CANON

Afina Iskandar
Chapter #18

18 - Pukul delapan malam

“Saya baru tahu kalau orang Jepang doyan Roti Pandan.”

“Gue cuma laper,” ujar Kei. “...dan untuk informasi, orang Jepang gak cuma makan Sushi atau Mochi.”

“Saya gak pernah bilang begitu,” Sakti membela diri, “Padahal yang rasa Taro lebih enak.”

“Tetep paling enak kalau dikasih gratisan,” Kei mengunyah cepat roti tembem berwarna hijau itu. “Mau rasa Nattō sekalipun.”

“Saya pikir semua orang Jepang suka Nattō.”

“Gak semua orang Indonesia suka durian kan?” balas Kei. “Jangan kebanyakan berpikir, ngabis-ngabisin energi, belum tentu benar juga yang dipikirin.”

Sakti tersenyum kecil dengan perdebatan aneh tapi menyenangkan ini. “Ngapain ke sini lagi? Sudah habis rokoknya?”

“Cari teman ngobrol, kalau lagi kerja kan gak boleh ngobrol.”

“Di rumah—gak ada temen ngobrol?” Sakti bertanya ragu-ragu.

“Otōsan lagi perjalanan dinas,” jawab Kei sambil menghabiskan sisa terakhir roti Pandan di tangannya. “Kenapa? Keberatan nemenin ngobrol?”

“Ya, saya gak nyangka aja kamu suka ngobrol, di sekolah lebih banyak diem kayanya.”

Lihat selengkapnya