Sakti dan Raga pertama kali bertemu di ruang guru SMP X.
Ketika itu, Raga dipanggil karena ketahuan bolos untuk kesekian kalinya, sedangkan Sakti diminta datang untuk mewakili sekolah sebagai salah satu murid berprestasi.
“Ini peringatan terakhir ya, Nuraga, mulut Bapak sudah kering nasihatin kamu terus,” ancam Pak Mulyadi yang sudah lelah melihat kelakuan Raga. “Padahal kamu cerdas, Nuraga, cuma bandelnya kelewatan.”
Pertemuan kedua mereka berlangsung di pinggir lapangan Basket, saat Raga sedang bermain gitar dengan beberapa teman sekelasnya dan Sakti menghampirinya, “Satya Bian Nuraga?”
Raga menoleh dan menghentikan permainannya, “Ya?”
Sakti langsung duduk berhadapan dengannya di antara murid-murid yang tidak begitu ia kenal, “Tadi Pak Adi bilang, kamu ngundurin diri dari Olimpiade Fisika?”
“Ohh, iya,” jawab Raga santai. “Capek kalau harus latihan setiap hari, mending main futsal.”
“Perwakilan dari sekolah kita kurang satu orang, kalau kamu ngundurin diri, sekolah kita jadi gak bisa berpartisipasi.”
“Ya tinggal cari satu orang lagi atuh.”
“Gak cukup waktunya, Pak Adi keukeuh22 harus kamu yang ikut.”
“Lah ya Pak Adi aja atuh yang gantiin aing, hehehe.”