Jakarta, 2023.
Ai memutuskan mengakhiri hidupnya hari ini—sebagai penyiar radio.
Tujuh tahun Ai menjalani rutinitas yang sama: berangkat jam lima pagi, dua jam terjebak di jalan sambil mendengarkan podcast atau novel audio dan sarapan satu lembar roti gandum panggang, satu telur rebus disertai satu tumbler berisi iced americano, lalu memulai hari dengan siaran pukul sepuluh pagi hingga jam dua siang. Dilanjutkan rapat untuk brainstorming dengan tim Sone FM untuk program dua pekan ke depan. Ai kemudian menghabiskan sebagian sore nya di jalanan Jakarta setelah melewatkan beberapa jam di gym tepat seberang gedung kantornya.
Airina Poeti Kemala. Wanita ENTJ yang bermimpi menjadi seorang novelis sejak usianya sembilan tahun. Kali pertama ia membaca karya Sitta Karina, ia tahu apa cita-citanya. Kepala nya penuh beragam fiksi yang belum sempat ia tuliskan hingga usianya 32 tahun. Toko buku selalu menjadi tempatnya bermimpi lebih, terutama rak buku best seller. Suatu saat akan ada karyanya di tempat itu, janji pada dirinya setiap tahun baru dimulai. Dan hari ini, Ai bertekad memulai langkah baru menuju mimpi terbesarnya. Ia akan menulis dan terus menulis.
Satu kendala utama, Ai belum menemukan cerita apa yang akan ia tulis. Baginya, menghasilkan cerita terbaik adalah sebuah keharusan, karena ini adalah yang pertama dan bisa jadi kesempatan satu-satunya. Ai mengira bahwa menjadi penyiar radio dapat membuahkan inspirasi tersendiri melalui kisah para pendengar, nyatanya, tidak sesederhana itu. Tujuh tahun Ai lalui tanpa satu pun paragraf di kepala dan layar laptopnya.
“Gak waras lo, Bon!” Ai mendengar voice note yang dikirimkan Ute, rekan kerjanya di Sone FM. Ya, gue memang gila, sahut Ai pada dirinya sendiri. Orang waras mana yang menyia-nyiakan pekerjaan dengan gaji, lingkungan dan jam kerja yang ideal, di saat banyak orang lainnya berbondong-bondong mencari pekerjaan untuk bertahan hidup pasca Covid-19, Ai malah meninggalkan kesempatan itu. Ia mungkin gila, namun tidak bodoh. Semuanya telah diperhitungkannya untuk sampai pada keputusan ini. Kehidupan baru persis seperti imajinya sejak kecil. Hanya satu, ia butuh cerita.
“Ini bukan pertemuan pertama mereka. Gadis itu pasti lupa, atau bahkan tidak tahu. Tapi pria itu ingat sekali, ini adalah pertemuan mereka yang ketiga..”
Suara dari speaker yang dihubungkan dengan bluetooth handphone nya menghentikan kepulan lamunan Ai. Barisan kalimat barusan mengetuk perhatiannya.
“...pria itu pertama kali melihatnya di sebuah perjalanan, di dalam angkot putih jalur Riung-Dago. Perjalanan singkat yang diiringi alunan gitar dua pengamen muda, yang satu dengan kaos bertulis Sheila on 7 dan satu lagi sudah pudar sehingga tak tampak sablonannya. Tidak jelas apa lagu yang sedang dimainkan pengamen tersebut, namun di akhir pertunjukkan, salah seorang penumpang dengan semangat bertepuk tangan sambil berteriak,’Kalian keren!’.