Sejak pagi, Candy sibuk menyiapkan dress dan blazer pink pastelnya untuk dikenakan. Ia juga membantu wanita itu dalam memilih pakaian kencannya. "Yap! Merah muda dan sepatu heels ini sudah sangat sempurna," ucap Candy, memberikan tepuk tangan meriah dalam menampilkan kostum wanita itu. Sementara Ercilia telah memberikan jadwal pada para pria, sesuai jam yang ditentukan untuk masing-masing. Tidak ada waktu untuk Ercilia membenarkan rambut yang belum disisir, atau pakaian yang ia kenakan nanti. Baginya, saat ini adalah penentu yang baik untuk mereka. Apakah rating akan turun atau naik?
Semua sudah berada di posisinya masing-masing. Hari ini, wanita kaya itu akan berkencan dengan seorang pria pemilik sebuah restoran di UK. Berambut pirang, mata biru dan tubuh yang atletis. Menjadi kebanggaan siapapun wanita yang mendapat kencan pertama dengannya. Ia membawa buket bunga mawar merah dan sebuah kalung perak. Duduk di sebuah restoran ternama di Paris, bahkan sangat sulit untuk mendapatkan reservasi. Sambil menunggu wanita itu ia memainkan telepon genggamnya, mengetuk-ngetuk kakinya ke lantai. Sehingga kita dapat mendengarkan suara dari sepatu mewah itu.
Tak lama kemudian, tibalah wanita itu. Ia turun dari mobil Citroen DS, mengenakan dress merah selutut yang elegan. "Semangat! Kau pasti berhasil," ucap Candy yang tidak ikut turun menemani wanita itu. Ia terdiam sejenak, menarik napas panjang dan membuangnya. Ia menggenggam tasnya lebih erat dari biasanya dan mulai berjalan menuju kursi yang sudah direservasi.
"Hai, aku Louise. Senang bertemu denganmu," ucap wanita itu.
"Martin."
Setelah duduk, pria bernama Martin itu langsung memberikan buket bunga dan kalung perak kepada Louise.
"Terima kasih," ucap Louise, sedikit tersenyum.
Di sisi lain, Ercilia sudah berada di lantai atas restoran itu. Mengawasi gerak-gerik pria itu sejak awal. Meminum teh krisan favoritnya yang hampir mendingin.
"Louise terlihat sedikit tidak nyaman...," gumam Ercilia.
"Sedikit tidak nyaman kenapa?" ucap Candy yang tiba-tiba saja berada di belakang Ercilia.
Ercilia hampir saja menumpahkan teh di tangannya. Ia menatap tajam pada Candy untuk memberi peringatan.
"Iya... iyaa, maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Tapi kenapa kamu bilang Louise tidak nyaman? Aku lihat dia baik-baik sa—" Ucapan Candy tiba-tiba saja terhenti, setelah melihat kalung perak yang ada di depan Louise. "Ha! Itu kalung perak edisi terbatas!"
"Lihat liurmu, hampir saja menetes," ucap Ercilia, menyipitkan matanya.
Ercilia kembali memperhatikan Louise dan Martin yang mulai menikmati makanan di hadapan mereka. Dari cara Martin memegang sendok, hingga ia berbicara.
"Pria itu menyentuh tangan Louise sembarangan," ucap Ercilia.
"Lho... bagus kan? Artinya dia pria yang romantis."
"Dan sekarang, ia dengan berani membenarkan pakaian Louise."
"Artinya dia perha— apa?"
Ercilia berbalik, berjalan menuruni tangga. Ia mengambil sebuah sampanye dari nampan yang dibawa oleh pelayan. Ia memegang sampanye tersebut dengan sangat natural, seakan sedang meminumnya. Perlahan dirinya mendekat ke arah meja Louise. Ia menghipnotis salah satu pelanggan untuk berdiri dan berjalan ke arah mereka. Dengan tepatnya, pelanggan itu dan Ercilia bertabrakan. Ercilia pun menumpahkan sampanye, ke arah Martin.
"Ha! Maafkan saya, tuan. Apa ANDA baik-baik saja?" tutur Ercilia lembut, seperti merasa bersalah.
"Apa-apaan kau?! Apa kau tidak punya mata?" ucap pria bernama Martin itu.
Dan restoran itu mulai semakin ramai dengan keributan kecil yang sangat menyelamatkan Louise.
Candy yang memperhatikan dari atas tertawa melihat Ercilia. Ia tidak menyangka seorang Ercilia bisa melakukan hal tersebut. Candy pun menjentikkan jari, memindahkan Louise ke rumahnya hanya dalam sekejap.
Ercilia yang menyadari itu langsung melotot ke arah Candy.
"Ah... aku tahu arti tatapannya: 'kau harus berhati-hati menggunakan sihir di depan orang banyak,' begitu kan?"
Candy bergegas pergi dari restoran itu untuk menghampiri Louise sebelum kencan berikutnya dimulai.
Sampai di kediaman Louise, Candy sedikit terkejut dengan persiapan Louise pada kencan berikutnya, seakan tadi bukanlah masalah.
"Baiklah, kalau kau sudah siap. Mari pergi ke kencan berikutnya." Candy menjentikkan jari, memindahkan Louise persis di depan sebuah gedung pameran seni.
Kali ini pria kedua datang menggunakan Bugatti, melepaskan kacamata hitamnya dan masuk ke dalam gedung pameran seni. Dengan percaya diri ia melangkah menghampiri Louise, mengajaknya bersalaman dan berkeliling untuk melihat-lihat lukisan. Mulut pria itu tak henti-hentinya berkicau mengenai pencapaiannya. Menunjukkan jam tangan berkilaunya, serta pakaian serba kuning miliknya.
"Hooo… senyumnya benar-benar dipaksa. Bukan dia juga orangnya," ucap Candy.