“Semakin hari, kesempatan untuk bersamanya menjadi hal yang menyenangkan, entah karena dia orangnya, atau karena tahu bahwa ini tidak akan berlangsung lama.”
Ada dua hal yang membuat Nada tidak pernah suka menonton pertandingan futsal sebelumnya. Pertama, Nada tidak mengerti aturan mainnya, untuk apa memperebutkan satu bola yang tak berdaya? Kedua, kepalanya pernah beberapa kali terkena bola ketika sedang duduk di pinggir lapangan. Baginya, membosankan sekali menonton sesuatu yang tak ia nikmati dan pahami. Sampai hari ini. Nada sudah berdiri di antara siswi-siswi Safir Biru lainnya menanti pertandingan Futsal untuk acara ‘Class Meeting’. Ia punya satu alasan kuat berada di tempat ini, alasan yang cukup ia simpan sendiri dalam-dalam.
“Tumben paling depan,” Brie menghampiri Nada dengan tiga cireng di tangannya dan menyodorkan satu pada Nada.
“Orang-orang mungil kaya aku wajib paling depan, kalo gak ya yang keliatan cuma punggung.”
“Ini spot yang paling pas sih,” Sensen muncul bersama handycam-nya dari balik kerumunan siswi yang sedari tadi heboh membicarakan Sakti. “Kang Sakti mana ya?”, “Plis dong jadi kiper aja biar gampang ngeliatnya.”, “Kak Sakti ganteng banget kalau lagi pake seragam futsal.”
“Emang apa bedanya pake seragam sekolah sama baju futsal?” Nada bertanya-tanya sendiri.
“Bagi satu cireng dong, Brie. Tadi udah habis di kantin”
“Eiits, ini buat Kei, mana ya orangnya kok gak keliatan?”
“Emang dia makan gorengan?”