Candy Shop (A Magical Matchmaking Story)

Anelyn
Chapter #2

Rasa Permen yang Tetap Pahit

Harum roti gandum dan suara renyah pada roti menyebar ke seluruh toko, menembus keluar, mengundang beberapa pejalan kaki yang melewati toko itu. Beberapa duduk di dalam, menikmati kopi hitam di cangkir putih berukir bunga mawar merah. Terdengar suara tawa serta langkah kaki orang-orang yang melewati jalan paving blocks yang tertata rapi.

Salah satu atap bangunan vintage berwarna biru pastel telah menjadi markas rahasia Candy sejak pagi tadi. Ia duduk bersila di balconet biru tua, mengayunkan kaki kirinya sampai menjatuhkan salah satu heels-nya dan mengenai kepala seorang pria.

"Hup! Sorry," gumam Candy. Ia menoleh ke bawah sambil menutupi mulutnya yang ternganga dengan tangan.

Orang itu tampak heran dengan apa yang baru saja terjadi. Ia memungut sebelah sepatu killer heels hitam milik Candy, sambil menoleh ke atas mencari sumber asalnya. Tetapi, tidak satu pun petunjuk ia dapatkan. Seketika, poof! Sepatu hitam itu menghilang dari tangannya. Ia semakin kebingungan, lalu berlari dengan wajah ketakutan.

"Apa sih, berlebihan," tutur Candy.

Candy kembali mengamati toko roti bernama Pierre tersebut. Namun anehnya, sejak pagi tak satu pun jejak dari gadis itu terlihat. "Ini benar kan toko rotinya?" Sambil menjentikkan jarinya, sebuah kertas perak muncul menampakkan peta menuju lokasi yang dimaksud.

"Is... ternyata salah toko."

Candy memutar jari telunjuknya, lalu seluruh roti pada toko itu berubah menjadi besar dan semakin besar. Orang-orang berlari ketakutan dan berhamburan menjauhi toko. Dengan ketukan killer heels-nya, Candy turun dari balconet dan berjalan melewati kerumunan itu, lalu menghilang meninggalkan harum permen pahit.

Di sisi lain, Ercilia mengamati garis takdir yang tiba-tiba saja semakin mengguncang toko mereka. "Apa lagi yang dia lakukan?" ucapnya sambil menyipitkan mata. Ercilia memanggil salah satu familianya, seekor burung pipit hijau yang dapat berbicara sepuluh bahasa. "Ikuti Candy, bereskan kekacauan apa pun yang ia lakukan," ucap Ercilia.

"Baik, Nona Ercilia," jawab burung pipit bernama Pio itu, segera mengepakkan sayapnya meninggalkan toko permen.

Akhirnya, Candy berhasil menemukan si Gadis Roti. Ia mencoba masuk ke dalam toko itu dan memperhatikannya dari dekat. Rambut pirang sebahu dan mata biru yang jernih telah memberikan banyak informasi untuk Candy. "Masih anak-anak, pantas saja mudah disihir rayuan manis dari mulut laki-laki," gumamnya sambil mengambil koran di dekat pintu masuk. Ia memilih tempat duduk dekat jendela yang ditutupi bunga begonia kuning. Tak lama, manusia yang ia cari muncul tepat waktu. "Akhirnya," gumam Candy lega.

Lihat selengkapnya