Ini kali ke tiga Keiko pindah sekolah tahun ini. Tokyo, Jakarta, dan sekarang Bandung.
Ia sungguh lelah dengan seragam baru, guru baru, apalagi teman baru. Tiap kali dituntut menyesuaikan diri dengan lingkungan asing di sekitarnya. Untungnya Kei sudah sangat fasih akan semua itu. Sejak SD, ia sudah biasa pindah dari satu tempat ke tempat lainnya bersama Ayahnya, hanya berdua saja. Ibu Kei meninggal beberapa menit setelah Keiko lahir, ia tidak pernah berjumpa dengan Ibunya, Ningsih Gantari. Ayahnya, Akira Kasahara, menganggap Keiko adalah pengganti istrinya yang dikirim Tuhan, karena Kei hadir di saat Ningsih pergi. Dua-dua nya adalah hal yang paling berharga bagi Akira. Sampai sekarang pun Kei dapat merasakan betul betapa Otōsan begitu mencintai Ibu dan merindukannya setiap saat. Pria itu begitu setia, ia tidak pernah sekalipun melepaskan tangan Kei atau meninggalkannya sendiri, di situasi terberat apapun dalam hidup mereka. Ya, dalam hidupnya, Akira hanya memiliki Kei, begitu pula sebaliknya. Bagi Keiko, Akira adalah semestanya.
Kei berjanji pada dirinya tidak akan meninggalkan Akira sampai ia menemukan pria sebaik Ayahnya. Tidak harus tampan, kaya, ataupun berkuasa, cukup seseorang yang berhati mulia. Terdengar mustahil, tapi apa salahnya berharap. Sampai pada pagi di mana hari pertamanya di Safir Biru akan dimulai. Seperti biasa, Akira mengantarkan Keiko pergi ke sekolah menggunakan mobil Toyota Rush silver. Di lampu merah simpang Kiaracondong-Soekarno Hatta—yang dinobatkan sebagai lampu merah terlama sejagat raya, Kei memperhatikan sekitar dan mendapati seorang nenek tua dengan beberapa botol jamu di punggungnya serta dua tentengan besar hendak menyebrang ragu-ragu. Kei baru berniat membantunya saat tiba-tiba seorang pemuda berseragam SMA turun meninggalkan motornya tepat di depan zebra cross dan membantu membawakan semua barang nenek itu dan juga memegang tangannya untuk membantu menyeberang pelan-pelan. Mereka melintas tepat di depan mobil Akira dan Kei. Kei tidak sedetik pun melepaskan pandangannya dari sosok itu, pelajar SMA dengan helm bergambar bendera Inggris dan jaket jeans, sulit untuk menebak dari sekolah mana ia berasal.
Hingga beberapa saat kemudian, lampu berganti menjadi hijau, beberapa mobil terdengar mengklakson tidak sabar pelajar tersebut karena ia masih berada di ujung jalan dan motornya menghalangi pengguna jalan yang lain. Ia lalu segera berlari dan menunjukkan postur meminta maaf pada kendaraan-kendaraan di belakangnya sebelum kembali ke motornya. Sampai Vespa hitam itu melaju jauh dan tak nampak lagi, mata Kei masih mengikutinya. “Orangtuanya mendidik dia dengan baik,” Kei berkomentar dalam hati.
“Yang seperti itu sulit ditemukan hari ini,” ternyata Akira turut menyaksikan pemandangan hangat barusan. “Jadilah orang baik kalau sulit menemukannya,” pesan Ayahnya.
“Ya,” sahut Kei disertai anggukan kecil.
———————