Sore itu lebih terasa teduh daripada hari-hari sebelumnya.
Sudah beberapa minggu terakhir sesi pemantapan dimulai yang mana dilakukan pendalaman materi untuk Ujian Nasional setelah kegiatan kelas usai. Di minggu pertama, semua murid masih semangat mengikuti sesi ini, namun seiring berjalannya waktu, satu per satu mulai jenuh dengan tumpukan materi yang harus ditelan bulat-bulat dalam waktu singkat.
Nada yang sudah lelah mengerjakan soal latihan sedari tadi melipat tangannya di meja dan membaringkan kepala di atasnya sambil menatap Kei yang tampak serius, “Gimana sih rasanya jadi orang pintar, Kei?”
Kei tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah Nada dan hanya memberi tanggapan dengan tatapan khas-nya.
“Gimana rasanya jadi nomor satu dalam segala hal?” tanya Nada lagi. Pertanyaan itu sebenarnya tidak menuntut jawaban, ia hanya butuh mengistirahatkan pikirannya sejenak dari hiruk pikuk materi ujian dan mengalihkan ke hal lain.
“Pertanyaan itu kayaknya lebih pantas ditujukkan buat Sakti,” jawab Kei di luar dugaan.
Di saat yang bersamaan, orang yang baru saja dibicarakan tiba-tiba masuk kelas dengan sebuah kertas berukuran besar dan langsung menuju ke dinding belakang kelas untuk menempelkannya. Sakti kemudian meraih spidol dari kantung seragamnya dan menuliskan ‘Dinding impian’ di bagian atas. Lalu ia menuliskan nama lengkapnya dilengkapi tanda tangan dan tulisan ‘FK UI’ di bawahnya.
“Teman-teman, di dinding ini, coba kalian tulis jurusan impian kalian di perkuliahan nanti. Bayangin aja kalau kita ketemu setahun dari sekarang, kalian mau memperkenalkan diri kalian seperti apa..”
Usai menjelaskan, Sakti memperhatikan Raga dengan tatapan yang sulit dijelaskan dan menyerahkan spidol di tangannya, “Dimulai dari maneh.”
Nada menyadari reaksi Raga yang kikuk. Setahun dari sekarang, apa Raga memilikinya? Entah dari mana datangnya pertanyaan itu, yang tentu membuat gemuruh dalam hatinya.