Ternyata menjadi putri kerajaan bukan sekadar duduk manis sambil menunggu hidup berjalan sendiri. Sekar masuk ke biliknya sebelum matahari sepenuhnya naik. Membaca seluruh jadwal dengan nada penyampaian seolah ini kabar baik, Rana duduk dengan wajah agak merengut, ia benci pelajaran
"Hari ini ada pelajaran tembang dengan Nyai kusuma, dan sastra dengan Empu Darma Gusti." Sekar tidak berhenti melipat kain selagi berbicara. "Setelah sastra, Nyai Rengganis akan datang untuk pelajaran membatik."
"Membatik?," ulang Rana tidak yakin.
"Nggeh, Gusti. Lalu keesokan hari pelajaran pengelolaan dapur keputren dan cara memimpin abdi. Lusa—"
Ini maksudnya apaa?!
"Persiapan yang sudah direncanakan sejak aku ditetapkan sebagai calon permaisuri Kahuripan." Candra Kirana bersuara tenang."Permaisuri yang baik bukan hanya yang mendampingi raja. Dia yang menjalankan separuh istana setiap harinya."
Lo serius?!! Rana mendengus dalam hati Gue bahkan nggak suka sekolah, nyesel gue nyasar kesini.
“Jika kamu menyesal apakah kau akan kembali?”
Diem lo!
"—dan Nyai Wulandari akan mengajari Gusti tentang protokol pengobatan dasar untuk abdi yang sakit di dalam keputren," Sekar menyelesaikan kalimatnya, meletakkan kain terlipat ke atas pembaringan.
"Yoi” Rana berguman mengiyakan
“Ada yang perlu ditanyakan Gusti?” Sekar memastikan pendengarannya.
“Ah....Tidak Maksudku.... baiklah” Rana panik, Reflek sialan
Pelajaran tembang berlangsung satu jam penuh di ruang kecil sisi utara keputren. Nyai Kusuma sudah cukup tua untuk punya cucu. Tapi tangannya memetik kecapi tanpa ragu sekali pun. Rana memperhatikan jari-jari itu tanpa sadar — tidak ada yang namanya salah petik, tidak ada jeda yang tidak disengaja. Gue mau latihan berapa tahun juga kayaknya ngga bakal bisa kayak gitu Batinnya.
Tangannya bergerak sendiri. Suaranya keluar di nada yang benar. Rana diam mengikuti, liriknya tidak biasa. Ada perempuan yang menunggu hujan reda. Ada raja yang namanya disebut dengan nada turun, bukan naik. Nyai Kusuma tidak menjelaskan apapun — tapi cara ia menyanyikannya sudah menjelaskan segalanya.
Ini kayak orang nyanyi, pikir Rana. Meski katanya sama kalo nadanya beda artinya juga beda.
"Kau menangkapnya?" Candra Kirana terkejut.
Gue dari Jawa, beda abad doang
"Tidak semua orang menangkapnya. Banyak menghafal tanpa tahu maknanya, aku terkejut kau bisa memahaminya."
Rana gitu lho!
Setelah pelajaran selesai, Nyai Kusuma tidak langsung pergi. Ia duduk menaruh kecapinya hati-hati, membungkus instrumen itu dalam kain dan berkata tanpa menoleh: "Hari ini Gusti berbeda dari biasanya."
"Berbeda bagaimana, Nyai?"
"Biasanya Gusti mendengarkan dengan telinga." Nyai Kusuma mengencangkan ikatan kain di kecapinya. "Hari ini Gusti mendengarkan dengan kepala juga." Ia berdiri, membungkuk hormat. "Ini perkembangan yang baik, Gusti, Saya senang melihatnya. Jika Gusti berkenan, hamba mohon pamit."
"Ah — Te..... Terima kasih, Nyai."
Nyai Kusuma menunduk sekali lagi sebelum keluar dari bilik.
Walau katanya sama, jika nadanya beda artinya juga ikut beda? Ribet kali lah.
"Sekarang kau mengerti mengapa sastra ada di jadwalmu?."