Sudah lima kali Nada mengutuk dirinya sendiri.
Nada tidak pernah terbiasa dengan peraturan Safir Biru yang mewajibkan seluruh murid mengenakan seragam Batik di hari Kamis. Seumur hidupnya, ia selalu meyakini bahwa Jumat adalah hari Batik. Selama ia tinggal di Kalimantan, hampir seluruh sekolah menerapkan aturan tersebut sehingga minggu pertama bersekolah di Bandung, ia tiba dengan seragam putih abu-abunya.
“Aya19 orang rumah yang bisa nganterin seragam Batik, Neng?” tanya Pak Ade, satpam Safir Biru yang selalu siap siaga setiap pagi dan sore di depan pagar sekolah.
“Wah, Bude dan Pakde saya kerja, Pak. Gak ada siapa-siapa di rumah,” jawab Nada panik.
“Yaudah, minggu depan jangan lupa pake batik ya, Neng,” Pak Ade tersenyum ramah, hal itu cukup menenangkan hati Nada.
“Nuhun Pak, ohya, nama saya Renada,” sahut Nada sopan ketika melewati pagar.
Nada memang dibiarkan masuk meskipun salah seragam, namun ia cukup tidak nyaman satu hari penuh menjadi perhatian seluruh sekolah karena mengenakan kemeja putih di antara lautan batik.
“Belum sempet beli seragam Batik, Nad?” tanya Brie sebelum pelajaran dimulai.