Bertahan tidak akan terasa melelahkan apabila bersama dengan orang yang tepat.
***
Ujian Nasional tinggal empat bulan lagi. Ketegangan dan tensi di antara murid Safir mulai terasa. Tadi pagi Bu Ros memanggil Nada untuk berbicara empat mata mengenai masa depannya.
“Jadi kamu sudah tahu mau ambil jurusan apa, Renada?”
Nada berpikir beberapa saat sebelum memberi jawaban, “Jujur, saya—masih bingung, Bu.”
Nada sadar bahwa nilai-nilainya sejak semester awal tidak akan memudahkannya memilih jurusan ketika kuliah kelak. Ia bukan siswi cemerlang dan kerap kali ikut remedial untuk memperbaiki nilainya yang di bawah rata-rata. Bu Ros menatapnya lembut sambil tersenyum, kekhawatiran gadis di depannya tentu tertangkap oleh radarnya.
“Ini, Ibu sudah kumpulkan buku latihan UN dari tahun-tahun sebelumnya, di bagian kunci jawaban sudah Ibu beri penjelasan tambahan biar lebih mudah dimengerti.” Setumpuk buku tebal yang diletakkan Bu Ros di meja, beberapa tampak usang dan berkerut. “Pasti sering digunakan Bu Ros untuk murid-muridnya,” ujar Nada dalam hati.
“Ibu punya kenalan alumni Safir Biru yang sekarang sudah buka bimbingan belajar sendiri. Nanti Ibu kasih kontaknya ya biar kamu bisa konsultasi langsung sama dia tentang dunia perkuliahan, kira-kira jurusan apa yang sesuai dengan minat dan bakat kamu. Kamu juga bisa ambil kelas di sana kalau mau,” kali ini Bu Ros menyodorkan sebuah kartu nama dan brosur berwarna hijau.
“Terima kasih ya, Bu,” jawab Nada pelan. “Saya cuma—gak yakin bisa berhasil seperti teman-teman saya yang lain. Maklum ya Bu, sejak SD saya gak pernah ranking dan harus berjuang mati-matian supaya dapat nilai bagus.”