Bandung, 2010.
Anak baru itu mengerikan. Sudah satu menit lebih ia tidak berkedip.
“Keiko Kasahara, dipanggil Kei saja,” murid baru itu berdiri tanpa ekspresi di depan kelas. Tidak butuh waktu lama bagi seluruh penghuni XII IPA 3 untuk menjadikannya magnet perhatian. Ada kah yang lebih unik daripada seorang gadis SMA berperawakan Indonesia-Jepang dengan aura dingin mencekam di kelas sehangat ini?
Rambut panjang Keiko, maksudnya Kei, tergerai menutupi bahu. Seragamnya tampak berbeda, ia mengenakan rok abu-abu selutut—di saat peraturan sekolah terbaru mewajibkan para siswi mengenakan rok model rample dengan panjang hingga betis. Ia membawa tote bag berwarna hitam yang tampak minim isinya dan mengenakan jaket varsity berwarna abu-abu bertuliskan Waseda University. Tatapannya tajam juga dingin, membuat siapa pun berpikir dua kali untuk melihatnya terlalu lama.
“Kamu bisa duduk di paling belakang atau di—sebelah Renada, di sana,” Bu Rosita atau yang lebih nyaman dengan sapaan Bu Ros menunjuk sebuah bangku kosong kedua dari belakang.
Almayra Renada. Gadis mungil berponi rata dengan tinggi 154 cm yang sedari tadi tegang dengan kehadiran Kei. “Halo, salam kenal ya…Renada, panggil Nada boleh biar gak ribet,” ucap Nada grogi sambil menunjuk dirinya sendiri. Kei menarik kursi kayu dan langsung duduk tanpa berkata apa pun apalagi menoleh ke arah suara. Tubuh Kei memiliki aroma kayu cendana segar atau bahasa kerennya, sandalwood, seolah-olah ia baru saja selesai berkelana menyusuri hutan pinus. Nada memperhatikan Kei diam-diam melalui ekor matanya, rambut hitam Kei lurus panjang dibiarkan tergerai persis ksatria wanita Jepang yang ada dalam bayangan Renada. Waktu kecil, ia sering menonton film-film produksi studio Ghibli karya Hayao Miyazaki dan Isao Takahata, film favoritnya tentu My Neighbor Totoro dan Kiki Delivery Service. Setiap tokoh wanita dalam film Ghibli kerap meninggalkan kesan mendalam dan jika harus menggambarkan figur Keiko Kasahara, maka parasnya secantik Putri Kaguya dengan aura setangguh Putri Mononoke.
“Ada apa?” tanya Kei merasa diperhatikan.
“Eh—su..suka Siomay gak?” Entah ide dari mana Nada memulai percakapan ajaib itu. Ia panik tertangkap basah oleh tatapan tajam Kei dan mencari bahan pembicaraan paling absurd.