Banyak cinta yang belum menemukan bentuknya.
Tidak banyak tahu bahwa Sensen merupakan keturunan Keraton Mangkunegaran. Jika orang yang baru mengenalnya tidak tahu bawah ada gelar Raden Ayu di depan namanya, ia cukup memperkenalkan diri sebagai Senita Laksmi Diningrat atau cukup dipanggil Sensen. Ayahnya merupakan seorang pengusaha, Ibunya berprofesi sebagai pengacara, dan kakaknya menduduki jabatan tinggi sebuah perusahaan ternama. Seumur hidupnya, uang tidak pernah jadi perkara. Sensen tidak pernah menghabiskan waktu lama berpikir untuk membeli hal yang diinginkannya atau khawatir tidak punya cukup uang untuk membeli tiket pensi. Faktanya, Sensen merupakan orang pertama yang memiliki Blackberry Bold di seluruh Safir Biru, meskipun itu bukan sebuah kebanggaan baginya. Seringkali, ia justru terbebani dengan fakta bahwa keluarganya berlimpah harta karena kebanyakan orang yang tahu betul latar belakangnya mendekat untuk intensi tertentu.
Sejak kecil, Sensen dapat merasakan ketulusan seseorang sekedar melalui mata dan intonasi berbicara. Ketika melanjutkan SMA di Safir Biru pun ia meminta untuk didaftarkan tanpa embel-embel Raden Ayu dan kerap kali meminta orang tuanya untuk tidak hadir ketika hari pengambilan raport karena khawatir akan ada yang mengenal Bapak Andaru Adiwangsa dan Ibu Cempaka Estu Keswari. Maklum saja, wajah mereka cukup sering masuk majalah sebagai salah satu pasangan terkaya di Asia Tenggara. Apalagi kakak perempuannya, Raden Ayu Tanya Maharani Diningrat, yang tidak pernah keluar rumah tanpa tas Hermès Birkin dan sepatu Christian Louboutin andalannya.
Hingga Sensen bertemu dengan seorang gadis yang ia pikir tidak akan pernah ditemuinya di kehidupan ini. Gadis lugu nan polos yang melakukan segala hal dan memberlakukan siapapun dengan baik dan tulus tanpa pamrih. Almayra Renada adalah spesies langka di planet bumi ini yang harus dilindungi bersama.
Tidak heran Raga begitu menyukainya. Meskipun selalu tampil bercanda dan bertingkah konyol, banyak hal yang Raga lakukan diam-diam untuk melindungi atau sekedar berada di dekat gadis itu. Seperti awal semester, beberapa kali Nada datang terlambat karena satu hal dan Raga sengaja kelihatan telat supaya bisa menemaninya berdiri di lorong sekolah sampai sesi mengaji bersama melalui toa sekolah selesai. Atau saat satu kelas IPA 3 dihukum bersama karena bolos berjamaah untuk nonton ke bioskop dan Raga bersikeras meyakinkan Pak Agus bahwa Nada sedang demam karena tahu gadis itu mudah sekali mimisan di bawah sengatan matahari siang bolong. Atau tiap kali giliran piket Nada, Raga sengaja mengajak cowok-cowok IPA 3 lainnya bermain futsal untuk bisa menemani Nada pulang telat dan membantunya mengangkat kursi-kursi di kelas sekaligus menyapu. Tidak banyak yang menyadari hal itu karena Raga meyakinkan dunia bahwa Nada sekadar objek keusilan dan bercandanya, tapi Sensen dan handycam-nya menjadi saksi rasa yang nyata.