“Raga naksir sama kamu Nad, kayaknya.”
Perkataan Sensen tadi pagi tidak henti-hentinya terngiang di telinga Nada. Sudah seminggu semenjak Nada menemukan benda yang tidak pernah ia kira Raga memilikinya : sekantong plastik berisi obat. Sekumpulan obat yang persis sama dengan milik Budenya ketika menjalani pengobatan melawan penyakit kanker sel darah putih. Nada ingat betul karena ia salah satu dari mereka yang selalu mengingatkan Bude untuk mengkonsumsi obat-obat tersebut tepat waktu.
Terus terang, Nada bingung harus bereaksi seperti apa. Apa ia harus bertanya langsung pada Raga? Apa ia harus pura-pura tidak pernah mendengar percakapan Dokter Ratna dan Raga di UKS? Apa ia harus bersikap biasa saja? Menjadi Renada si gadis riang yang biasa dikenal semua orang? Ditambah lagi dialognya dengan Sensen tadi pagi, saat murid yang lain belum hadir, membuat kepala Nada hari ini hanya dipenuhi oleh satu sosok: Raga.
“Seminggu ini kan aku mulai ngerekam kegiatan IPA 3 dan mau gak mau aku perhatiin kalian semua satu per satu,” Sensen membuka layar kecil handycam-nya. “Aku baru sadar Raga sering banget merhatiin kamu, Nad. Mau liat rekamannya?”
Sensen memperlihatkan layarnya sebelum Nada sempat mengiyakan. Dari layar kecil itu, tampak Nada yang baru saja mencuci seikat bunga segar pemberian Bu Ros untuk diletakkan di meja guru. Ia membawa sebuah pot kaca berisi air dan sekuntum bunga Seruni atau Chrysanthemum putih juga fuchsia menuju kelas saat tiba-tiba Raga memanggilnya. Ia membawa dua batang mawar putih sambil berkata sesuatu. Tidak terdengar jelas suara Raga dari speaker handycam Sensen, namun Nada ingat kala itu Raga berkata, “Ren, ketinggalan nih bunganya di wastafel.”
Nada menoleh dan memperhatikan bunga dalam genggaman Raga, “Loh, perasaan tadi udah dibawa semua?” Ia mendekat dan sempat melihat Raga curiga. “Makasih ya,” Nada berbalik polos tanpa mempertanyakan apa pun.
Melihat kembali rekaman itu, Nada tersadar. Pertama, bunga yang Raga bawa berbeda dengan jenis bunga dari Bu Ros. Kedua, untuk apa Raga masuk kamar mandi wanita dan mengambil bunga di wastafel? Seniat itu kah dia mengembalikkan bunga yang tertinggal ?