Dua minggu berlalu, secara bertahap rating toko permen mulai membaik. Beberapa dekorasi telah pulih, termasuk lukisan cream dan tembok cokelat liminal space menuju ruang rahasia mereka. Seperti biasa, toko permen mulai beroperasi ditandai keberadaan burung hantu yang mulai menampakkan diri. Tanda-tandanya adalah harum permen bubble gum yang manis serta bunyi lonceng pintu.
Kali ini, Ercilia-lah yang akan melayani service hari ini. Rok span kotak-kotak berwarna cokelat selutut dengan atasan blouse karamel, serta stoking hitam yang dibalut sepatu boots cokelat kayu, menambah kesan profesional dari Ercilia. Di tangannya sudah ada buku merah marun untuk mencatat seluruh data tiap pelanggan. Tak lupa ditemani Pio di sampingnya. Namun, hari ini bukanlah hari biasa. Salah satu teman Ercilia, sang penyihir waktu yaitu Madelyn, datang mengunjunginya.
"Aku sudah mencoba mengembalikan garis takdir. Memang tidak seperti semula, tapi setidaknya... tidak terlalu mengacaukan realita," ucap Madelyn.
"Terima kasih. Aku sangat terbantu," tutur Ercilia, menghela napas lega.
"Kok bisa sampai menggeser garis takdir?" tanya Madelyn, sambil berjalan ke arah davenport sofa bulu dan duduk menghadap Ercilia. Sementara Pio mengantarkan teh mawar untuk Madelyn.
"Ceritanya cukup panjang," ucap Ercilia.
Raut wajah Ercilia yang terlihat lelah dan pasrah membuat Madelyn tidak bertanya lebih dalam.
"Oh iya, apa ada kabar dari Lacia?" tanya Ercilia sambil membuka buku merah miliknya.
"Belum."
"Sampai kapan kita harus menunggu kabar tentang wanita itu?"
"Aku... tidak tahu. Lacia juga sudah mencoba menghubunginya. Asistennya saja tidak bisa mengetahui keberadaannya."
"Ah... semoga ia terlihat lagi suatu saat. Hmm... ngomong-ngomong, aku dengar akan ada penyihir baru? Aku penasaran, apa yang berani ia tukar sehingga mau menjadi penyihir."
"Penyihir ya, julukan yang bagus untuk makhluk tak terdefinisi seperti kita."
"Jangan terlalu murung. Nikmati saja," ucap Ercilia, menundukkan wajahnya sambil sedikit tersenyum.
Kring! Suara lonceng memecah percakapan mereka.
Seorang wanita muda dengan berbagai macam merek ternama menempel di tubuhnya masuk ke dalam toko sambil membenarkan floppy hat hitamnya yang miring. Wanita itu melepaskan kacamata hitamnya dan berkata, "Akhirnya," dengan raut wajah puas.
"Selamat datang, silakan ajukan permintaan Anda?"
Suara langkah sepatu boots-nya telah memenuhi ruangan. Wanita itu pun duduk di depan meja Ercilia, lalu menyilangkan kakinya. "Carikan aku calon suami, kalau bisa yang lebih muda ya," ucapnya sambil mengibaskan rambut pendeknya yang hitam pekat.