Semoga ia menikmati momentum kecil ini karena hanya ‘sementara’ yang bisa aku tawarkan padanya.
***
“Kok jadi diem?” Raga tampak heran dengan perubahan sikap Nada.
Nada sebatas menggeleng-gelengkan kepalanya memberi isyarat ‘gapapa’. Payah, ia tidak pernah pandai menyamarkan perasaannya. Bagaimana tidak, di kepala Nada, mendadak berputar jelas berbagai momen kala ia mendampingi Bude melawan penyakit ganas itu. Ketika Bude lemah tak berdaya dan kerap memuntahkan isi perut nya setiap usai kemoterapi. Ketika helai demi helai rambut Bude berjatuhan dan Bude bersikeras tetap mengenakan hijabnya di rumah bahkan saat tidur. Ketika tubuh Bude semakin hari semakin kehilangan massa dan semua bajunya tampak longgar. Ketika sinar yang sebelumnya selalu terpancar dari kedua mata Bude perlahan padam. Ketika harapan untuk bertahan samar dan nyaris musnah. Dan ketika-ketika lainnya yang tidak pernah nyaman untuk disingkap.
“Ke kantin yuk, Ren, makan siomay,” Raga tahu Nada tidak akan bisa menolak makanan tersebut.
Nada cuma tersenyum mengiyakan dan berjalan di sebelah Raga tanpa berani menatapnya. Ia khawatir tiap kali melihatnya, lelaki itu bisa tahu bahwa ia sedang mengasihaninya.
Sesampainya di Kanbera, singkatan dari ‘Kantin Bersama’ yang lebih sering ditulis Canberra agar terkesan mewah, Raga dan Nada duduk saling berhadapan.
“Hasil ujian Fisika nya jelek?” Raga masih penasaran, atau tepatnya, tidak nyaman melihat gadis di depannya mendadak murung. Suasana di Kanbera cukup ramai berhubung para penonton sekaligus peserta Class Meeting mencari asupan untuk mengisi ulang tenaga mereka.