Candranilar: Lost piece

Eureka Sugesti Aviecena Syathori
Chapter #2

Bahagian 2

"Pusing kali aku."

Rana memijat pelipisnya, bau cendana bercampur kayu manis menyapa hidungnya, tempat apa ini? Sejauh mata memandang hanya nuansa antik yang didapatinya, bukan ruangan yang pernah ia masuki sebelumnya.

"Gue mimpi kan ini?" Tanyanya entah pada siapa.

"Siapapun, tolong bilang gue lagi mimpi."

Rana limbung. Informasi mengalir masuk seperti air yang terlalu deras. Beberapa hal berkelebat buram tanpa peringatan "Apa? Apa maksudnya? Ngga — ini ngga mungkin—" gumamnya tidak percaya, Candra kirana? Tujuh ratus tahun lalu? Kerajaan Daha? Nafasnya tercekat.

Gamelan terdengar dari luar. Tubuhnya bangkit, seolah hafal apa yang harus dilakukan jika mendengar suaranya, Tunggu— Rana mencoba mengambil alih, tubuh itu berhenti.

Tolong katakan apa yang terjadi.

“Singkatnya ini bukan hal yang mudah dijelaskan atau dipercayai.”

Suara itu bukan dari luar. Rana menoleh kesana kemari. Siapa yang ngomong di kepala gue? Batinnya kebingungan, segalanya terjadi begitu cepat, ia menghadap cermin, pakaiannya berganti, bukan jaket varsity kesayangannya, hanya kemben sutra berwarna emas yang menutup dadanya dan lilitan kain jarik coklat keemasan khas bangsawan.

“Ngga...Ngga mungkin....masa gue jatuh kejedot doang langsung teleportasi ke masa lalu? Lu kira ini kisah sci-fi kepleset dikit pindah dimensi?!” Rana masih kekeuh dengan pendapatnya. “Terserah kamu percaya atau tidak, yang jelas sekarang kamu ada dalam diriku” Suara itu muncul lagi, “Tidak ada waktu untuk memperdebatkan hal ini, Sekar akan datang dalam beberapa menit.”

Siapa Sekar?

 

“Emban pribadiku, dia yang mengurus segalanya tentangku.”

Lu ngga mau jelasin apapun ke gue?

“Kamu akan mengerti dengan sendirinya”

Rana mengusap wajahnya kasar, tidak ingin berdebat dengan suara yang hadir dalam pikirannya. "Oke," katanya pasrah, mau tidak mau ia harus menjalani hidup disini, di tempat antah berantah yang jauh dari kata ‘Modern’ jauh dari ponsel, novel, dan segala hal kesukaannya.

Sebuah kesialan baginya.

Rana melihat sekeliling, “Ini keputren, tempat tinggal para putri” Suara itu muncul lagi, Rana tidak perlu bertanya dua kali, ini pasti suara Candra kirana didalam pikirannya. Sebenarnya kenapa dan bagaimana gue bisa terlempar jauh ke zaman dimana orang belum kenal hape, insta dan tiktok? Rana menangisi nasibnya dalam hati

"Gusti belum bersiap?"

Dirnya tersentak, Rana membuka mulut, kata-katanya keluar dalam bahasa yang tidak pernah ia pelajari, dengan intonasi yang terlalu lembut untuk seorang hiperaktif seperti Rana. "Sebentar lagi, aku baru saja bangun."

“Sang Prabu menunggu anda menghadap” Ucap Sekar.

“Baiklah, beri aku waktu sebentar lagi”

Rana membiarkan pemilik tubuh asli bergerak, menghafal tiap hal yang akan menjadi kebiasaan yang entah sampai kapan, seperti penumpang yang tahu cara mengemudi tapi tidak merebut setir, karena pengemudilah yang lebih tahu jalannya.

Merepotkan

Gamelan pagi mengalun pelan, “Masuklah Sekar, aku sudah selesai bersiap” Titah Rana berusaha anggun, pintu kayu terbukan pelan, seorang wanita dengan kemben sederhana menghampiri dengan kepala tertunduk, “Biarkan saya membantu Gusti memasangkan perhiasan” katanya penuh hornat.

“Ah...Iya”

           Sekar memasang sanggul dan hiasan rambutnya,ia masi tidak percaya kini ia ada di dalam tubuh seorang putri kerajaan Daha, Anjirlah cantik bener gue di masa ini, ngga perlu sknicare bejibun juga gue dipuja, Ia berdecak kagum dalam hati. "Sekar." Panggilnya pelan, “Nggeh Gusti?” Rana melipat bibirnya, tidak tahu harus mengatakan apa, "Ada kabar dari luar tadi pagi?" mulutnya bergerak tiba-tiba.

"Belum ada yang resmi, Gusti." Sekar tidak berhenti memasangkan aksesori perhiasannya, “Hanya kabar burung yang tidak jelas arahnya” tambahnya hormat, Rana mengangguk pelan.

Tolong beri aku petunjuk Batinnya memohon

“Kabar tentang pertunanganku dengan pangeran kahuripan”

Raden Inu Kertapati?

“Benar”

Pergulatan batinnya dibuyarkan suara Sekar, “Persiapan sudah selesai, Gusti, Gusti bisa menghadap Sang Prabu” katanya menunduk, Rana mengangguk, mengikuti arah langkah Sekar keluar dari Keputren, sepanjang jalan ia berusaha menutupi kenorakannya akan keindahan istana Daha. Ah... beginikah jika manusia modern dibawa ke zaman purbakala?

Gila sih pemandangannya, ornamennya pasti emas semua, dijual laku keras ini, siapa tahu gue jadi miliarder dimasa depan mweheheh Batinnya cekikikan. ”Gusti? Gusti tidak apa-apa?” Sekar menyadari ada yang aneh dengan majikannya, “Ah...tidak apa-apa aku hanya memikirkan sesuatu” Rana mencari alasan.

           Sekar tidak mengatakan apapun selama perjalanan menuju Kedaton, jantungnya berdegup kencang, ini pertamakalinya ia menghadap langsung pada Raja kerajaan Daha, "Kawula nyuwun ngaturaken, Gusti Putri badhe sowan dhateng Sang Prabu." Tutur Sekar pada Dwarapala regol Kedaton, perawakannya membuat Rana bergidik ngeri, dibogem sama dia mantep tuh Pikirnya, pria besar yang berdiri disamping lawang mengangguk, pergi melapor.

Gue ngga tahu kok gue bisa terdampar disini, tapi gue kesini ngga mungkin cuma time travel gratis terus pulang bawa buah tangan pengalaman yang ngga masuk akal kan? Rana berbicara pada sosok Candra Kirana dalam pikirannya. Sembari menunggu izin ayahnya masuk.

“Tentu saja tidak, nona muda, kamu datang kesini memiliki alasan”

Bisa lo jelasin?

“Kamu akan menemukannya sendiri, selamat berpetualang”

Hei!! Hei apa maksud lo selamat—

Rakryan menghadap Rana bersama Dwarapala regol dan menangkupkan tangan, sedikit menunduk, “Sembah, Gusti putri, Sri maharaja mengizinkan anda masuk” Rana mengangguk, ia berniat mengajak Sekar namun suara itu mencegahnya, “Sekar tidak ikut ke dalam, kedaton adalah wilayah pribadi Rama Prabu” Rana berjalan masuk, eh kalo gue di ngap sama bapak lu, balikin roh gue ke masanya, gue belum mau ke akhirat Ancam Rana, ia terlalu takut berhadapan dengan raja kerajaan Daha.

“Jangan terlalu cemas, Rama Prabu tidak semenyeramkan itu”

Tapi sama aja gue takut, sialan!

Rana berjalan masuk diiringi Rakryan, matanya disuguhkan dengan pemandangan antik kedaton, bau minyak kayu, wangi dupa dan bebauan yang sulit dijelaskan menerpa penciuman Rana, Jangan sampe gue malu-maluin, intinya kalo gue ngelakuin hal yang malu-maluin lo yang salah Gerutu Rana “Tenang saja, kamu tidak akan melakukan hal yang aneh didepan mereka, percaya padaku” Kata Candra Kirana diirngi kekehan khas tuan putri, Rana memutar bola matanya kesal.

Atmosfer semakin berat setiap pintu demi pintu terbuka menuju Pendapa, Ini emang guenya yang takut atau aura bokap lu terlalu kuat sampe gue merinding gini?! Tanyanya berkerut, perasaan gelisah itu nyata, seoalh ia akan dihadapkan pada seorang penentu hidup matinya.

“Rama prabu memang memiliki aura yang membuat orang lain tunduk”

Terus gue harus apa?!!

“Biarkan ingatan tubuh ini mengarahkanmu”

Mereka berhenti didepan pintu jati kehitaman berukiran klasik khas kerajaan Daha, Rana ingin merangsek masuk namun tubuhnya mengkhianatinya, “Jangan masuk dulu sebelum Rama Prabu mengizinkan” Peringat suara itu tegas, Rana mendecak kesal, ia tidak terbiasa dengan formalitas menyesakkan seperti ini, apalah daya dia yang masuk da juga yang patuh.

"Sembah, Gusti Putri. Sri Maharaja memberi izin."

Rana mengangguk samar

Keadaan sunyi membuat bulu kuduk Rana naik, kepalanya tertunduk, menunjukkan rasa hormat pada penguasa Daha, langkah kakinya menggema, rasanya seperti diperhatikan dari segala arah,

"Sembah, Paduka Ayahanda. Putri panjenengan sowan."

           “Sekartaji, Duduklah”

           Sekartaji, nama yang familiar bagi tubuh itu “Sekartaji adalah nama pribadiku diantara kawula istana” Suara itu memberi petunjuk, Rana duduk dengan anggun, merapatkan pahanya, menatap lantai perlambangan tunduk. “Sudah beberapa hari engkau tidak menghadap. Emban mengatakan engkau kurang sehat. Apakah sekarang sudah pulih?” Sri Maharani mengangkat suara

           “Sudah, paduka ibu. Putri sehat.”

“Gusti Putri memang beruntung selalu mendapat perhatian paduka. Anak-anak lain jarang dipanggil sedini ini.” Ujar Paduka Liku entah bermaksud apa. Rana meneguk ludah tegang, Sri Maharani melirik Paduka Liku tajam, tidak terima putrinya disindir halus oleh selir suaminya.

“Sekartaji adalah putri utama. Sudah sewajarnya ia mengetahui perkara keluarga lebih dahulu.” Sri Maharani membalasnya tenang, tatapannya mengintimidasi Paduka Liku, Wanita itu menunduk merasakan ketegangan dari Sri Maharani namun matanya menghunus Rana.

Anjir tuh orang serem amat tatapannya, ada masalah apa sih sama lu? Rana bergidik

“Masalahnya aku pewaris utama, Paduka Liku ingin putrinya yang menjadi pewaris utama” Jelas Candra Kirana santai, Rana mendengus kesal, bisa-bisanya ‘dia’ begitu santai sedangkan dirinya panas dingin menghadap keluarga istana saat ini.

“Sekartaji, engkau sudah cukup umur untuk berpasangan, waktunya kita membicarakan masa depanmu.” Prabu Lembu Amiluhur mengangkat suara, tegas, berwibawa, dan membuat siapapun bergetar tunduk mendengarnya, Rana menahan nafas, Ini pasti tentang Inu Kertapati. Rana mengangguk tipis.

Jangan bilang lo bakal nerima semudah tepuk tangan, Candra Kirana Ancam Rana, “Lalu aku harus bagaimana? Menentangnya? Tugasku hanya patuh hingga tiba saatnya aku memegang tahta bersama suamiku, terlepas siapapun itu” Ujar Candra Kirana menertawai dirinya yang menjadi alat pemersatu dua kerajaan.

Lo pikir begitu? Lo salah besar narik gue kesini.

“Utusan dari Kahuripan telah datang beberapa hari lalu. Mereka membawa pesan dari Prabu Airlangga dan putranya, Raden Inu Kertapati.” Sri Maharani mengatakan dengan senyum manis pemikat khasnya, “Perjodohan ini telah lama direncanakan. Jika engkau menjadi permaisuri Kahuripan, hubungan kedua kerajaan akan semakin kuat.”

“Ampun Rama Prabu, ampun Ibu Ratu. Jika benar putri akan dipersatukan dengan Raden Inu Kertapati, bolehkah putri mengenal beliau terlebih dahulu?” Ujar Rana tenang, “Apa yang kau lakukan?!!! Terima saja permintaan Rama Prabu sebagaimana seharusnya!!” Candra Kirana terkejut, sama seperti keluarga dalem, Paduka Liku menajamkan pandangannya, Sri Maharani melipat bibir, dan Prabu Lembu Amiluhur bergeming, tidak ada yang sadar Rana tersenyum disana

“Keputusan raja tentu tidak diambil dengan tergesa-gesa. Gusti Putri tidak perlu meragukannya.” Paduka Liku mengangkat suara, “Putri kerajaan seharusnya belajar menerima keputusan sebelum mempertanyakannya.” Imbuhnya, tatapannya menantang Rana. “Ampun, paduka. Bukankah setiap keputusan Sri Maharaja telah dipertimbangkan dengan matang?”

Nenek sihir sialan, gue bantai lu mampus!! Rana mendidih

Prabu Lembu Amiluhur memandangnya, Someone heleppp!!1 gue ngga bisa ada di situasi tegang kayak gini huaaa!! Jantungnya serasa jatuh, debaran takutnya tidak karuan, heningnya penuh ketegangan, “Sekartaji” Sang Raja mengangkat suara, “Jika engkau merasa perlu bertanya, katakanlah dengan terus terang.” Pintanya gamblang.

Lihat selengkapnya