Dia yang paling sering membuat seisi kelas tertawa adalah
dia yang paling jago menyembunyikan sepi di hati.
“Ini cerita tentang badut kelas yang tidak pernah menyatakan perasaannya ke gadis yang sejak lama dia suka, tapi selalu menunjukkannya melalui tindakan-tindakan, meskipun tidak ada yang menganggapnya serius,” Ai mencoba merangkum ide cerita yang akan ditulis dalam satu paragraf pada pria di hadapannya.
Mas Sada hanya diam tanpa reaksi, matanya terpejam dan tangannya dilipat di depan dada. Ai melirik ke arah Ute yang sama bingungnya dengan dirinya. Rasa-rasanya, belum pernah Ai menemui manusia se-absurd Mas Sada. Tadi pagi, ketika pertama kali bertemu, pria itu sudah lebih dulu tiba di tempat mereka janjian, Two Hands Full, sebuah kedai kopi di daerah Dago, dengan secangkir air hangat, satu sachet susu kental manis, dan sebuah kindle di meja.
“Selamat siang Bang Sada,” Ute menyapa terlebih dahulu dengan intonasi khas-nya, “Sudah lama ya, Bang?”
“Oh iya, langsung duduk saja, tidak usah basa-basi,” sahut Mas Sada tanpa mengalihkan pandangan dari layar kindle-nya.
Ai memperhatikan Mas Sada lekat-lekat dan mencoba menerka usianya. Pria itu mengenakan kacamata berbingkai coklat tua, rambut bergaya curtain haircut, berkemeja biru muda dan jaket Jeans yang diletakkan di sandaran kursi. “Kayanya umurnya gak beda jauh sama gue,” Ai menerka-nerka dalam hati.
“Jadi ini teman yang pernah aku ceritakan, Bang, dia berencana menulis novel dan lagi mencari penerbit,” Ute membuka pembicaraan di suasana yang cukup canggung ini.
“Perkenalkan Mas, saya Airin, cukup dipanggil Ai,” Ai mengulurkan tangannya mencoba bersikap ramah.