh. Entah isinya apa. Nenek tidak bisa membaca)
Rana menerimanya, membolak-balik buku itu seksama, tidak ada judul yang terbaca di sampulnya, tapi ada tulisan tangan dengan tinta yang memudar disana — nama Mbah Kakung.
"Disimpan, Mbah?"
"He'em, kesayangane kakungmu iku."
(Iya, itu kesayangannya kakekmu)
Sesekali Mbah Putri berhenti di satu benda dan menceritakan sejarahnya, Rana sebagai Gen Z hanya mengiyakan jika Mbah putri bertanya, ia tidak memiliki kapasitas lebih di otaknya untuk menyimpan segala hal.
"Kakungmu kuwi seneng nyimpen macem-macem*," kata Mbah Putri membuka laci meja kecil. "Mbah kerep ngomel, nggo apa disimpen nek ora tau digawe. Ning Kakungmu mung ngomong, saben barang nduwé ceritané dewe, sayang nek ilang ngono wae**." Jelasnya
(*Kakekmu itu suka menyimpan bermacam-macam)
(**Nenek sering mengomel, buat apa disimpan kalau tidak pernah dipakai. Tapi Kakekmu hanya bilang, setiap barang punya ceritanya sendiri, sayang kalau hilang begitu saja)
Ia mengeluarkan satu per satu isi laci dengan hati-hati."Saiki malah Mbah sing kudu beresi.*" ia memandang barang-barang kuno itu penuh kenangan, "Kowe mirip kakungmu,**"
(Sekarang malah Nenek yang harus membereskan)
(**Kamu mirip kakekmu.)
"Mirip gimana, Mbah?"
"Caramu nyekel barang-barang lawas...*" Mbah Putri mengisyaratkan tangan Rana yang tanpa sadar sedang membalik-balik koin lama. "Koyo wong sing pengin ngerti ceritane, ora mung ndelok bendane.**" Rana reflek menghentikan gerakan tangannya.
(*Cara kamu memegang barang-barang lama...)
(**Seperti orang yang ingin tahu ceritanya, bukan sekadar melihat bendanya)
Rana tahu tentang kamar itu, kamar khusus yang begitu sakral selama kakungnya hidup, ia hanya mendengar bahwa kakungnya mengoleksi banyak hal disana. Tapi apa?
"Kowe lanjutno sing neng rak, Ran. Buku-buku pisahno dhisik."
(Kamu lanjutkan yang di rak, Ran. Buku-buku dipisahkan dulu.)
"Nggeh, Mbah."
(Iya, Nek)
Rana harus bergelut dengan kardus penuh buku serta daftar yang masih panjang, ia mengerutu kesal. "Kalo seandainya gue pindah kosan bisa ngga sih? Itu sepupu lainnya ghaib kemana sihh?!!! Arrrghhh!!" wajahnya tertekuk lelah.
Atensinya merujuk pada pintu ruangan kakungnya, membuat rasa penasaran Rana semakin kuat, terakhir ia memaksa masuk, Mbah kakung menutupnya rapat dan mengatakan banyak hal berbahaya di dalamnya.
Dari dapur, desis minyak panas serta bunyi pisau beradu dengan talenan terdengar, mungkin mbah putri tidak akan mempermasalahkan jika dirinya masuk sebentar, Daftar barang yang perlu disortir masih bisa menunggu.
Tangannya menyentuh gagang pintu. Suara decit halus terdengar, ia panik, keringat mengucur dari pelipisnya, tangannya agak bergetar, Jangan, kata satu bagian di kepalanya.
Pemandangan begitu menakjubkan menyapanya setelah membuka pintu, rak besar yang penuh dengan berbagai hal, gulungan kertas lama, kotak antik, buku-buku lama, ia menghirup aroma samar wood antik nostalgia.
Rana berdiri di tengah ruangan, merasakan bagaimana kamar ini berbeda dari kamar lain di rumah ini, kakungnya benar-benar luar biasa, butuh waktu lebih dari sehari untuk menjelajahi kamar ini
Buku yang judulnya terlalu pudar untuk dibaca. Kotak kayu kecil yang isinya koin-koin. Bundel surat yang diikat tali rami yang sudah lapuk, amplop-amplopnya berubah warna menjadi krem kecoklatan. Ada banyak hal tersimpan di sini.
"Sumpah, ini keren banget!!" Gumamnya
Matanya mendapati sesuatu di rak bagian sudut paling bawah, Apa itu? Batinnya, tangannya menggapai gulungan itu, mengusir debu yang menempel, membuka lipatan kainnya hanya untuk melihat apa isinya.